Jangan Mendekati Zina: Menjaga Kesucian Diri dan Keluarga

Peringatan Penting: Islam melarang keras perbuatan zina, dan bahkan melarang segala bentuk tindakan yang mengarah pada perbuatan tersebut.
JANGAN DEKATI

Ilustrasi: Menjauhi zona larangan

Larangan yang Tegas dan Jelas

Dalam ajaran agama dan norma sosial yang kuat, perbuatan zina (perhubungan seksual di luar ikatan pernikahan yang sah) adalah dosa besar. Namun, ajaran tersebut tidak berhenti pada pelarangan perbuatan itu sendiri. Prinsip yang ditekankan adalah "Janganlah kamu mendekati zina". Frasa ini memiliki makna yang sangat mendalam, yaitu perintah untuk menjauhi segala pintu, jalan, dan faktor yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam lembah perbuatan tersebut.

Mendekati zina berarti terlibat dalam segala hal yang menjadi pendahulu atau pemicu perbuatan keji tersebut. Ini bukan hanya tentang aksi fisik, melainkan juga tentang batasan interaksi, cara pandang, dan lingkungan pergaulan. Mengapa larangan ini begitu tegas? Karena kerusakan yang ditimbulkan oleh zina sangat luas, tidak hanya merusak individu pelakunya, tetapi juga meruntuhkan tatanan keluarga, merusak keturunan, dan menimbulkan keresahan sosial.

Jalan Setapak Menuju Kehancuran

Perbuatan dosa sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang tampak tidak berbahaya. Pandangan mata yang liar, perkataan yang mesra tanpa batas, pergaulan yang terlalu intim antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram, atau bahkan konsumsi media yang berbau porno, semuanya adalah "jalan setapak" menuju jurang zina. Jika kita tidak waspada pada langkah pertama, sangat mudah bagi syahwat dan godaan untuk mengambil alih kendali.

Bayangkan sebuah tebing curam. Larangan utama adalah jangan melompat. Tetapi, jika seseorang berjalan terlalu dekat ke tepi jurang, mengabaikan rambu peringatan, dan terus melangkah maju, peluang untuk tergelincir atau sengaja terjun menjadi sangat besar. Mendekati zina adalah tindakan berjalan mendekati tepi jurang tersebut. Islam mengajarkan kita untuk membangun pagar pelindung jauh sebelum kita mencapai batas berbahaya itu.

Membangun Benteng Pertahanan Diri

Bagaimana kita bisa benar-benar "tidak mendekati" zina? Ini memerlukan usaha sadar untuk mengelola tiga aspek penting dalam hidup: mata, lisan, dan pergaulan.

  1. Menjaga Pandangan (Mata): Mata adalah gerbang utama. Rasa ingin tahu dan ketertarikan sering kali berawal dari pandangan yang tidak terkontrol. Menundukkan pandangan ketika bertemu dengan lawan jenis yang bukan mahram adalah perisai pertama. Jika mata dijaga, hati cenderung akan aman dari godaan yang tidak perlu.
  2. Mengontrol Lisan dan Interaksi: Hindari obrolan yang bersifat menggoda, berlebihan, atau mendiskusikan hal-hal intim yang tidak pantas. Interaksi harus didasari oleh kebutuhan yang jelas (seperti pekerjaan atau pendidikan) dan harus selalu dijaga dalam koridor kesopanan dan profesionalisme.
  3. Memilih Lingkungan (Pergaulan): Lingkungan sangat mempengaruhi perilaku. Bergaul dengan teman-teman yang memiliki moralitas tinggi dan komitmen terhadap kesucian diri akan menjadi dukungan kuat. Sebaliknya, berada di lingkungan yang permisif akan sangat memudahkan terjerumus.

Konsekuensi Jangka Panjang

Zina tidak hanya menimbulkan penyesalan sesaat, tetapi dampaknya bisa menghantui seumur hidup. Secara spiritual, pelakunya kehilangan ketenangan batin dan keberkahan. Secara sosial, hal ini dapat menyebabkan aib, putusnya hubungan kekeluargaan, dan dampak hukum (jika ada).

Selain itu, perlu diingat bahwa perbuatan zina seringkali mengakibatkan kerusakan pada generasi mendatang, entah itu melalui anak yang lahir di luar nikah atau trauma psikologis yang diwariskan. Oleh karena itu, menjauhi segala bentuk godaan adalah bentuk tanggung jawab kita terhadap diri sendiri, orang tua, calon pasangan, dan keturunan kita di masa depan. Komitmen untuk "tidak mendekati" adalah komitmen untuk menjaga kemuliaan diri hingga bertemu jodoh yang sah.

🏠 Homepage