Surah Al-Isra, juga dikenal sebagai Surah Bani Israil, merupakan salah satu surat penting dalam Al-Qur'an yang sarat dengan pelajaran sejarah, hukum, dan etika. Ayat kedua dari surah ini secara spesifik menyoroti pemberian wahyu kepada Nabi Musa AS dan tugas yang diemban oleh umatnya terkait bimbingan ilahi.
Ayat kedua Surah Al-Isra dibuka dengan penegasan tentang karunia besar yang diberikan kepada Nabi Musa bin Imran, yaitu Kitab Taurat. Pemberian kitab ini bukanlah sekadar naskah hukum, melainkan berfungsi sebagai hudan (petunjuk) yang jelas bagi Bani Israil. Ini menggarisbawahi pentingnya wahyu tertulis sebagai landasan moral dan syariat bagi umat terdahulu.
Fokus utama dari ayat ini, yang menjadi inti perintah langsung setelah penyebutan Taurat, adalah larangan tegas: "Janganlah kamu menjadikan selain Aku ini sebagai penolong (wakil)." Kata wakil dalam konteks ini memiliki makna yang sangat luas, mencakup pelindung, pengurus urusan, sandaran, dan objek kepatuhan mutlak.
Perintah untuk tidak menjadikan selain Allah sebagai wakil adalah manifestasi murni dari prinsip Tauhid Rububiyah (keesaan Allah dalam penguasaan) dan Tauhid Uluhiyah (keesaan Allah dalam peribadatan dan ketaatan). Bagi Bani Israil, tantangan terbesar adalah kecenderungan untuk menyimpang dari ajaran Taurat, baik dengan mengikuti hawa nafsu, meniru praktik paganisme di sekitar mereka, atau bahkan mengkultuskan sebagian dari pemimpin mereka.
Ayat ini menjadi peringatan abadi bahwa sumber kekuatan, pertolongan, dan solusi atas segala permasalahan hidup harus selalu bersumber dari Allah semata. Menggantungkan harapan penuh pada kekuatan duniawi, jabatan, kekayaan, atau bahkan makhluk lain adalah bentuk syirik kecil (syirkul khafi) yang merusak fondasi keimanan.
Para mufassir menjelaskan bahwa ketika seseorang menjadikan makhluk sebagai wakil, ia menempatkan makhluk tersebut pada posisi yang seharusnya hanya dimiliki Allah. Ini dapat menyebabkan kekecewaan, karena makhluk tidak memiliki kemampuan sejati untuk memberikan pertolongan hakiki, terutama saat menghadapi takdir dan kematian.
Ada korelasi erat antara pemberian Taurat dan larangan berpegang pada selain Allah. Kitab suci itu sendiri adalah bukti bahwa Allah telah menyediakan petunjuk. Oleh karena itu, ketika petunjuk itu sudah ada, alasan untuk mencari penolong lain menjadi gugur. Taurat memberikan kerangka hukum; perintah wakil memberikan kerangka spiritualitas.
Ketika Bani Israil melanggar perintah ini—misalnya, dengan menyembah patung anak sapi (Al-Baghar) setelah menerima wahyu—mereka menunjukkan kegagalan untuk menerapkan inti ajaran Taurat yang telah diinstruksikan dalam ayat ini.
Walaupun ayat ini ditujukan pada Bani Israil, pesan Tauhid dalam mencari penolong (tawakkul) tetap relevan bagi umat Islam saat ini. Dalam menghadapi tantangan global, krisis ekonomi, atau tekanan sosial, ayat Al-Isra ayat 2 mengingatkan kita untuk:
Dengan memahami bahwa Allah adalah Al-Wakil (Yang Maha Memelihara dan Menangani Segala Urusan), seorang mukmin akan menemukan ketenangan batin dan keberanian untuk bertindak, karena ia tahu bahwa penolong sejatinya tidak pernah tidur dan tidak pernah mengecewakan hamba-Nya yang bertawakal.
Kesimpulannya, Surah Al-Isra ayat 2 adalah penegasan dualisme pondasi kebahagiaan spiritual: penerimaan bimbingan (wahyu) dan implementasi praktisnya (Tauhid mutlak dalam mencari pertolongan).