Dalam tradisi Islam, istilah Isra Surat merujuk pada perjalanan malam luar biasa yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini merupakan salah satu mukjizat terbesar dan paling sakral yang diterima Rasulullah, sebagaimana disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, khususnya dalam Surah Al-Isra (ayat 1).
Isra adalah perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Yerusalem. Perjalanan ini terjadi dalam satu malam. Peristiwa ini diikuti oleh Mi'raj, yaitu kenaikan Nabi dari Yerusalem menuju lapisan-lapisan langit dan Sidratul Muntaha. Meskipun sering dibicarakan bersamaan, Isra dan Mi'raj adalah dua rangkaian peristiwa yang berbeda namun terintegrasi dalam satu perjalanan agung tersebut.
Keajaiban Isra ini terletak pada kecepatan dan jarak tempuh yang dilalui. Dalam kurun waktu kurang dari sepertiga malam, Nabi berpindah dari Hijaz hingga ke jantung Palestina. Bagi manusia biasa, perjalanan sejauh itu memerlukan waktu berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan dengan moda transportasi saat itu.
Para ulama menafsirkan bahwa mukjizat ini adalah penegasan atas status kenabian Muhammad SAW dan sekaligus bukti bahwa segala sesuatu mungkin terjadi atas kehendak dan kuasa Allah SWT. Perjalanan ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga mengandung dimensi spiritual yang mendalam. Di Yerusalem, Nabi memimpin shalat bersama para nabi terdahulu, menunjukkan kesinambungan risalah kenabian dari Adam hingga Muhammad.
Peristiwa Isra Surat membawa banyak pelajaran penting bagi umat Islam. Salah satu hikmah utama adalah penguatan hati Nabi Muhammad setelah melalui tahun-tahun yang penuh cobaan dan penolakan di Makkah. Perjalanan ini adalah penghiburan ilahi, sebuah 'refreshment' spiritual sebelum beliau diangkat untuk menerima syariat shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.
Selain itu, Isra menggarisbawahi kesatuan umat dan ajaran Islam. Masjidil Aqsa, sebagai tujuan Isra, memiliki kedudukan yang sangat tinggi setelah Masjidil Haram dan Masjid Nabawi. Mengunjungi dan menghormati tempat ini adalah bagian integral dari akidah seorang Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang mencakup seluruh jejak para nabi sebelumnya.
Sebagaimana disebutkan, mukjizat ini diabadikan dalam Al-Qur'an pada Surah Al-Isra, ayat pertama:
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidilharam ke Al-Aqsa yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebahagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. 17:1)
Ayat ini memuat inti dari Isra. Kata "diperjalankan" (أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ) menekankan bahwa perjalanan itu adalah atas kehendak dan kekuatan ilahi. Tujuannya jelas: untuk menunjukkan tanda-tanda kebesaran Allah kepada Nabi. Ayat ini mengokohkan peristiwa tersebut sebagai bagian dari wahyu, bukan sekadar kisah yang bersifat legenda.
Dalam sejarah Islam, Isra dan Mi'raj menjadi landasan bagi penetapan kewajiban shalat lima waktu yang wajib dilakukan setiap Muslim. Shalat adalah tiang agama, dan anugerah ini diberikan langsung melalui perjalanan tertinggi tersebut. Peristiwa ini juga sering dijadikan argumen utama dalam kajian mengenai karamah (kemuliaan) para wali dan nabi, menunjukkan bahwa batasan fisik alam semesta dapat dilampaui oleh intervensi ilahi.
Setiap tahun, umat Islam memperingati malam Isra dan Mi'raj sebagai momen refleksi mendalam tentang kekuatan iman dan posisi unik Nabi Muhammad SAW. Ini adalah pengingat bahwa di balik kesulitan duniawi, terdapat janji ganjaran dan keajaiban yang tak terhingga dari Sang Pencipta. Memahami Isra Surat berarti menghayati sejauh mana Allah meninggikan derajat Rasul-Nya dan betapa pentingnya komunikasi spiritual antara hamba dan Tuhan.
Peristiwa Isra Surat tetap menjadi pilar keyakinan yang menguatkan tali penghubung antara sejarah kenabian dan praktik keagamaan kontemporer. Ia membuka cakrawala pemahaman kita tentang kuasa Allah yang melampaui dimensi ruang dan waktu yang kita kenal.