Dalam lembaran Al-Qur'an, terdapat petunjuk-petunjuk ilahi yang membentuk fondasi spiritual dan moralitas umat manusia. Salah satu bagian yang sarat akan makna keteguhan hati dan pengakuan akan kekuasaan Tuhan tersemat dalam Surat Al Hijr, khususnya pada ayat 39 dan 40. Ayat-ayat ini merupakan respons langsung terhadap tantangan yang dihadapi oleh para pendakwah kebenaran, mengingatkan mereka akan sumber pertolongan yang sejati.
Ayat 39: (Allah) berfirman, "Inilah jalan-Ku yang lurus."
Ayat 40: "Sesungguhnya kamu (Iblis) tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku, kecuali terhadap orang-orang yang mau mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat."
Untuk memahami kedalaman makna ayat ini, kita perlu menelusuri konteksnya. Ayat-ayat sebelumnya menceritakan dialog antara Allah dengan Iblis (Setan) setelah penolakan Iblis untuk bersujud kepada Nabi Adam a.s. Iblis, karena kesombongan dan dengkinya, bersumpah untuk menyesatkan sebanyak mungkin keturunan Adam. Dalam kesombongannya, Iblis merasa memiliki hak untuk menggoda dan menarik manusia dari jalan Allah.
Ayat 39 adalah jawaban tegas dari Allah, menegaskan bahwa meskipun Iblis berupaya menyesatkan, Dia telah menetapkan sebuah jalur yang jelas dan pasti: "Inilah jalan-Ku yang lurus." Jalan lurus ini (Shirathal Mustaqim) adalah jalan tauhid, ketaatan, dan petunjuk yang dibawa oleh para nabi. Ini adalah jalur yang terjamin kebenarannya, kontras dengan jalur tipu daya yang ditawarkan Iblis.
Puncak penegasan ilahi terwujud pada ayat 40. Allah menyatakan batasan tegas atas kemampuan Iblis dalam menggoda manusia. Firman-Nya, "Sesungguhnya kamu tidak mempunyai kekuasaan atas hamba-hamba-Ku," adalah jaminan perlindungan bagi hamba-hamba yang tulus beriman dan tunduk kepada-Nya. Ini menunjukkan bahwa otoritas Iblis bukanlah otoritas mutlak; kekuasaannya sangat tergantung pada respons dan izin dari pihak yang digoda.
Namun, ayat ini juga mengandung peringatan keras: "kecuali terhadap orang-orang yang mau mengikutimu, yaitu orang-orang yang sesat." Ayat ini menggarisbawahi konsep ikhtiar (pilihan bebas) manusia. Setan hanya bisa berkuasa atas mereka yang secara sadar memilih untuk menempuh jalan kesesatan dan menolak petunjuk Allah. Godaan adalah ujian, namun kepatuhan pada godaan adalah pilihan.
Dalam kehidupan kontemporer yang penuh dengan godaan visual, informasi yang menyesatkan, dan berbagai ajakan yang menjauhkan dari nilai-nilai kebenaran, Surat Al Hijr ayat 39-40 menjadi mercusuar. Pesan utamanya adalah penegasan bahwa Allah telah menyediakan peta jalan yang jelas (Islam/Al-Qur'an). Selama seorang hamba berpegang teguh pada jalan lurus tersebut, janji perlindungan ilahi terjamin.
Pengertian bahwa kekuasaan setan hanya efektif jika kita mengizinkannya adalah pendorong kuat untuk meningkatkan muhasabah diri. Kita diingatkan bahwa jalan kesesatan adalah pilihan yang aktif, bukan sekadar takdir pasif. Ketika godaan datang, seorang mukmin yang cerdas akan segera mengingat janji Allah pada ayat ini: jalan Allah itu lurus dan Dia menjaga hamba-Nya yang setia. Keimanan sejati berfungsi sebagai benteng spiritual yang membuat tipu daya Iblis tidak memiliki pijakan yang sah atas jiwa tersebut.
Oleh karena itu, pemahaman mendalam terhadap ayat 39 dan 40 Al Hijr ini menuntut kita untuk senantiasa memeriksa niat dan tindakan kita. Apakah kita sedang berjalan di Shirathal Mustaqim, ataukah kita mulai mengikuti bisikan yang mengarah pada golongan yang "sesat"? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan apakah kita berada di bawah perlindungan eksklusif Allah atau justru menyerahkan kendali diri kepada pengaruh luar yang merusak.
Menguatkan pemahaman akan kebenaran jalan Allah dan menyadari kelemahan otoritas setan atas orang yang bertakwa adalah kunci untuk mencapai ketenangan spiritual dan kesuksesan hakiki di dunia dan akhirat. Kedua ayat singkat ini mengandung prinsip akidah yang fundamental: keteguhan dalam kebenaran adalah bentuk penolakan paling efektif terhadap segala bentuk godaan dan kesesatan.