Pemeriksaan Air Mani (Analisis Semen)

Pengantar Pemeriksaan Air Mani

Pemeriksaan air mani, atau yang sering disebut analisis semen, adalah prosedur laboratorium penting yang digunakan untuk mengevaluasi kualitas sperma dan cairan seminal. Pemeriksaan ini umumnya direkomendasikan ketika pasangan mengalami kesulitan untuk hamil (infertilitas pria). Air mani berfungsi sebagai medium yang membawa sperma dari testis ke saluran reproduksi wanita. Oleh karena itu, gangguan pada kualitas atau kuantitas air mani dapat menjadi penyebab utama masalah kesuburan.

Analisis semen memberikan gambaran komprehensif mengenai berbagai parameter sperma, termasuk konsentrasi, motilitas (kemampuan bergerak), dan morfologi (bentuk). Hasil pemeriksaan ini sangat krusial bagi dokter spesialis andrologi atau urologi dalam menentukan langkah penanganan lebih lanjut, apakah memerlukan perubahan gaya hidup, terapi obat, atau prosedur bantuan reproduksi seperti In Vitro Fertilization (IVF) atau Intrauterine Insemination (IUI).

Diagram sederhana komponen analisis air mani Motilitas Tinggi Morfologi Buruk Konsentrasi (Jumlah Sperma)

Prosedur Pengambilan Sampel

Kunci keberhasilan analisis air mani sangat bergantung pada prosedur pengambilan sampel yang benar. Sampel biasanya dikumpulkan melalui masturbasi di lingkungan privat yang disediakan oleh klinik atau laboratorium. Beberapa hal penting yang perlu diperhatikan:

Parameter Utama yang Diperiksa

Laboratorium akan menganalisis sampel air mani berdasarkan standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Parameter utama yang diukur meliputi:

1. Volume

Volume cairan ejakulat diukur dalam mililiter (ml). Volume normal umumnya berkisar antara 1.5 ml hingga 5 ml. Volume yang sangat rendah (hipospermia) bisa mengindikasikan obstruksi atau masalah pada kelenjar aksesori.

2. Konsentrasi Sperma (Jumlah)

Ini mengukur jumlah sperma per mililiter cairan. Batas normal minimum saat ini adalah 15 juta sperma per ml. Konsentrasi yang rendah disebut oligospermia.

3. Motilitas (Gerakan)

Motilitas dinilai berdasarkan persentase sperma yang bergerak. Ada tiga kategori: bergerak maju cepat (progresif), bergerak di tempat (non-progresif), dan tidak bergerak sama sekali. Setidaknya 40% sperma harus menunjukkan pergerakan progresif agar dianggap normal.

4. Morfologi (Bentuk)

Morfologi menilai bentuk kepala, bagian tengah, dan ekor sperma. Sperma yang bentuknya normal cenderung lebih efektif dalam membuahi sel telur. Jika kurang dari 4% sperma memiliki morfologi normal, ini dikategorikan sebagai teratozoospermia.

Parameter Tambahan:

Interpretasi Hasil dan Langkah Selanjutnya

Hasil pemeriksaan air mani adalah salah satu indikator paling penting dalam diagnosis infertilitas pria. Jika ditemukan abnormalitas, dokter akan melakukan evaluasi lebih lanjut. Misalnya, oligospermia parah mungkin memerlukan analisis genetik atau pemeriksaan fisik untuk mencari varikokel.

Penting untuk diingat bahwa hasil tes tunggal tidak selalu menjadi kesimpulan akhir. Seringkali, dokter menganjurkan pengulangan tes setelah beberapa minggu, karena kualitas sperma dapat berfluktuasi dipengaruhi oleh stres, penyakit baru-baru ini, atau perubahan gaya hidup. Terapi yang mungkin ditawarkan berkisar dari suplemen nutrisi, terapi hormonal, hingga prosedur seperti TESE (Testicular Sperm Extraction) jika memang tidak ditemukan sperma dalam ejakulat (azoospermia).

🏠 Homepage