Representasi visual virus penyebab AIDS.
Penyakit AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) merupakan stadium akhir dari infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). AIDS bukanlah penyakit tunggal, melainkan kumpulan gejala dan infeksi oportunistik yang muncul akibat kerusakan sistem kekebalan tubuh yang parah yang disebabkan oleh virus HIV. Virus ini secara spesifik menyerang dan menghancurkan sel-sel penting dalam sistem imun, terutama sel T-helper (CD4+), yang berfungsi sebagai komandan pertahanan tubuh terhadap patogen lain.
Penting untuk membedakan antara HIV dan AIDS. Seseorang dapat terinfeksi HIV selama bertahun-tahun tanpa menunjukkan gejala dan belum tentu mengidap AIDS. Namun, tanpa pengobatan antiretroviral (ARV) yang efektif, virus HIV akan terus bereplikasi, merusak sistem imun, dan pada akhirnya menyebabkan tubuh menjadi sangat rentan terhadap berbagai penyakit infeksi dan kanker tertentu, yang kemudian dikategorikan sebagai sindrom AIDS.
Penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus HIV menuntut pemahaman mendalam mengenai mekanisme penularannya. HIV tidak menular melalui sentuhan biasa, gigitan nyamuk, berbagi makanan, atau penggunaan toilet bersama. Penularan terjadi ketika cairan tubuh yang mengandung konsentrasi virus yang cukup tinggi masuk ke dalam aliran darah orang lain yang sehat.
Tiga jalur penularan utama meliputi:
Ketika virus HIV masuk ke dalam tubuh, ia mencari sel CD4+. Virus menggunakan mesin seluler ini untuk membuat salinan dirinya sendiri. Proses ini akhirnya menyebabkan kematian sel CD4+. Seiring berjalannya waktu, jumlah sel CD4+ dalam darah akan menurun drastis. Jika hitungan sel CD4+ jatuh di bawah ambang batas tertentu (biasanya 200 sel per milimeter kubik darah), dan disertai dengan adanya infeksi oportunistik tertentu, maka kondisi tersebut didiagnosis sebagai AIDS.
Tanpa pertahanan yang memadai, tubuh menjadi sasaran empuk bagi organisme yang biasanya tidak berbahaya bagi orang sehat, seperti jamur Pneumocystis jirovecii (menyebabkan pneumonia), berbagai jenis tuberkulosis (TB), toksoplasmosis, dan beberapa jenis kanker seperti sarkoma Kaposi. Inilah yang membuat AIDS sangat mematikan jika tidak ditangani.
Meskipun belum ada obat yang bisa menyembuhkan HIV/AIDS secara total, kemajuan medis telah mengubah diagnosis HIV dari vonis mati menjadi kondisi kronis yang dapat dikelola. Pengobatan utama adalah Terapi Antiretroviral (ARV). ARV bekerja dengan cara menghambat replikasi virus HIV dalam tubuh. Ketika seseorang yang hidup dengan HIV mengonsumsi ARV secara teratur dan mencapai status 'tidak terdeteksi' (viral load sangat rendah), mereka tidak hanya tetap sehat tetapi juga tidak dapat menularkan virus tersebut kepada pasangan seksual mereka (konsep U=U: Undetectable = Untransmittable).
Pencegahan tetap menjadi kunci utama dalam mengendalikan penyebaran penyakit AIDS yang disebabkan oleh virus ini. Pendidikan mengenai risiko penularan, penggunaan kondom yang benar dan konsisten, serta program pencegahan seperti PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) bagi mereka yang berisiko tinggi, adalah pilar utama dalam strategi kesehatan masyarakat global untuk mengakhiri epidemi AIDS. Stigma dan diskriminasi terhadap ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) juga harus terus dilawan agar orang merasa aman untuk dites dan mendapatkan pengobatan.