Alt Text: Ilustrasi seorang anak yang sedang belajar dengan simbol hati yang melambangkan kebaikan budi pekerti.
Pendidikan di tingkat diniyah tidak hanya berfokus pada penguasaan ilmu agama, seperti membaca Al-Qur'an atau mempelajari dasar-dasar fikih. Salah satu pilar terpenting dalam kurikulum diniyah adalah penanaman akhlak mulia. Akhlak, atau moralitas, adalah fondasi karakter seseorang yang akan membentuk cara mereka berinteraksi dengan diri sendiri, keluarga, lingkungan, dan Tuhan mereka.
Mengapa pelajaran akhlak begitu krusial di usia dini? Karena masa kanak-kanak adalah periode emas (golden age) di mana pola pikir dan kebiasaan mudah dibentuk. Memberikan pondasi akhlak yang kuat sejak dini akan membantu anak menavigasi tantangan hidup dengan integritas dan empati.
Dalam konteks pendidikan Islam, akhlak mencakup segala tingkah laku yang terpuji, baik ucapan maupun perbuatan. Pelajaran akhlak kelas diniyah biasanya diperkenalkan melalui kisah-kisah teladan, contoh nyata, dan penekanan pada nilai-nilai universal seperti kejujuran, kesopanan, rasa hormat, dan tanggung jawab.
Beberapa aspek utama yang diajarkan meliputi:
Mengajarkan akhlak kepada anak usia dini tidak bisa dilakukan hanya melalui ceramah. Metode yang diterapkan harus interaktif, menyenangkan, dan relevan dengan pengalaman sehari-hari mereka. Guru diniyah perlu menjadi contoh nyata dari akhlak yang mereka ajarkan.
Metode yang sering digunakan antara lain:
Hasil dari pendidikan akhlak diniyah yang baik akan terlihat jauh setelah anak meninggalkan bangku sekolah. Anak yang dibekali akhlak akan tumbuh menjadi individu yang seimbang antara kecerdasan intelektual (IQ), emosional (EQ), dan spiritual (SQ). Mereka akan mampu mengendalikan emosi negatif, menyelesaikan konflik dengan cara yang damai, serta memiliki rasa empati yang tinggi terhadap sesama makhluk.
Pelajaran akhlak di tingkat diniyah adalah investasi jangka panjang. Jika ilmu agama adalah 'apa' yang harus diperbuat, maka akhlak adalah 'bagaimana' cara melakukannya dengan baik dan benar. Keduanya harus berjalan beriringan agar lulusan diniyah tidak hanya cerdas secara ilmu, tetapi juga berkarakter mulia dan bermanfaat bagi kemaslahatan umat manusia.
Oleh karena itu, para pendidik dan orang tua memiliki peran ganda dalam memastikan bahwa setiap pelajaran akhlak yang disampaikan diterima dengan baik, ditanamkan dalam hati, dan dipraktikkan dalam setiap langkah kehidupan mereka.