Ilustrasi Pertanggungjawaban di Hadapan Yang Maha Kuasa.
Surah Al-Ma'idah (Al-Hidangan) adalah salah satu surah Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika sosial, dan kisah-kisah kenabian. Khususnya pada ayat 116 hingga 120, Allah SWT menyoroti momen krusial yang akan dihadapi setiap individu: pertanggungjawaban penuh di hadapan-Nya mengenai keyakinan dan perbuatan semasa hidup di dunia. Ayat-ayat ini memberikan peringatan keras dan penguatan tauhid (keesaan Allah) sejati.
Ayat-ayat 116 hingga 120 Surah Al-Ma'idah menampilkan dialog ilahi antara Allah SWT dengan Nabi Isa 'Alaihissalam (Yesus) pada Hari Kiamat. Fokus utama dari dialog ini adalah penegasan total atas konsep tauhid (keesaan Allah) dan penolakan tegas terhadap segala bentuk pengultusan selain dari Allah.
Nabi Isa dengan jelas menyatakan bahwa seluruh ajarannya selama di dunia hanyalah untuk menyeru umatnya menyembah Allah, Tuhannya dan Tuhan mereka (ayat 117). Ini adalah bantahan tegas terhadap klaim-klaim historis atau teologis yang menyimpang dari ajaran aslinya, di mana ia dianggap sebagai tuhan atau bagian dari tuhan. Dalam momen yang maha dahsyat ini, Nabi Isa melepaskan diri dari tanggung jawab atas penyimpangan yang dilakukan pengikutnya setelah masa kerasulannya berakhir.
Ayat 119 menjadi puncak klimaks yang memberikan harapan bagi mereka yang memegang teguh kebenaran. Allah menyatakan: "Inilah hari di mana orang-orang yang jujur mendapat manfaat dari kejujuran mereka." Kejujuran di sini mencakup kejujuran dalam beriman, jujur dalam beramal, dan jujur dalam memegang teguh risalah Allah tanpa ada penyelewengan.
Konsekuensi dari kejujuran ini adalah balasan abadi, yaitu surga yang dialiri sungai-sungai—sebuah gambaran kebahagiaan tertinggi yang tidak terputus. Ini menggarisbawahi bahwa pertanggungjawaban di akhirat adalah penentu utama nasib akhir, dan kejujuran adalah mata uang paling berharga di hadapan Allah SWT.
Ayat 120 menutup rentetan ini dengan mengingatkan kita tentang realitas mutlak: Kepemilikan dan kekuasaan mutlak hanya milik Allah atas seluruh alam semesta (langit, bumi, dan segala isinya). Pengingat ini memperkuat konteks dialog sebelumnya; karena Allah Maha Kuasa dan Maha Mengetahui, maka keputusan-Nya di Hari Perhitungan adalah keadilan hakiki. Tidak ada kekuatan atau kekuasaan tandingan yang dapat mempengaruhi atau menggagalkan penetapan-Nya.
Memahami Surah Al-Ma'idah ayat 116-120 seharusnya memotivasi setiap Muslim untuk senantiasa menjaga keikhlasan dalam ibadah dan perkataan, sebab segala sesuatu yang tampak di permukaan dunia akan disingkapkan dan diperhitungkan dengan standar kejujuran tertinggi di hadapan Pencipta semesta.