Air mani, atau semen, adalah cairan kompleks yang dikeluarkan oleh pria selama ejakulasi. Cairan ini memiliki peran biologis yang sangat krusial, yaitu sebagai media transportasi bagi sperma untuk mencapai sel telur selama proses reproduksi. Walaupun seringkali hanya dilihat dari fungsinya yang paling utama, komposisi kimia dan fisik air mani jauh lebih beragam dan menarik untuk dipelajari.
Secara umum, ejakulat terdiri dari dua komponen utama: sel sperma dan cairan seminal plasma. Perlu diketahui bahwa sperma sendiri hanya menyumbang kurang dari 5% dari total volume ejakulasi. Sisanya adalah plasma seminal yang berfungsi melindungi, menutrisi, dan memfasilitasi pergerakan sperma.
Komponen terbesar dalam air mani adalah air, yang biasanya mencapai 80 hingga 90 persen dari volume total. Kehadiran air sangat penting untuk menjaga viskositas (kekentalan) yang tepat, memastikan sperma dapat berenang dengan lancar tanpa mengalami dehidrasi setelah dikeluarkan dari tubuh.
Salah satu karbohidrat paling vital dalam air mani adalah fruktosa. Kelompok kelenjar prostat dan vesikula seminalis memproduksi gula ini dalam jumlah signifikan. Fruktosa berfungsi sebagai sumber energi eksklusif bagi sperma. Dalam lingkungan vagina yang relatif asam, sperma membutuhkan energi cepat untuk melakukan motilitas (pergerakan) jarak jauh menuju tuba falopi. Kadar fruktosa yang rendah bisa menjadi indikasi adanya masalah pada vesikula seminalis.
Cairan seminal plasma kaya akan berbagai protein dan enzim. Beberapa protein penting meliputi protein koagulasi dan dekoagulasi. Segera setelah ejakulasi, air mani akan menggumpal (koagulasi) selama beberapa menit—ini membantu semen tetap berada di dekat leher rahim. Kemudian, enzim seperti PSA (Prostate-Specific Antigen) akan mencairkan kembali gumpalan tersebut (dekoagulasi) agar sperma dapat bergerak bebas.
Air mani mengandung berbagai mineral penting yang membantu menjaga keseimbangan pH dan mendukung fungsi sperma. Contohnya termasuk seng (zinc), kalsium, magnesium, dan kalium. Seng, khususnya, memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas DNA pada kepala sperma dan memiliki sifat antibakteri yang membantu menjaga lingkungan yang sehat.
Lingkungan vagina secara alami bersifat asam (pH rendah), yang sangat mematikan bagi sperma. Oleh karena itu, cairan mani mengandung zat penetralisir seperti bikarbonat dan fosfat untuk meningkatkan pH semen menjadi sedikit basa (sekitar pH 7.2 hingga 8.0). Perlindungan pH ini sangat penting untuk kelangsungan hidup sperma hingga mereka memasuki serviks.
Selain fungsi pengiriman sperma, air mani juga memiliki fungsi sekunder namun penting dalam sistem reproduksi wanita. Cairan ini mengandung zat anti-inflamasi dan imunomodulator. Zat-zat ini bekerja untuk menekan respons imun sistem reproduksi wanita terhadap sperma yang dianggap sebagai benda asing. Tanpa mekanisme penekanan ini, tubuh wanita mungkin akan menyerang dan membersihkan sperma sebelum mereka sempat membuahi sel telur.
Volume ejakulasi normal berkisar antara 1,5 hingga 5 mililiter per ejakulasi. Variasi dalam warna, bau, dan konsistensi air mani dapat dipengaruhi oleh pola diet, hidrasi, tingkat gairah seksual, dan periode abstinensia (tidak ejakulasi). Meskipun perubahan minor seringkali normal, perubahan drastis pada warna (misalnya menjadi sangat kuning atau kehijauan) atau bau yang sangat tidak sedap dapat menjadi indikasi kondisi medis yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut oleh profesional kesehatan.
Memahami kandungan air mani adalah langkah awal dalam mengapresiasi kompleksitas proses reproduksi pria. Setiap komponen, mulai dari molekul gula hingga ion mineral, dirancang secara presisi untuk satu tujuan utama: memastikan kelangsungan keturunan.