Isu mengenai penderita penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan tantangan kesehatan global yang kompleks, tidak hanya terkait dengan aspek medis penularan virus HIV, tetapi juga dimensi sosial, ekonomi, dan demografi. Salah satu pertanyaan penting dalam epidemiologi penyakit ini adalah mengenai distribusi penderitanya berdasarkan karakteristik demografis, khususnya jenis kelamin. Secara historis dan berdasarkan data global terkini, terdapat pola yang signifikan mengenai jenis kelamin yang paling banyak terjangkit atau paling rentan terhadap infeksi HIV/AIDS.
Data dari berbagai lembaga kesehatan dunia secara konsisten menunjukkan bahwa penderita penyakit aids kebanyakan diderita oleh manusia yang berjenis kelamin laki-laki di skala global. Angka ini mencakup baik mereka yang hidup dengan HIV (ODHA) maupun kasus baru yang terdiagnosis. Ada beberapa faktor kompleks yang berkontribusi terhadap prevalensi yang lebih tinggi pada populasi laki-laki, meskipun perlu dicatat bahwa di beberapa wilayah spesifik, terutama di Afrika Sub-Sahara, prevalensi pada perempuan muda dan dewasa seringkali lebih tinggi.
Distribusi gender dalam kasus HIV/AIDS dipengaruhi oleh perilaku risiko, kerentanan biologis, serta norma sosial budaya. Dalam konteks global di mana laki-laki mendominasi secara jumlah total kasus, faktor-faktor berikut sering diidentifikasi:
Meskipun secara kuantitas global didominasi laki-laki, penting untuk menekankan bahwa perempuan menghadapi kerentanan yang jauh lebih tinggi dalam aspek biologis dan sosiologis. Secara biologis, hubungan seks vaginal membuat perempuan secara fisik lebih rentan tertular HIV daripada laki-laki. Selain itu, kerentanan ini diperkuat oleh faktor sosial seperti ketidaksetaraan gender, di mana perempuan seringkali memiliki kekuatan tawar-menawar yang lebih rendah dalam negosiasi penggunaan kondom, serta tingginya risiko kekerasan seksual. Di kawasan Afrika Sub-Sahara, prevalensi HIV pada perempuan remaja dan dewasa muda seringkali melampaui prevalensi pada laki-laki pada kelompok usia yang sama, menjadikannya fokus utama intervensi pencegahan yang berorientasi pada pemberdayaan perempuan.
Penanggulangan AIDS memerlukan pendekatan yang peka gender. Bagi laki-laki, fokus harus diarahkan pada pengurangan perilaku berisiko dan penghapusan stigma yang menghalangi mereka mengakses layanan kesehatan. Sementara itu, untuk perempuan, upaya pencegahan harus menyertakan pemberdayaan ekonomi dan sosial agar mereka mampu membuat keputusan yang aman terkait kesehatan seksual mereka.
Kesimpulannya, melihat data agregat, penderita penyakit aids kebanyakan diderita oleh manusia yang berjenis kelamin laki-laki secara global, namun hal ini tidak boleh menutupi kenyataan bahwa perempuan, khususnya di wilayah tertentu, menanggung beban epidemiologi yang sangat berat karena kerentanan struktural mereka. Upaya pencegahan dan pengobatan harus secara spesifik menargetkan kedua kelompok ini dengan strategi yang disesuaikan dengan konteks sosial dan perilaku spesifik mereka.