Ilustrasi: Simbol Kebijaksanaan dan Kitab Suci
Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, adalah salah satu figur sentral dalam sejarah Islam. Dikenal dengan nama lengkap Abu Abdullah Malik bin Anas bin Malik bin Amr al-Asbahi, beliau hidup di Madinah, kota suci tempat Rasulullah SAW dimakamkan. Kehidupannya yang penuh dedikasi terhadap ilmu, keteguhan akidah, dan kepatuhan terhadap Sunnah Nabi telah menjadikannya sosok yang sangat dihormati. Selain keilmuannya yang mendalam, banyak kisah yang menceritakan tentang karomah Imam Malik yang menunjukkan kedekatan beliau dengan rahmat Allah SWT.
Dalam tradisi Islam, karomah (atau keramat) merujuk pada peristiwa luar biasa yang terjadi pada diri seorang wali Allah atau hamba-Nya yang saleh sebagai penguat iman dan pengakuan atas kesalehan mereka. Karomah ini selalu berbeda dengan mukjizat, yang mana mukjizat secara khusus diberikan kepada para nabi sebagai bukti kebenaran risalah mereka. Kisah mengenai karomah Imam Malik seringkali muncul dalam literatur sejarah Islam sebagai cerminan betapa teguh dan murninya jalan hidup beliau.
Salah satu narasi yang paling sering diceritakan mengenai karomah Imam Malik berkaitan dengan ketenangan dan kesabarannya yang luar biasa, terutama di hadapan penguasa yang zalim. Diceritakan bahwa ketika Al-Mansur, Khalifah Bani Abbasiyah, ingin memaksakan pandangan Mazhab Madinah (yang diwakili oleh Imam Malik) sebagai mazhab resmi negara, Imam Malik menolak dengan tegas. Beliau menyatakan bahwa hukum Islam tidak bisa dipaksakan, karena ijtihad para ulama adalah hasil dari pemahaman yang tulus.
Imam Malik tidak gentar meskipun ancaman penjara atau hukuman berat menghampirinya. Konon, ketika beliau dibawa menghadap Al-Mansur, badannya gemetar karena faktor usia dan rasa takut kepada Allah SWT, bukan kepada Khalifah. Al-Mansur sempat memerintahkan cambuk digunakan untuk memaksa Imam Malik tunduk, namun sang Imam tetap berpegang teguh pada prinsipnya. Tindakan beliau yang penuh keteguhan spiritual ini dilihat oleh banyak ulama sebagai sebuah bentuk karomah batin, yaitu kekuatan spiritual yang memungkinkannya menolak tekanan duniawi.
Selain keteguhan dalam prinsip, karomah Imam Malik juga sering dikaitkan dengan keberkahan yang mengiringi kehidupannya. Dikenal sebagai sosok yang sangat menghormati hadis Nabi, beliau sangat berhati-hati dalam periwayatan. Konon, ketika beliau menyampaikan hadis, beliau selalu berwudhu terlebih dahulu, mengenakan pakaian terbaik, dan duduk dengan tenang seolah-olah Nabi Muhammad SAW sedang berada di hadapannya.
Kehati-hatian ekstrem inilah yang menarik berkah. Diriwayatkan bahwa orang-orang datang dari seluruh penjuru dunia hanya untuk mendengar hadis darinya. Kehadirannya di majelis ilmu selalu membawa aura ketenangan yang luar biasa. Beberapa riwayat menyebutkan bahwa ketika beliau wafat, udara di Madinah seolah ikut merasakan kehilangan besar, dan pemakamannya dihadiri oleh ribuan umat yang menunjukkan kecintaan mereka terhadap ilmu dan kesalehan yang beliau wakili.
Meskipun kisah-kisah karomah Imam Malik menarik dan menginspirasi, para ulama menekankan bahwa pelajaran utama dari kehidupan beliau bukanlah fokus pada peristiwa luar biasa tersebut. Fokus utama haruslah pada ketekunan beliau dalam menuntut ilmu, integritas moral, dan kepatuhan total terhadap Al-Qur'an dan As-Sunnah. Karomah adalah bonus, sementara ketaatan adalah fondasi.
Imam Malik mengajarkan bahwa kemuliaan sejati seorang muslim terletak pada kemampuannya menjaga integritas di tengah godaan kekuasaan dan opini publik. Beliau telah menetapkan standar tinggi bagi para ulama setelahnya tentang bagaimana seharusnya berinteraksi dengan penguasa—selalu jujur berdasarkan ilmu, tanpa mencari muka atau takut kehilangan jabatan duniawi.
Warisan terbesarnya adalah kitab Al-Muwatta, sebuah kompilasi hadis yang menjadi salah satu rujukan utama dalam fikih Islam. Kesuksesan dan pengaruhnya yang mendunia bukanlah hasil sihir atau rekayasa, melainkan buah dari kesucian hati dan usaha kerasnya. Inilah bentuk nyata dari karomah abadi yang dibawa oleh karomah Imam Malik—sebuah warisan ilmu yang terus menerangi jalan umat Islam hingga kini.
Kisah hidup beliau mengingatkan kita bahwa ketika seseorang benar-benar mengabdikan diri pada kebenaran dan ilmu yang sahih, maka Allah SWT akan memberikan pertolongan dan kemuliaan, baik yang terlihat (karomah) maupun yang tak terlihat (keteguhan hati).