Salah satu inti ajaran yang dibawa oleh para nabi dan rasul sepanjang sejarah adalah misi fundamental untuk memperbaiki dan menyempurnakan perilaku manusia, atau yang dikenal sebagai akhlak. Firman suci dan catatan sejarah menggarisbawahi bahwa kerasulan tidak hanya bertujuan menyampaikan tata cara ritual semata, melainkan berfokus pada transformasi internal manusia agar selaras dengan prinsip moralitas tertinggi. Nabi Muhammad SAW, penutup para nabi, secara eksplisit menyatakan dalam hadisnya yang masyhur, "Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." Pernyataan ini menegaskan bahwa puncak dari risalah kenabian adalah pembentukan karakter yang ideal.
Akhlak Sebagai Pondasi Keberagaman
Mengapa akhlak menjadi prioritas utama? Karena akhlak adalah cerminan sejati dari keyakinan seseorang. Seseorang mungkin tampak rajin dalam ibadah ritualnya, namun jika ia kasar dalam bertutur kata, tidak jujur dalam bermuamalah, atau zalim terhadap sesama, maka kualitas imannya dipertanyakan. Para nabi diutus untuk menunjukkan bahwa hubungan vertikal dengan Tuhan harus termanifestasi dalam hubungan horizontal yang harmonis dengan sesama makhluk. Tanpa akhlak yang baik, bangunan spiritualitas akan runtuh. Mereka mengajarkan empati, keadilan, kesabaran, dan kejujuran sebagai pilar utama kehidupan sosial yang beradab.
Pada masa pra-Islam, masyarakat kerap kali terjerumus dalam perilaku jahiliyah yang kejam, seperti menindas yang lemah, melakukan penipuan, dan menghargai kekerasan. Kedatangan para nabi berfungsi sebagai katalisator perubahan radikal. Mereka tidak hanya menuntut pengakuan atas keesaan Tuhan, tetapi sekaligus menuntut pengakuan atas martabat setiap individu. Nabi-nabi mengajarkan bahwa kebaikan sejati terletak pada tindakan nyata: memberi makan yang lapar, menolong yang tertindas, dan berbicara dengan kata-kata yang baik.
Implementasi Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari
Penyempurnaan akhlak bukanlah konsep teoretis yang hanya dibahas di mimbar, melainkan praktik hidup yang harus diintegrasikan dalam setiap aspek interaksi. Nabi Ibrahim AS, misalnya, dikenal karena keteguhan prinsipnya dan kesabarannya dalam menghadapi penolakan. Nabi Musa AS diutus dengan sifat yang penuh ketegasan namun disertai dengan kelembutan saat berhadapan dengan penguasa zalim. Sementara itu, Nabi Muhammad SAW dijadikan teladan sempurna (uswatun hasanah) karena sifatnya yang penyayang terhadap keluarga, adil dalam memimpin, pemaaf terhadap musuh, dan konsisten dalam menepati janji.
Penyempurnaan akhlak mencakup tiga ranah utama: pertama, akhlak terhadap Allah (melalui ketaatan tulus); kedua, akhlak terhadap diri sendiri (menjaga integritas, menjaga kesucian jiwa); dan ketiga, akhlak terhadap sesama manusia dan alam semesta (keadilan, kasih sayang, dan menjaga lingkungan). Jika ketiga aspek ini berhasil diselaraskan, maka seseorang telah mencapai derajat kesempurnaan moral yang didambakan oleh risalah kenabian.
Dampak Jangka Panjang Misi Moral
Misi penyempurnaan akhlak memiliki dampak jangka panjang yang melampaui zamannya. Ketika suatu komunitas menginternalisasi nilai-nilai moral yang dibawa nabi, mereka mampu membangun peradaban yang kokoh dan berkelanjutan. Peradaban yang dibangun di atas fondasi kejujuran dan keadilan akan lebih resisten terhadap kehancuran internal dibandingkan peradaban yang hanya mengandalkan kekuatan militer atau kekayaan materi. Para pengikut yang berhasil meneladani akhlak para nabi menjadi agen perubahan yang membawa kedamaian dan kemaslahatan. Mereka membuktikan bahwa iman yang benar pasti menghasilkan perilaku yang terpuji.
Oleh karena itu, memahami peran nabi sebagai penyempurna akhlak berarti memahami bahwa ibadah ritual tanpa diiringi perbaikan moral adalah tindakan yang belum mencapai tujuannya. Tugas setiap pengikut adalah terus menerus bermuhasabah, membandingkan perilaku sehari-hari dengan standar moralitas ilahi yang telah diteladankan oleh para utusan Allah. Ini adalah panggilan abadi untuk terus berjuang melawan hawa nafsu yang cenderung mendorong pada perilaku buruk, demi meraih kemuliaan karakter yang sejati.