Tafsir dan Hikmah Surat Al-Maidah Ayat 144

Ilustrasi Keadilan dan Kepemimpinan Garis-garis melambangkan struktur hukum dan timbangan yang seimbang. Keteguhan

Surat Al-Maidah, yang berarti Hidangan, adalah salah satu surat Madaniyah terpanjang dalam Al-Qur'an. Di dalamnya terkandung banyak sekali ayat-ayat hukum, janji, peringatan, serta kisah-kisah penting yang menjadi pedoman bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sarat makna mengenai kepemimpinan dan tanggung jawab adalah **Surat Al-Maidah ayat 144**.

Teks dan Terjemahan Al-Maidah Ayat 144

مَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

"Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada lagi pilihan lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata."

Konteks Historis dan Kedudukan Hukum

Ayat 144 dari Surat Al-Maidah ini turun sebagai penegasan fundamental mengenai asas ketaatan mutlak dalam Islam. Konteks turunnya ayat ini sering dikaitkan dengan isu-isu yang membutuhkan keputusan tegas dari Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin umat. Ayat ini berfungsi sebagai landasan teologis bahwa ketika Allah (melalui Al-Qur'an) dan Rasul-Nya (melalui Sunnah) telah menetapkan suatu hukum atau keputusan, maka pilihan manusia menjadi gugur.

Ini adalah penegasan supremasi syariat di atas kehendak pribadi atau preferensi kelompok. Dalam konteks modern, ayat ini sangat relevan dalam menghadapi permasalahan sosial, ekonomi, hingga politik, di mana keputusan yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariat harus ditolak, betapapun menariknya pilihan alternatif tersebut.

Larangan Memilih Selain Ketetapan Ilahi

Frasa kunci dalam ayat ini adalah "Tidaklah patut bagi seorang mukmin dan tidak pula bagi seorang mukminah...". Penekanan ganda (mukmin dan mukminah) menunjukkan bahwa ketaatan ini berlaku universal tanpa memandang jenis kelamin. Bagi seorang yang beriman sejati, ketika sumber otoritas tertinggi (Allah dan Rasul-Nya) telah berbicara, maka mekanisme 'memilih' atau 'menawar' tidak lagi relevan.

Ini bukan berarti umat Islam dilarang menggunakan akal atau musyawarah dalam hal yang belum ditetapkan secara eksplisit. Sebaliknya, ini menekankan bahwa ketika telah ada nash (dalil) yang jelas dan sahih mengenai suatu perkara, maka musyawarah harus berakhir pada kepatuhan terhadap nash tersebut. Mengabaikan ketetapan ini sama dengan menempatkan akal, hawa nafsu, atau pandangan manusia sejajar dengan wahyu Tuhan, yang mana merupakan penolakan terhadap esensi iman.

Konsekuensi Mendurhakai Ketetapan

Ayat tersebut menutup dengan peringatan keras: "Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh dia telah sesat dengan kesesatan yang nyata." Kata "sesat dengan kesesatan yang nyata" (ضَلَالًا مُبِينًا - *dhalalan mubiina*) menunjukkan bahwa penyimpangan dari ketaatan ini bukan sekadar kesalahan kecil atau kekeliruan dalam penafsiran, melainkan sebuah penyimpangan besar yang mengeluarkan pelakunya dari jalan kebenaran yang lurus.

Kesesatan di sini berarti kehilangan arah, menjauh dari petunjuk, dan menempuh jalan yang berakhir pada kerugian di dunia maupun akhirat. Oleh karena itu, ayat ini menjadi standar iman: sejauh mana seorang Muslim tunduk pada hukum yang ditetapkan oleh penciptanya.

Pelajaran untuk Kepemimpinan Umat

Ayat 144 Al-Maidah juga memberikan pelajaran krusial bagi para pemimpin (ulama, penguasa, atau tokoh masyarakat). Seorang pemimpin Muslim tidak boleh menawarkan alternatif hukum atau keputusan yang bertentangan dengan syariat hanya demi popularitas atau demi menyenangkan pihak tertentu. Tugas pemimpin adalah mengimplementasikan dan menegakkan ketetapan ilahi, bukan menciptakan preferensi baru.

Keberanian untuk berpegang teguh pada kebenaran yang telah ditetapkan, meskipun menghadapi penolakan atau tekanan dari luar, adalah ciri utama kepemimpinan yang diridai Allah. Surat Al-Maidah ayat 144 adalah benteng yang kokoh menjaga kemurnian ajaran Islam dari intervensi dan subjektivitas manusia. Ketaatan total adalah harga yang harus dibayar untuk mendapatkan rahmat dan petunjuk-Nya.

Dengan memahami dan mengamalkan ayat ini, seorang mukmin mengukuhkan posisinya sebagai hamba yang menjadikan kehendak Allah dan Rasul-Nya sebagai satu-satunya pedoman hidup tanpa kompromi.

🏠 Homepage