Ilustrasi visualisasi tiupan ruh
Surat Al-Hijr, surat ke-15 dalam Al-Qur'an, mengandung banyak pelajaran penting mengenai tauhid, kisah para nabi, dan kebesaran Allah SWT. Ayat 29 ini secara spesifik menyoroti momen paling agung dalam penciptaan manusia, yaitu Nabi Adam AS. Ayat ini merupakan bagian dari narasi panjang di mana Allah memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam setelah penciptaannya selesai. Perintah ini menegaskan kemuliaan kedudukan manusia yang diciptakan langsung oleh Allah.
Frasa kunci dalam ayat ini adalah "وَنَفَخْتُ فِيهِ مِنْ رُوحِي" (dan telah meniupkan kepadanya roh ciptaan-Ku). Penekanan pada "roh ciptaan-Ku" (min Rūḥī) menunjukkan keistimewaan dan kedekatan ruh tersebut dengan Sang Pencipta. Ruh ini bukan sekadar unsur biologis, melainkan percikan ilahi yang memberikan potensi kesadaran, kehendak bebas, dan kemampuan untuk mengenal Tuhannya—hal yang tidak dimiliki oleh ciptaan lain dalam bentuk yang sama.
Ayat ini diawali dengan "فَإِذَا سَوَّيْتُهُ" (Maka apabila Aku telah menyempurnakan bentuknya). Proses penyempurnaan fisik Adam AS adalah puncak dari rangkaian penciptaan yang detail. Ini mencakup pembentukan fisik yang sempurna secara anatomi, proporsional, dan siap menerima karunia termahal: ruh. Dalam konteks yang lebih luas, penyempurnaan ini juga bisa merujuk pada kesiapan Adam sebagai khalifah di bumi, dibekali potensi intelektual dan moral.
Penyempurnaan bentuk ini menjadi prasyarat sebelum peniupan ruh. Ini mengisyaratkan bahwa bejana (jasad) harus dipersiapkan dengan baik sebelum wadah yang mulia (ruh) dimasukkan. Ketika kesempurnaan fisik itu tercapai, Allah melaksanakan tindakan yang mengistimewakan Adam di antara semua makhluk: pemberian ruh.
Perintah "فَقَعُوا لَهُ سَاجِدِينَ" (maka tundukkanlah dirimu sujud kepadanya) adalah penegasan posisi Adam sebagai makhluk yang memiliki keutamaan. Sujud di sini dipahami oleh mayoritas ulama sebagai sujud penghormatan (tahiyyah) atau penghormatan atas kedudukan yang dianugerahkan Allah, bukan sujud ibadah yang hanya berhak bagi Allah semata. Sujud ini merupakan pengakuan formal oleh para malaikat atas keagungan ciptaan Allah yang baru ini, yang kelak akan memikul amanah kekhalifahan.
Penolakan Iblis (yang berasal dari golongan jin) untuk bersujud dari ayat-ayat setelahnya menunjukkan kesombongan dan penolakan terhadap ketetapan ilahi. Ini menjadi pelajaran abadi bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar antara seorang hamba dan kebenaran serta perintah Tuhan.
Ruh yang dihembuskan dari Allah adalah inti dari kemanusiaan. Ia adalah sumber kesadaran, intuisi moral, dan kapasitas untuk beriman. Dengan ruh inilah manusia mampu memikul amanah (al-Amanah) yang ditawarkan kepada langit, bumi, dan gunung, yang ditolak oleh mereka karena beratnya (sebagaimana disebutkan dalam Al-Ahzab ayat 72).
Memahami Al-Hijr ayat 29 mengingatkan kita akan tanggung jawab besar yang diemban setiap manusia. Kita bukan sekadar kumpulan materi; kita adalah wadah bagi sesuatu yang berasal langsung dari kehendak ilahi. Menghargai potensi diri berarti berusaha menyucikan ruh tersebut melalui ketaatan, ilmu, dan amal saleh, sehingga kita layak menyandang kehormatan yang telah ditetapkan Allah sejak awal penciptaan kita. Ayat ini adalah deklarasi ilahi tentang martabat manusia.