Malik bin Marwan: Khalifah Kelima Dinasti Umayyah

Pengantar Singkat

Malik bin Marwan adalah salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah Kekhalifahan Bani Umayyah. Ia memerintah dari tahun 65 Hijriah hingga 86 Hijriah (sekitar 684 hingga 705 Masehi), dan masa kepemimpinannya sering dianggap sebagai titik balik penting yang membawa stabilitas kembali ke dunia Islam setelah periode perang saudara yang berkepanjangan, dikenal sebagai Fitnah Kedua. Meskipun beberapa sejarawan menyoroti tindakannya yang kontroversial, kontribusinya terhadap konsolidasi kekuasaan Umayyah dan normalisasi administrasi negara tidak dapat diabaikan.

MM Simbol Arsitektur dan Stabilitas

Ilustrasi Simbolis Stabilitas Pemerintahan

Latar Belakang dan Naik Takhta

Malik lahir di Madinah dan merupakan putra dari Marwan bin Hakam, yang kelak menjadi khalifah keempat Umayyah. Ia dibesarkan dalam lingkungan politik yang dinamis dan penuh gejolak. Ketika terjadi krisis suksesi setelah wafatnya Yazid bin Muawiyah, dan kemudian pembunuhan Muawiyah II, Kekhalifahan Umayyah terpecah. Abdullah bin Zubair menguasai Hijaz dan sebagian besar wilayah timur, sementara politik di Suriah sangat terfragmentasi.

Di tengah kekacauan ini, kaum Syam (Suriah) mengangkat Malik sebagai khalifah mereka pada tahun 684 Masehi. Pengangkatannya bukanlah tanpa perlawanan. Periode awal pemerintahannya dihabiskan untuk memadamkan pemberontakan internal dan mengamankan wilayah Suriah yang menjadi basis utama kekuasaan Umayyah. Kemenangan besar Malik atas musuh-musuh internal memberinya mandat yang kuat untuk kemudian memindahkan pusat gravitasi politik dari Damaskus ke wilayah yang lebih stabil.

Reformasi Administratif dan Sentralisasi

Salah satu warisan terpenting Malik bin Marwan adalah reformasi administrasi yang ia terapkan secara menyeluruh setelah ia berhasil mengalahkan Ibn Zubair dan mengkonsolidasikan seluruh kekhalifahan di bawah panji Umayyah. Ia memindahkan ibukota ke Damaskus secara permanen dan mulai membentuk aparatur negara yang lebih terstruktur, memisahkan urusan sipil dari militer secara lebih tegas.

Di bawah kepemimpinannya, bahasa Arab secara resmi ditetapkan sebagai bahasa administrasi di seluruh wilayah kekhalifahan, menggantikan bahasa Yunani dan Persia yang sebelumnya dominan di wilayah-wilayah taklukan. Langkah ini sangat penting untuk menyatukan identitas politik dan administratif kekaisaran yang membentang luas. Selain itu, ia juga memulai standardisasi mata uang Islam, memperkenalkan dinar emas dan dirham perak dengan inskripsi Islam, yang sebelumnya masih mengandalkan mata uang Bizantium atau Persia yang dimodifikasi. Ini adalah langkah besar menuju kemandirian ekonomi dan kebudayaan Islam.

Perluasan Wilayah dan Kebijakan Ekspedisi

Meskipun sebagian besar masa awal pemerintahannya fokus pada konsolidasi internal, Malik juga meletakkan dasar bagi ekspansi besar-besaran yang akan mencapai puncaknya di bawah putranya, Al-Walid I. Di bawah komando jenderal-jenderal andalannya, pasukan Umayyah mulai menekan perbatasan timur ke arah Transoxiana dan perbatasan barat laut Afrika Utara. Malik memastikan bahwa wilayah-wilayah kunci, terutama Suriah dan Mesir, tetap loyal dan sumber daya militer terus dialirkan untuk kampanye masa depan.

Pemerintahan Malik juga ditandai dengan penguatan otoritas pusat di Damaskus. Ia memindahkan kekuasaan sepenuhnya dari Madinah, yang sering menjadi pusat oposisi, ke Suriah. Hal ini memastikan bahwa keputusan-keputusan penting dibuat di ibu kota baru tanpa intervensi kuat dari basis kekhalifahan lama. Tindakan ini, meskipun diperlukan untuk stabilitas jangka panjang kekaisaran, juga menuai kritik dari kalangan tradisionalis yang merindukan pemerintahan yang berbasis di Hijaz.

Warisan dan Kesimpulan

Malik bin Marwan sering dijuluki sebagai "Pendiri Kedua" kekhalifahan Umayyah, setelah Muawiyah bin Abi Sufyan. Ia mengambil alih sebuah entitas yang hampir hancur akibat perang saudara dan berhasil menyatukannya kembali, menumpas pemberontakan Ibn Zubair, dan meletakkan fondasi administrasi yang akan memungkinkan Umayyah memerintah wilayah yang sangat luas selama beberapa dekade berikutnya. Reformasi bahasanya, standardisasi mata uang, dan sentralisasi kekuasaan di Damaskus adalah pilar-pilar yang membuat Kekhalifahan Umayyah berkembang menjadi imperium global yang terorganisir.

Meskipun ada kontroversi seputar metodenya dalam meraih dan mempertahankan kekuasaan, tidak diragukan lagi bahwa Malik bin Marwan adalah seorang negarawan yang pragmatis dan keras. Ia memastikan kelangsungan Dinasti Umayyah, sebuah pencapaian yang sangat menentukan bagi peta politik dunia Islam pasca-periode Rasyidin.

🏠 Homepage