Kualitas ejakulasi yang baik, termasuk kekuatan atau kecepatan semburan sperma, sering kali menjadi perhatian bagi banyak pria. Semburan sperma yang tadinya kuat namun kini terasa melemah atau tidak kencang dapat memicu kecemasan mengenai kesuburan atau kesehatan seksual secara umum. Penting untuk dipahami bahwa variasi adalah hal yang normal, namun jika perubahan ini persisten dan mengganggu, ada beberapa faktor mendasar yang perlu dieksplorasi.
Faktor Fisik dan Anatomis
Kekuatan ejakulasi sangat bergantung pada kontraksi otot-otot di dasar panggul, terutama otot pubococcygeus (PC) dan otot bulbospongiosus. Ketika kontraksi ini melemah, dorongan ejakulasi otomatis ikut berkurang.
Kelemahan Otot Panggul Dasar (Pelvic Floor): Sama seperti otot lain di tubuh, otot PC bisa melemah seiring bertambahnya usia atau karena kurangnya latihan (seperti senam Kegel). Otot ini bertanggung jawab atas kekuatan dorongan akhir saat ejakulasi.
Masalah pada Prostat dan Vesikula Seminalis: Kedua kelenjar ini memproduksi sebagian besar cairan semen. Peradangan (prostatitis) atau kondisi lain pada organ ini dapat memengaruhi volume dan tekanan cairan yang dikeluarkan.
Ejakulasi Retrograde: Meskipun tidak secara langsung membuat semburan lemah, kondisi ini menyebabkan sebagian atau seluruh semen bergerak mundur ke kandung kemih alih-alih keluar melalui uretra. Sisa semen yang keluar mungkin terasa sedikit dan tidak memiliki tekanan yang kuat.
Peran Hormon dan Kesehatan Umum
Keseimbangan hormon memainkan peran krusial dalam fungsi seksual pria. Penurunan kadar testosteron, hormon utama pria, dapat berdampak pada libido, volume ejakulasi, dan kekuatan otot secara keseluruhan.
Kadar Testosteron Rendah (Hipogonadisme): Kadar testosteron yang menurun, seringkali terkait dengan usia lanjut, obesitas, atau kondisi medis tertentu, dapat mengurangi dorongan seksual dan kekuatan ejakulasi.
Efek Samping Obat-obatan: Beberapa jenis obat, terutama antidepresan (khususnya SSRI), obat tekanan darah tinggi, dan beberapa obat penenang, diketahui memiliki efek samping berupa gangguan ejakulasi, termasuk pengurangan volume atau kekuatan semburan.
Gaya Hidup dan Faktor Psikologis
Faktor non-medis seringkali menjadi penyebab sementara namun signifikan dari semburan yang tidak kencang. Aspek psikologis memiliki koneksi erat dengan respons fisik seksual.
Tekanan dan Stres: Kecemasan kinerja (performance anxiety), stres kronis, atau masalah hubungan dapat menekan sistem saraf pusat, yang pada akhirnya memengaruhi respons fisiologis tubuh selama gairah dan orgasme, mengakibatkan ejakulasi yang kurang bertenaga.
Selain itu, gaya hidup tidak sehat dapat berkontribusi pada masalah vaskular yang memengaruhi ereksi dan ejakulasi:
Merokok dan Alkohol Berlebihan: Kedua kebiasaan ini dapat merusak kesehatan pembuluh darah, yang penting untuk aliran darah yang optimal selama gairah seksual.
Kelelahan dan Kurang Tidur: Tubuh yang kelelahan memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mencapai respons seksual puncak.
Kapan Harus Berkonsultasi dengan Dokter?
Jika penurunan kekuatan semburan sperma terjadi tiba-tiba, sangat drastis, disertai rasa sakit, atau disertai masalah ereksi, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi. Dokter dapat melakukan pemeriksaan menyeluruh, termasuk tes darah untuk hormon, urinalisis, dan evaluasi fisik untuk menyingkirkan kondisi medis yang mendasari seperti infeksi atau masalah prostat.
Penanganan seringkali dimulai dari perubahan gaya hidup, terapi fisik (latihan Kegel), penyesuaian dosis obat (jika penyebabnya adalah efek samping), atau penanganan kondisi medis yang mendasarinya. Jangan biarkan kekhawatiran ini mengganggu kualitas hidup seksual Anda; pemahaman yang tepat mengenai penyebab adalah langkah pertama menuju solusi.