Ilustrasi proses pertemuan sel reproduksi.
Keluarnya sperma saat berhubungan badan (BAB), atau yang lebih dikenal sebagai ejakulasi, adalah respons fisiologis normal pada pria yang telah mencapai pubertas. Proses ini merupakan klimaks dari rangsangan seksual dan merupakan mekanisme biologis utama dalam reproduksi manusia. Memahami apa yang terjadi selama ejakulasi membantu menghilangkan kecemasan atau kebingungan mengenai fungsi seksual normal.
Ejakulasi terjadi ketika cairan mani (semen) yang mengandung jutaan sperma dikeluarkan melalui uretra di ujung penis. Sebelum ejakulasi terjadi, pria biasanya akan merasakan sensasi kenikmatan yang intens dan ketegangan yang meningkat, yang kemudian dilepaskan melalui kontraksi otot-otot tertentu di sekitar organ panggul.
Proses keluarnya sperma melibatkan serangkaian tahapan yang terkoordinasi antara sistem saraf dan otot. Proses ini dapat dibagi menjadi dua fase utama:
Pada fase ini, organ reproduksi internal, seperti testis (tempat sperma diproduksi), epididimis, vas deferens, kelenjar prostat, dan vesikula seminalis, berkontraksi. Kontraksi ini mendorong cairan sperma dan cairan pelengkap lainnya ke dalam uretra prostatik (bagian uretra yang melewati prostat). Pada titik ini, pria merasakan bahwa ejakulasi akan segera terjadi.
Ini adalah fase di mana semen dikeluarkan dari penis. Otot-otot di dasar panggul, terutama otot bulbospongiosus, berkontraksi secara ritmis dan kuat. Kontraksi inilah yang menyebabkan cairan semen terdorong keluar melalui lubang di ujung penis. Setelah ejakulasi, sensasi kenikmatan seksual mereda, dan penis perlahan kembali ke keadaan tidak ereksi (flaccid).
Penting untuk diketahui bahwa cairan yang keluar saat ejakulasi bukanlah sperma murni, melainkan semen yang merupakan campuran kompleks. Komponen utama semen meliputi:
Volume, kekentalan, dan frekuensi ejakulasi dapat sangat bervariasi antar individu dan bahkan antar momen pada pria yang sama. Beberapa faktor yang memengaruhi karakteristik semen antara lain:
Keluarnya cairan bening atau sedikit berlendir sebelum atau sesudah ejakulasi utama, yang sering disebut cairan pra-ejakulasi (pre-cum), juga merupakan fenomena normal. Cairan ini berfungsi sebagai pelumas alami dan dapat mengandung sejumlah kecil sperma, yang berarti kehamilan tetap mungkin terjadi meskipun tidak terjadi ejakulasi penuh.
Meskipun ejakulasi adalah proses normal, ada kondisi tertentu yang mungkin memerlukan pemeriksaan medis. Ini termasuk:
Informasi ini ditujukan untuk edukasi umum. Jika Anda memiliki kekhawatiran spesifik tentang fungsi seksual atau kesehatan reproduksi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter atau urolog.