Visualisasi sederhana dari agen penyebab AIDS.
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan stadium akhir dari infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Untuk memahami penyebab AIDS, kita harus terlebih dahulu memahami peran krusial dari virus yang mendahuluinya, yaitu HIV. AIDS bukanlah penyakit yang diturunkan atau muncul tanpa sebab; ia adalah sindrom yang timbul akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang parah yang disebabkan oleh infeksi HIV jangka panjang.
HIV adalah retrovirus yang secara spesifik menargetkan dan menghancurkan sel-sel kunci dalam sistem kekebalan tubuh manusia. Sel yang paling menjadi sasaran utama HIV adalah sel T helper CD4+ (limfosit T CD4). Sel-sel ini sangat penting karena mereka bertindak sebagai "komandan" yang mengatur respons imun tubuh, memberi sinyal kepada sel-sel lain (seperti sel B dan sel pembunuh alami) untuk menyerang patogen atau infeksi.
Setelah HIV masuk ke dalam tubuh, ia memasuki sel T CD4+ dan mereplikasi dirinya menggunakan mesin sel inang tersebut. Proses replikasi ini akhirnya menyebabkan sel T CD4+ mati atau dihancurkan ketika virus baru dilepaskan untuk menginfeksi sel lain. Tahap ini adalah penyebab utama penurunan fungsi kekebalan tubuh.
Penyakit AIDS bukanlah diagnosis yang langsung ditegakkan saat seseorang pertama kali terinfeksi HIV. Infeksi HIV biasanya melalui beberapa tahapan yang menunjukkan progresivitas kerusakan sistem imun:
Dalam beberapa minggu pertama setelah paparan, virus bereplikasi dengan cepat. Banyak orang mungkin mengalami gejala mirip flu karena tubuh mulai memproduksi antibodi terhadap HIV. Tingkat viral load (jumlah virus dalam darah) sangat tinggi pada fase ini.
Fase ini bisa berlangsung bertahun-tahun, bahkan hingga satu dekade atau lebih, tanpa gejala yang jelas. Meskipun tampak sehat, virus terus bekerja secara diam-diam, menghancurkan sel T CD4+ secara bertahap. Pada tahap ini, orang yang terinfeksi masih dapat menularkan virus.
AIDS didefinisikan ketika jumlah sel T CD4+ seseorang turun di bawah batas kritis (biasanya kurang dari 200 sel per milimeter kubik darah) ATAU ketika seseorang didiagnosis dengan setidaknya satu jenis penyakit infeksi oportunistik (IO) atau kanker tertentu yang langka terjadi pada orang dengan sistem imun yang sehat.
Penyebab spesifik yang mengubah status dari sekadar terinfeksi HIV menjadi AIDS adalah defisiensi imun yang parah. Ketika jumlah sel T CD4+ telah runtuh di bawah ambang batas tertentu, tubuh tidak lagi mampu melawan infeksi yang biasanya mudah ditangani oleh sistem imun yang utuh. Penyakit yang muncul akibat kegagalan sistem imun inilah yang menjadi penanda AIDS.
Penyebab penyakit oportunistik ini meliputi:
Intinya, penyebab penyakit AIDS adalah kegagalan sistem imun total akibat replikasi berkelanjutan dan penghancuran sel T CD4+ oleh virus HIV. Tanpa pengobatan antiretroviral (ARV), mayoritas individu yang terinfeksi HIV akan berkembang menjadi AIDS karena tidak adanya pertahanan internal melawan mikroorganisme yang ada di lingkungan sekitar.
Penting untuk dicatat bahwa HIV tidak menular melalui kontak biasa (berjabat tangan, berpelukan, atau berbagi makanan). Penularan terjadi ketika cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi virus tinggi masuk ke aliran darah orang lain. Faktor risiko utama penularan HIV meliputi:
Dengan adanya pengobatan ARV modern, individu yang hidup dengan HIV dan mengonsumsi obat secara teratur dapat mempertahankan jumlah virus yang sangat rendah (undetectable) sehingga mereka tidak menularkan virus kepada pasangan mereka (U=U, Undetectable = Untransmittable). Ini menegaskan bahwa meskipun HIV adalah penyebabnya, perkembangan menuju AIDS kini dapat dicegah dengan intervensi medis yang tepat.