Menggali Makna Al-Maidah Ayat 20 sampai 30

Pengantar Kisah Bani Israil dan Perintah Ilahi

Surat Al-Maidah, yang berarti "Hidangan", adalah salah satu surat terpanjang dalam Al-Qur'an dan sarat akan muatan hukum serta kisah-kisah penting, terutama yang berkaitan dengan Bani Israil dan kerasulan Nabi Musa serta Nabi Muhammad SAW. Bagian dari surat ini, yaitu Al-Maidah ayat 20 sampai 30, menyimpan narasi dramatis mengenai respons kaum tersebut terhadap perintah Allah dan konsekuensi dari penolakan mereka.

Ayat-ayat ini dibuka dengan teguran langsung kepada kaum Nabi Musa AS terkait penolakan mereka memasuki tanah suci yang dijanjikan Allah. Ini adalah titik balik penting dalam sejarah spiritual mereka, di mana ketakutan dan pembangkangan mengalahkan ketaatan.

QS. 5

Simbol petunjuk dan tanah yang dijanjikan.

Teks dan Makna Al-Maidah Ayat 20-24

Pada ayat-ayat awal rentang ini, Allah mengingatkan mereka tentang nikmat yang telah diberikan, termasuk diutusnya para Nabi dari kalangan mereka dan pemberian kerajaan serta ilmu. Namun, respons mereka adalah penolakan memasuki tanah yang dijanjikan Allah karena merasa lemah dan takut menghadapi penduduknya yang kuat.

[20] Yā qawmi-dkhulū l-qodusal-lātī katabal-lāhu lakum wa lā tartaddū 'alā a'qābikum fatanqalibū khāsirīn(a).

Wahai kaumku, masuklah ke tanah suci (Baitul Maqdis) yang telah dijanjikan Allah untukmu, dan janganlah kamu berbalik ke belakang (menolak perintah-Nya), nanti kamu akan menjadi orang-orang yang merugi.

Penolakan ini berujung pada hukuman ilahi, di mana mereka diwajibkan berdiam (berkelana) di padang Tih selama empat puluh tahun. Ini adalah pelajaran keras tentang pentingnya keberanian dan kepatuhan terhadap perintah Allah, meskipun tantangannya besar.

Kisah Nabi Musa dan Perkataan Kaumnya (Ayat 25-26)

Bagian selanjutnya menyoroti dialog antara Nabi Musa AS dengan Allah setelah kaumnya menolak. Nabi Musa memohon agar Allah memisahkan antara beliau dan mereka yang fasik. Kemudian, Allah menetapkan hukuman empat puluh tahun pengembaraan tersebut.

[26] Qāla fa-innan-hā muḥarramatun 'alaihim arba'īna sanatan yataihūna fīl-ard, falā ta'sal 'alal-qawmil-ẓālimīn(a).

Tuhan berfirman: "Sesungguhnya negeri itu haram atas mereka selama empat puluh tahun, mereka akan mengembara di bumi (padang Tih), maka janganlah kamu bersedih hati terhadap (nasib) orang-orang yang fasik itu."

Ayat ini menegaskan bahwa keengganan mereka untuk berjuang demi janji Allah menyebabkan mereka terperangkap dalam kebingungan geografis dan spiritual selama hampir empat dekade. Periode empat puluh tahun ini menjadi masa pemurnian (tafkir) bagi generasi baru yang akan menggantikan generasi yang keras kepala tersebut.

Kisah Habil dan Qabil (Ayat 27-30)

Bergeser dari kisah Bani Israil, Al-Maidah ayat 20 sampai 30 mencapai klimaksnya dengan mengisahkan tragedi pertama pembunuhan di muka bumi antara dua putra Nabi Adam AS, Habil dan Qabil, yang terjadi setelah kisah pengurbanan mereka.

[27] Watlu 'alaihim naba'abnay Ādama bil-ḥaqqi idh qarrabā qurbānan fa-tuqubbila min aḥadihimā wa lam yataqabbal min al-ākhar, qāla la-aqtulannaka, qāla innamā yataqabbalullāhu min al-muttqīn(a).

Dan ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) dengan sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata (Habil): "Sesungguhnya Allah hanya menerima kurban dari orang-orang yang bertakwa."

Narasi ini menekankan perbedaan mendasar antara niat yang tulus (takwa) dan niat yang buruk. Qabil cemburu dan diliputi amarah karena pengorbanannya ditolak. Ini mengajarkan bahwa ibadah atau perbuatan baik harus didasari ketulusan dan ketakwaan, bukan sekadar formalitas.

Ayat 30 kemudian menggarisbawahi konsekuensi fatal dari keputusan Qabil. Ketika ia benar-benar membunuh saudaranya, ia termasuk golongan orang yang merugi, dan perbuatan itu menjadi sunnah buruk pertama yang ditiru oleh keturunannya yang zalim.

Pelajaran Penting dari Al-Maidah Ayat 20-30

Rentang ayat ini memberikan pelajaran multidimensi. Pertama, pentingnya ketaatan penuh terhadap perintah Allah, meskipun menghadapi kesulitan fisik (seperti menghadapi musuh di tanah suci). Kedua, keberanian moral lebih utama daripada kenyamanan duniawi. Generasi yang menolak berjuang harus menanggung konsekuensi berupa terbuang di padang Tih.

Ketiga, ayat-ayat penutup menegaskan pentingnya niat dalam beribadah. Kualitas amal dilihat dari kualitas hati pelakunya (takwa). Kisah Habil dan Qabil berfungsi sebagai peringatan abadi bahwa kecemburuan dan iri hati dapat mendorong seseorang melakukan kejahatan besar, sementara ketakwaan menghasilkan penerimaan ilahi. Mempelajari Al-Maidah ayat 20 sampai 30 adalah mengkaji akar masalah pembangkangan dan pentingnya kemurnian hati dalam sejarah peradaban manusia.

🏠 Homepage