Ejakulasi yang kuat dan memancar adalah hal yang sering dianggap normal dalam aktivitas seksual. Namun, sebagian pria mungkin mengalami kondisi di mana air mani tidak memancar dengan deras atau justru hanya menetes. Fenomena ini bisa menimbulkan kekhawatiran terkait kesuburan atau fungsi seksual secara umum. Penting untuk dipahami bahwa kekuatan pancaran ejakulasi dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi fisik hingga psikologis.
Kekuatan ejakulasi sangat bergantung pada fungsi otot-otot di sekitar panggul dan prostat. Otot-otot ini bertanggung jawab untuk mendorong air mani keluar dari uretra dengan tekanan yang cukup.
Otot dasar panggul (sering disebut otot PC atau Pubococcygeus) memainkan peran krusial dalam fase ejakulasi. Kontraksi otot ini yang mendorong semen keluar. Jika otot-otot ini melemah akibat penuaan, cedera, atau kurang terlatih, daya dorong ejakulasi akan berkurang.
Prostat dan vesikula seminalis (kantung mani) memproduksi sebagian besar cairan ejakulat. Kondisi seperti prostatitis (peradangan prostat) atau pembesaran prostat jinak (BPH) dapat mengganggu produksi atau saluran keluarnya cairan semen, yang mengakibatkan volume ejakulat menurun dan pancaran melemah.
Penyumbatan parsial pada saluran ejakulasi, meskipun jarang, bisa menjadi penyebab. Penyumbatan ini bisa disebabkan oleh kista, batu kecil, atau bekas infeksi yang menyebabkan jaringan parut.
Ini adalah kondisi medis serius di mana semen, bukannya keluar melalui penis, malah mengalir kembali ke kandung kemih selama orgasme. Meskipun ejakulasi terjadi, tidak ada atau hanya sedikit cairan yang keluar dari penis. Kondisi ini sering dikaitkan dengan diabetes, operasi prostat atau kandung kemih, atau obat-obatan tertentu.
Selain masalah struktural dan fisiologis, gaya hidup juga memegang peranan signifikan dalam kualitas ejakulasi:
Kondisi mental sering kali diremehkan namun sangat berpengaruh pada fungsi seksual pria. Kecemasan kinerja (performance anxiety), stres kronis, atau masalah hubungan dapat menghambat relaksasi yang diperlukan selama klimaks, yang secara tidak langsung memengaruhi koordinasi kontraksi otot yang diperlukan untuk ejakulasi yang kuat.
Ada beberapa langkah yang bisa dicoba untuk memperbaiki kondisi ini, terutama jika penyebabnya bukan karena kondisi medis yang mendasarinya:
Memahami bahwa kekuatan ejakulasi bisa bervariasi adalah normal. Namun, jika perubahan tersebut mengganggu atau menimbulkan kekhawatiran, mencari nasihat profesional adalah langkah terbaik untuk memastikan kesehatan seksual dan reproduksi Anda.