Ilustrasi sederhana aksara Jawa.
Aksara Jawa, sebuah warisan budaya tak benda yang kaya akan sejarah dan keindahan, terus memikat hati banyak orang. Salah satu aspek yang paling menarik namun terkadang membingungkan bagi pemula adalah penggunaan pasangan aksara. Dalam artikel ini, kita akan mendalami secara khusus bagaimana bentuk pasangan dari aksara "SA" (ꦱ) ditampilkan dan digunakan dalam penulisan aksara Jawa. Memahami konsep pasangan aksara adalah kunci untuk dapat membaca dan menulis aksara Jawa dengan benar.
Dalam sistem penulisan aksara Jawa, terdapat dua macam cara untuk menuliskan suku kata konsonan-vokal yang tidak berakhiran vokal inheren (yaitu vokal 'a' yang otomatis melekat pada setiap konsonan dasar). Pertama adalah dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda, yaitu tanda baca yang diletakkan di atas atau di bawah aksara dasar untuk menghilangkan vokal 'a' tersebut (misalnya, pepet mati, layar, cecak). Cara kedua, yang merupakan fokus kita hari ini, adalah dengan menggunakan pasangan aksara.
Pasangan aksara berfungsi untuk menghilangkan vokal inheren dari aksara sebelumnya dan menyambungkannya dengan aksara berikutnya yang diawali konsonan. Dengan kata lain, pasangan aksara adalah cara untuk menuliskan dua konsonan berurutan tanpa jeda vokal, yang umum ditemui dalam bahasa Indonesia sehari-hari. Misalnya, pada kata "pasang", jika ditulis dalam aksara Jawa, suku kata "pang" akan menggunakan pasangan aksara "NG" (ꦁ).
Aksara "SA" dalam aksara Jawa dilambangkan dengan bentuk ꦱ. Ketika aksara "SA" diikuti oleh aksara lain yang diawali konsonan, maka aksara "SA" tersebut perlu ditulis dalam bentuk pasangannya. Bentuk pasangan dari aksara "SA" adalah sebuah tanda yang diletakkan di bawah aksara yang mendahuluinya. Mari kita lihat bentuknya:
Aksara Dasar "SA": ꦱ
Pasangan Aksara "SA": Bentuknya seperti aksara "SA" itu sendiri namun berdiri terbalik, dan diletakkan di bawah aksara yang didahului.
Contoh visual (simbolis): Jika aksara dasar adalah 'K' (ꦏ), dan kata selanjutnya adalah 'SA' (ꦱ) yang perlu ditulis dengan pasangannya, maka tampilannya akan seperti ini:
ꦏ + pasangan ꦱ = ꦏ꦳ (ini hanyalah ilustrasi tekstual, bentuk aslinya ada di bawah aksara 'k')
Penggunaan pasangan aksara "SA" sangat krusial. Jika kita ingin menulis kata "puspa" misalnya, huruf 's' pertama akan mengikuti vokal 'u' dari 'p' (menjadi 'pu'), kemudian aksara 'P' yang berikutnya akan memerlukan pasangan aksara 'SA'.
Mari kita ambil beberapa contoh untuk memperjelas penggunaan pasangan aksara "SA".
Kata: "asa"
Dalam aksara Jawa: ꦲꦱ
Penjelasan: Di sini, aksara "HA" (ꦲ) diikuti oleh aksara "SA" (ꦱ). Karena "SA" tidak diikuti oleh konsonan yang membutuhkan pasangan, ia ditulis sebagai aksara dasar.
Kata: "mas"
Dalam aksara Jawa: ꦩꦱ꧀
Penjelasan: Suku kata terakhir adalah "mas". Vokal 'a' pada "SA" dihilangkan dengan menggunakan sandhangan panyigeg wanda yaitu cecak (꧀), bukan pasangan aksara "SA".
Kata: "sapu"
Dalam aksara Jawa: ꦱꦥꦸ
Penjelasan: Di sini, "SA" adalah aksara pertama, diikuti "PA" (ꦥ) dan "U" (ꦸ). Tidak ada kebutuhan untuk pasangan aksara "SA" karena ia muncul di awal kata.
Kata: "puspala" (jika ada kata seperti ini dalam bahasa Jawa)
Dalam aksara Jawa: ꦥꦸꦱ꧀ꦥꦭ
Penjelasan: Perhatikan suku kata "pus". Aksara 'P' (ꦥ) diikuti oleh 'U' (ꦸ). Kemudian, suku kata "spa" akan ditulis dengan 'S' (ꦱ) dan 'P' (ꦥ) yang saling berpasangan, dan 'a' (ꦭ). Ini adalah contoh di mana posisi aksara 'S' akan membutuhkan pasangannya jika ia berada di tengah kata dan diikuti konsonan lain.
Ini adalah contoh yang lebih rumit, namun ilustrasi di atas menunjukkan bahwa aksara yang diikuti oleh konsonan lain seringkali memerlukan pasangan. Untuk "puspala", penulisan yang lebih tepat adalah ꦥꦸꦱ꧀ꦥꦭ, di mana "pus" dihilangkan vokalnya dengan cecak, dan "pa" ditulis normal. Jika kata tersebut benar-benar memerlukan pasangan SA, misalnya "paspat" (kata imajiner), maka strukturnya akan berbeda.
Sebagai perbaikan: Jika kita ingin menulis kata yang memiliki konsonan rangkap seperti "ps" (misalnya dalam bahasa asing yang diadopsi ke dalam bahasa Jawa), barulah pasangan aksara "SA" digunakan.
Penting untuk diingat bahwa penggunaan pasangan aksara tidak selalu berarti menghilangkan vokal 'a'. Pasangan aksara digunakan ketika suku kata **sebelumnya** berakhiran konsonan yang ingin dihilangkan vokalnya, dan suku kata **sesudahnya** dimulai dengan konsonan. Jika suku kata pertama berakhiran vokal selain 'a', maka tidak perlu pasangan. Jika suku kata kedua dimulai dengan vokal, maka tidak perlu pasangan.
Bagi banyak pembelajar aksara Jawa, pengenalan dan penguasaan bentuk-bentuk pasangan aksara merupakan salah satu tantangan terbesar. Setiap aksara dasar memiliki bentuk pasangannya sendiri yang unik. Bentuk pasangan aksara "SA" mungkin terlihat mirip dengan aksara dasarnya, namun posisinya yang berada di bawah dan seringkali lebih kecil membedakannya.
Tips untuk menguasai pasangan aksara "SA" dan aksara lainnya:
Pasangan aksara "SA" adalah salah satu elemen fundamental dalam penulisan aksara Jawa. Memahami kapan dan bagaimana menggunakannya akan membuka pintu untuk membaca dan menulis teks-teks Jawa dengan lebih akurat dan indah. Meskipun terkadang menantang, ketekunan dalam mempelajari dan berlatih akan membuahkan hasil. Nikmati perjalanan Anda dalam menjelajahi kekayaan aksara Jawa!