Ketika membicarakan reproduksi pria, proses ketika sperma keluar—atau yang secara ilmiah disebut ejakulasi—adalah momen krusial. Ejakulasi bukan sekadar peristiwa tunggal, melainkan hasil dari serangkaian proses fisiologis yang kompleks dan terkoordinasi dengan baik yang melibatkan sistem saraf, otot, dan organ reproduksi.
Ejakulasi adalah pengeluaran semen (cairan yang mengandung sperma) dari uretra pria melalui penis. Ini biasanya terjadi sebagai puncak dari gairah seksual dan merupakan mekanisme biologis utama untuk menyampaikan materi genetik (sperma) ke sistem reproduksi wanita untuk potensi pembuahan.
Proses ini terbagi menjadi dua fase utama yang terjadi sangat cepat, sering kali tanpa disadari sepenuhnya oleh individu yang mengalaminya:
Fase pertama adalah emisi. Selama fase ini, kontraksi otot halus di dalam testis, epididimis, vas deferens, vesikula seminalis, dan kelenjar prostat menyebabkan sperma dan cairan aksesori (yang membentuk semen) berkumpul di pangkal uretra (saluran di dalam penis). Proses ini dipicu oleh rangsangan saraf simpatis. Pada titik ini, kontraksi otot sfingter di leher kandung kemih mencegah urin atau semen bercampur, memastikan semen hanya bergerak ke arah keluar.
Setelah cairan terkumpul, fase kedua dimulai. Fase ekspulsi ditandai dengan kontraksi ritmis otot-otot dasar panggul, terutama otot bulbospongiosus dan iskiokavernosus. Kontraksi ini menghasilkan tekanan yang kuat, mendorong semen keluar melalui lubang uretra di ujung penis. Frasa "ketika sperma keluar" paling sering merujuk pada fase ekspulsi inilah, yang kita kenali sebagai orgasme pada pria.
Penting untuk dipahami bahwa cairan yang dikeluarkan bukanlah sperma murni. Sperma hanya merupakan persentase kecil (sekitar 2-5%) dari total volume ejakulat. Sisanya adalah cairan yang diproduksi oleh kelenjar aksesori:
Volume ejakulat normal bervariasi antar individu, namun rata-rata berada di kisaran 1,5 hingga 5 mililiter per ejakulasi. Beberapa faktor dapat memengaruhi volume ini, termasuk tingkat hidrasi, periode waktu sejak ejakulasi terakhir, usia, dan kesehatan umum.
Ketika seseorang menahan diri dari ejakulasi untuk periode yang lebih lama, volume semen yang keluar mungkin sedikit lebih banyak, namun jumlah sperma aktif mungkin sedikit menurun karena sperma yang lebih tua mungkin tidak lagi bergerak optimal. Sebaliknya, ejakulasi yang sangat sering dapat menyebabkan volume per ejakulasi menjadi lebih kecil.
Pemantauan terhadap proses ketika sperma keluar dapat memberikan petunjuk mengenai kesehatan reproduksi. Beberapa isu yang mungkin diperhatikan meliputi:
Secara keseluruhan, proses ketika sperma keluar adalah demonstrasi luar biasa dari koordinasi biologis. Memahami mekanisme ini membantu individu lebih menghargai fungsi sistem reproduksi mereka dan mengenali kapan perubahan dalam fungsi normal mungkin memerlukan perhatian medis.