Penanganan infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS) telah mengalami perkembangan signifikan, namun peran tenaga keperawatan tetap menjadi pilar utama dalam keberhasilan manajemen pasien. Perawatan tidak hanya berfokus pada aspek klinis medis, tetapi juga mencakup dimensi psikososial, edukasi, dan pencegahan stigma. Keperawatan HIV/AIDS memerlukan kombinasi antara pengetahuan teknis medis yang mendalam dan sentuhan kemanusiaan yang tinggi.
Salah satu kontribusi terbesar perawat adalah dalam mengedukasi pasien mengenai pengobatan ARV. Ketidakpatuhan minum obat adalah faktor risiko utama kegagalan terapi dan munculnya resistensi virus. Perawat harus memastikan pasien memahami jadwal minum obat yang ketat, potensi efek samping, dan pentingnya konsistensi. Peran ini seringkali melibatkan kunjungan rumah (home care) atau sesi konseling individual untuk mengatasi hambatan praktis yang dihadapi pasien dalam mengakses atau mengonsumsi obat.
Manajemen obat ARV melibatkan pengawasan ketat terhadap regimen dosis. Perawat berperan dalam memfasilitasi pengisian ulang resep dan memastikan tidak ada jeda dalam pengobatan. Selain itu, edukasi tentang nutrisi yang tepat sangat krusial, mengingat pasien HIV/AIDS seringkali rentan terhadap malnutrisi dan infeksi oportunistik yang diperburuk oleh pola makan yang buruk.
Prinsip pengendalian infeksi standar adalah landasan dalam praktik keperawatan HIV. Meskipun risiko penularan melalui kontak biasa sangat rendah, perawat harus selalu menerapkan universal precaution. Ini termasuk penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) yang benar saat menangani darah atau cairan tubuh, penanganan limbah medis yang aman, serta perlindungan diri dari paparan jarum suntik (post-exposure prophylaxis/PEP) bagi tenaga kesehatan yang terpapar.
Diagnosa HIV sering membawa beban emosional yang berat, termasuk depresi, kecemasan, isolasi sosial, dan diskriminasi. Perawat adalah garda terdepan dalam memberikan dukungan psikososial. Mereka menciptakan ruang aman di mana pasien dapat mengekspresikan ketakutan mereka tanpa takut dihakimi. Menghilangkan stigma di lingkungan klinis adalah tanggung jawab etis perawat.
Dukungan yang diberikan meliputi:
Seiring dengan perkembangan pengobatan ARV, harapan hidup pasien HIV semakin panjang, namun mereka tetap rentan terhadap infeksi oportunistik (IO) seperti Pneumocystis Pneumonia (PCP), Tuberkulosis (TB), atau Sarkoma Kaposi. Perawat bertanggung jawab untuk memantau tanda-tanda awal IO, memberikan pengobatan sesuai instruksi dokter, dan mengelola gejala yang timbul. Manajemen nyeri, penanganan diare kronis, dan perawatan luka yang kompleks sering menjadi bagian integral dari tugas harian perawat pada kasus lanjut.
Di luar lingkungan klinis, perawat memegang peranan kunci dalam pencegahan primer. Melalui program komunitas, mereka melakukan skrining, konseling pra-tes dan pasca-tes HIV, serta mengadvokasi praktik seks aman. Pendidikan tentang PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) dan menekan angka penularan vertikal (dari ibu ke anak) juga menjadi fokus penting. Dengan pendekatan holistik, perawat memastikan bahwa perawatan HIV/AIDS tidak hanya tentang mengobati penyakit, tetapi juga tentang mempertahankan kualitas hidup dan martabat individu yang hidup dengan virus ini.