Surat Al-Hijr merupakan salah satu surat Makkiyah dalam Al-Qur'an yang terdiri dari 99 ayat. Surat ini dinamakan Al-Hijr karena merujuk pada suatu tempat (lembah bernama Hijr) yang pernah ditinggali oleh kaum Tsamud, sebagaimana disebutkan di ayat 80. Pembukaan setiap surat dalam Al-Qur'an memiliki makna mendalam, dan arti surat Al-Hijr ayat 1 menjadi kunci pembuka pemahaman terhadap keseluruhan isi surat ini.
Ayat pertama ini adalah salah satu dari surat-surat yang diawali dengan Al-Huruf Al-Muqatta'ah (huruf-huruf terputus) yang misterius, dan memiliki fungsi sebagai penarik perhatian sekaligus penegasan atas keotentikan Al-Qur'an.
Alif, Laam, Miim.
Ayat ini sangat singkat, hanya terdiri dari tiga huruf Arab: Alif (ا), Laam (ل), dan Miim (م). Dalam penulisan mushaf standar, ayat ini sering kali digabungkan secara makna dengan ayat kedua untuk memberikan konteks, namun secara penomoran, ia berdiri sendiri sebagai ayat pertama.
Ayat pembuka Al-Hijr (Alif, Laam, Miim) serupa dengan yang terdapat pada pembukaan surat Al-Baqarah, Ali 'Imran, Al-A'raf, Yunus, Maryam, dan Asy-Syu'ara. Keberadaan huruf-huruf terputus ini menjadi salah satu keajaiban sekaligus misteri terbesar dalam ilmu Al-Qur'an (Ulumul Qur'an). Para ulama memiliki berbagai interpretasi mengenai maksud dari susunan huruf-huruf ini.
Salah satu penafsiran paling kuat adalah bahwa huruf-huruf ini berfungsi sebagai tantangan dan penegasan. Allah SWT menurunkan Al-Qur'an dalam bahasa Arab yang dipahami oleh masyarakat Quraisy saat itu. Dengan memulai firman-Nya dengan susunan huruf yang mereka kenal (Alif, Laam, Miim), Allah menantang mereka untuk menyusun sesuatu yang setara dengannya, namun mereka selalu gagal. Ini membuktikan bahwa Al-Qur'an bukan karangan Nabi Muhammad SAW, melainkan wahyu ilahi.
Beberapa ulama, seperti Ibnu Katsir, meriwayatkan bahwa setiap huruf dalam Alif, Laam, Miim mungkin merujuk pada nama-nama Allah SWT yang diawali dengan huruf tersebut. Misalnya, Alif merujuk pada Allah, Laam merujuk pada Lathif (Maha Lembut), dan Miim merujuk pada Majid (Maha Mulia). Meskipun ini adalah pandangan yang populer, sebagian besar ulama sepakat bahwa makna pastinya hanya diketahui oleh Allah SWT.
Huruf-huruf muqatta'ah seringkali muncul pada surat-surat yang membahas pokok-pokok keimanan, kerasulan, atau kisah-kisah umat terdahulu. Dalam konteks Surat Al-Hijr, ayat selanjutnya langsung membahas kebenaran Al-Qur'an: "Itulah ayat-ayat Kitab (Al-Qur'an) yang nyata kebenarannya." (Al-Hijr: 2). Oleh karena itu, ayat 1 berfungsi sebagai pembuka yang menarik perhatian sebelum masuk pada penjelasan mengenai tingginya kedudukan Al-Qur'an.
Setelah menegaskan bahwa Al-Qur'an adalah kitab yang jelas dan benar (ayat 2), surat ini melanjutkan dengan menjelaskan bagaimana orang-orang kafir seringkali berharap seandainya mereka menjadi Muslim (ayat 3-4). Kemudian, Allah memberikan contoh bagaimana umat terdahulu yang mendustakan rasul dihancurkan, seperti kaum Nabi Nuh, kaum 'Ad, dan terutama kaum Tsamud di Lembah Al-Hijr (ayat 80-84).
Oleh karena itu, arti surat Al-Hijr ayat 1, meskipun tampak sederhana (hanya tiga huruf), memegang peranan penting sebagai penegasan bahwa wahyu yang akan disampaikan setelahnya adalah kalam Ilahi yang memiliki struktur bahasa yang tak tertandingi. Ayat ini mempersiapkan pendengar untuk menerima peringatan dan kabar gembira yang terkandung dalam sisa ayat surat tersebut, menekankan bahwa kebenaran itu nyata dan pasti datang.
Memahami pembukaan ayat seperti ini mengajarkan kita untuk selalu merenungkan kedalaman makna di balik kesederhanaan teks suci. Meskipun kita mungkin belum sepenuhnya menguasai ilmu tentang huruf-huruf terputus tersebut, kita tetap wajib meyakini bahwa ia adalah bagian dari mukjizat Al-Qur'an yang diturunkan sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia.