Dalam lautan hikmah yang terkandung dalam Al-Qur'an, terdapat ayat-ayat yang menjadi panduan fundamental bagi umat Islam. Salah satu ayat yang sarat makna dan menjadi tolok ukur keimanan seseorang adalah Surat Al-Anfal ayat 72. Ayat ini secara gamblang mendefinisikan karakteristik seorang mukmin sejati dan tanggung jawab yang melekat padanya, bukan sekadar klaim lisan semata, melainkan manifestasi nyata dalam tindakan dan komitmen.
Ayat 72 dari Surat Al-Anfal ini membagi kaum beriman ke dalam dua kategori utama, memberikan gambaran yang jelas tentang sejauh mana seseorang dapat dianggap sebagai bagian integral dari komunitas mukmin yang sesungguhnya. Kategori pertama adalah mereka yang telah memenuhi tiga syarat utama: beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta dan jiwa.
Beriman adalah pondasi utama. Tanpa keimanan yang tulus kepada Allah SWT dan ajaran-Nya, seluruh tindakan lainnya menjadi sia-sia. Namun, iman yang sejati tidak berhenti pada keyakinan hati, melainkan harus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.
Berhijrah dalam konteks ayat ini tidak hanya merujuk pada perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah yang dilakukan oleh para sahabat Nabi Muhammad SAW untuk menyelamatkan akidah mereka dari siksaan kaum kafir Quraisy. Secara lebih luas, hijrah dapat diartikan sebagai meninggalkan segala sesuatu yang dilarang Allah dan berpindah kepada ketaatan kepada-Nya, baik itu meninggalkan maksiat, meninggalkan lingkungan yang buruk, atau bahkan meninggalkan kebiasaan buruk yang menghalangi kemajuan spiritual.
Berjihad dengan harta dan jiwa menunjukkan komitmen total seorang mukmin. Jihad di sini mencakup berbagai bentuk perjuangan di jalan Allah, termasuk membela agama dari ancaman, menyumbangkan harta untuk kemaslahatan umat, serta mengerahkan seluruh potensi diri, bahkan jika itu berarti mempertaruhkan nyawa. Ini adalah bukti nyata dari kecintaan seseorang kepada Allah yang melampaui kecintaan pada diri sendiri, keluarga, harta, dan dunia.
Ayat ini juga secara spesifik menyebutkan golongan kedua, yaitu mereka yang memberikan tempat kediaman dan pertolongan. Golongan ini adalah kaum Anshar di Madinah yang menerima dan memberikan perlindungan serta dukungan kepada kaum Muhajirin yang datang dari Makkah. Keterkaitan antara Muhajirin dan Anshar digambarkan dengan frasa "mereka itu adalah pelindung sebagian terhadap sebagian yang lain." Ini menekankan pentingnya persaudaraan sesama mukmin, di mana saling menolong dan melindungi adalah sebuah keharusan yang mengikat mereka. Kebersamaan ini adalah wujud dari kekuatan ukhuwah Islamiyah yang kokoh.
Selanjutnya, ayat ini menegaskan bahwa orang-orang yang beriman tetapi belum berhijrah tidak serta merta memiliki hak perlindungan yang sama seperti mereka yang telah berhijrah dan berjihad. Hal ini memberikan peringatan penting bahwa keimanan semata tanpa disertai tindakan nyata untuk memperbaiki diri dan kondisi, serta meninggalkan kemaksiatan, belum menjadikan seseorang seutuhnya bagian dari lingkaran pertolongan dan kepemimpinan mukmin. Mereka memiliki kewajiban untuk melakukan hijrah, baik secara fisik maupun spiritual, agar dapat sepenuhnya terintegrasi dalam persaudaraan mukmin.
Namun demikian, ayat ini juga memberikan solusi dan arahan. Jika mereka yang belum berhijrah meminta pertolonganmu dalam urusan agama, maka menjadi kewajiban bagi orang-orang yang telah berhijrah untuk menolong mereka. Ini menunjukkan bahwa pintu taubat dan perbaikan diri selalu terbuka. Pertolongan ini diberikan kecuali jika mereka berasal dari kaum yang memiliki perjanjian damai dengan kaum mukmin, untuk menjaga integritas dan komitmen perjanjian yang telah dibuat.
Surat Al-Anfal ayat 72 mengajarkan kita bahwa keimanan yang benar adalah yang terwujud dalam amal nyata. Ia mendorong kita untuk terus-menerus mengukur sejauh mana komitmen kita terhadap Islam. Apakah iman kita hanya sebatas pengakuan lisan, ataukah ia telah merasuk ke dalam jiwa dan mendorong kita untuk berhijrah dari keburukan menuju kebaikan, dan berjihad dengan segala kemampuan kita untuk menegakkan kalimat Allah?
Ayat ini juga menegaskan pentingnya membangun solidaritas dan kepedulian antar sesama mukmin. Saling melindungi, menolong, dan mendukung adalah pondasi keutuhan umat. Bagi mereka yang merasa masih belum sepenuhnya terhubung atau merasa terasing, ayat ini memberikan motivasi untuk melakukan muhasabah dan berupaya untuk menjadi bagian yang lebih aktif dan berkontribusi dalam barisan kaum beriman.
Pada akhirnya, keindahan Islam terletak pada keseimbangan antara keyakinan hati dan tindakan nyata. Ayat 72 Al-Anfal adalah pengingat abadi bahwa menjadi mukmin sejati adalah sebuah proses perjuangan yang berkelanjutan, yang diiringi dengan tanggung jawab untuk berbuat baik kepada sesama dan senantiasa berada di jalan Allah. Allah SWT Maha Melihat segala amal perbuatan kita, sehingga setiap upaya dalam kebaikan akan selalu bernilai di sisi-Nya.