Ilustrasi: Virus HIV menyerang sel kekebalan tubuh (Sel T CD4).
Pertanyaan mendasar mengenai penyakit AIDS disebabkan oleh apa selalu bermuara pada satu jawaban: infeksi oleh Virus Imunodefisiensi Manusia (HIV). AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) bukanlah penyakit yang berdiri sendiri, melainkan stadium akhir atau komplikasi parah yang timbul setelah seseorang terinfeksi HIV dan sistem kekebalan tubuhnya telah rusak secara signifikan.
HIV adalah retrovirus yang secara spesifik menargetkan dan menghancurkan sel-sel sistem kekebalan tubuh, terutama sel limfosit T CD4+ (sel T penolong). Sel-sel ini sangat penting karena berfungsi sebagai "komandan" dalam respons imun tubuh, mengatur bagaimana tubuh melawan infeksi dan penyakit lainnya. Ketika jumlah sel T CD4+ turun di bawah ambang batas kritis (biasanya di bawah 200 sel per milimeter kubik darah), tubuh menjadi sangat rentan terhadap infeksi oportunistik dan keganasan tertentu yang jarang terjadi pada orang dengan sistem imun sehat. Kondisi kerentanan inilah yang didefinisikan sebagai AIDS.
Proses dari infeksi awal HIV hingga berkembang menjadi AIDS membutuhkan waktu bertahun-tahun (rata-rata 8-10 tahun tanpa pengobatan), melalui beberapa tahap perkembangan:
Singkatnya, HIV adalah penyebabnya, dan AIDS adalah manifestasi klinis dari kegagalan sistem imun akibat serangan kronis oleh virus tersebut.
Memahami bahwa penyakit AIDS disebabkan oleh virus HIV juga berarti memahami bagaimana virus ini menyebar. HIV sangat rapuh di luar tubuh manusia dan tidak menular melalui kontak sosial biasa seperti berpelukan, berjabat tangan, berbagi makanan, atau melalui udara (batuk/bersin). Penularan hanya terjadi melalui pertukaran cairan tubuh tertentu yang mengandung konsentrasi virus tinggi:
Meskipun HIV/AIDS adalah kondisi serius, kemajuan medis telah mengubah prognosisnya secara drastis. Saat ini, infeksi HIV bukan lagi hukuman mati berkat ketersediaan Terapi Antiretroviral (ARV).
ARV bekerja dengan menghambat replikasi virus dalam tubuh. Jika obat ini dikonsumsi secara teratur sesuai anjuran dokter, viral load (jumlah virus dalam darah) dapat ditekan hingga mencapai tingkat yang tidak terdeteksi (Undetectable). Kondisi ini dikenal sebagai U=U (Undetectable = Untransmittable), yang berarti individu dengan HIV yang menjalani pengobatan dengan baik tidak akan menularkan virus kepada pasangannya melalui hubungan seksual.
Pencegahan tetap menjadi kunci utama untuk menghentikan penyebaran virus. Edukasi mengenai perilaku aman, penggunaan kondom yang benar, serta tes HIV rutin sangat penting untuk memastikan individu yang positif dapat segera memulai pengobatan dan menjaga kualitas hidup mereka.