Lindungi Diri, Sebarkan Kesadaran.
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan tahap akhir dari infeksi HIV (Human Immunodeficiency Virus). Virus ini menyerang sistem kekebalan tubuh manusia, membuat tubuh rentan terhadap berbagai infeksi dan kanker. Meskipun hingga saat ini belum ada obat yang dapat menyembuhkan total, kemajuan dalam pengobatan Antiretroviral (ARV) telah mengubah HIV menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola, asalkan pencegahan dan pengobatan dilakukan secara dini dan konsisten.
Kunci utama dalam menghadapi isu ini adalah pencegahan. Dengan pemahaman yang benar mengenai bagaimana HIV ditularkan, kita dapat mengambil langkah-langkah efektif untuk melindungi diri sendiri dan orang lain. Pengetahuan adalah senjata terkuat dalam upaya memutus rantai penularan.
Pencegahan penularan HIV berfokus pada penghindaran kontak dengan cairan tubuh yang mengandung virus, yaitu darah, air mani, cairan pra-ejakulasi, cairan dubur, cairan vagina, dan air susu ibu.
Penularan seksual adalah rute utama penyebaran HIV secara global. Menerapkan seks yang aman adalah langkah preventif yang paling mendasar.
Paparan darah yang terinfeksi sering terjadi melalui penggunaan jarum suntik bersama, terutama di kalangan pengguna narkoba suntik, atau melalui prosedur medis yang tidak higienis.
Penularan HIV dari ibu hamil ke bayinya selama kehamilan, persalinan, atau menyusui adalah risiko serius, namun sangat mungkin dicegah.
Salah satu perkembangan revolusioner dalam pencegahan AIDS adalah konsep TasP. Penelitian ilmiah telah membuktikan secara meyakinkan bahwa seseorang yang positif HIV dan rutin mengonsumsi obat ARV hingga mencapai tingkat viral load yang tidak terdeteksi (undetectable), secara efektif tidak akan menularkan virus melalui hubungan seksual (Undetectable = Untransmittable atau U=U).
Oleh karena itu, mendorong ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) untuk mengakses dan patuh terhadap pengobatan ARV bukan hanya menyelamatkan nyawa mereka sendiri, tetapi juga merupakan strategi pencegahan yang kuat bagi masyarakat luas.
Stigma dan diskriminasi sering kali menjadi hambatan terbesar bagi orang untuk menjalani tes, mencari pengobatan, dan jujur mengenai status mereka. Lingkungan yang suportif dan bebas stigma mendorong lebih banyak orang untuk melakukan pencegahan proaktif. Kita semua bertanggung jawab untuk menciptakan masyarakat yang inklusif, di mana pencegahan didukung oleh empati dan informasi yang akurat, bukan rasa takut atau prasangka.
Pencegahan penyakit AIDS adalah tanggung jawab kolektif. Dengan mengedepankan pengetahuan, perilaku aman, dan akses terhadap layanan kesehatan, kita dapat bekerja menuju dunia tanpa penularan baru HIV.