Penyebab Sperma Keluar Sedikit dan Cara Mengatasinya
Ilustrasi terkait volume cairan tubuh pria.
Masalah volume ejakulasi yang menurun, atau penyebab sperma keluar sedikit, adalah kondisi yang kerap dialami oleh pria. Meskipun volume ejakulasi bervariasi antar individu, penurunan drastis bisa menimbulkan kekhawatiran, terutama terkait kesuburan dan performa seksual. Penting untuk memahami bahwa volume ejakulat normal berkisar antara 1,5 ml hingga 5 ml per ejakulasi. Jika volume yang dikeluarkan jauh di bawah angka tersebut, ada beberapa faktor yang mungkin berperan.
Faktor Gaya Hidup dan Kebiasaan Sehari-hari
Gaya hidup memegang peran krusial dalam produksi dan volume cairan mani. Beberapa kebiasaan buruk dapat secara langsung memengaruhi produksi sperma dan cairan pelengkapnya:
Dehidrasi: Cairan mani sebagian besar terdiri dari air. Jika tubuh mengalami dehidrasi, produksi cairan tubuh secara keseluruhan, termasuk semen, akan menurun. Memastikan asupan air putih harian cukup adalah langkah pertama yang paling sederhana.
Frekuensi Ejakulasi: Terlalu seringnya ejakulasi dalam periode waktu singkat (misalnya, beberapa kali sehari berturut-turut) akan mengurangi volume cairan yang dihasilkan pada ejakulasi berikutnya karena organ reproduksi memerlukan waktu untuk mengisi kembali cadangan.
Stres dan Kelelahan: Stres kronis dapat mengganggu keseimbangan hormon, termasuk testosteron, yang dibutuhkan untuk produksi sperma yang optimal. Kelelahan ekstrem juga dapat berdampak pada kinerja seksual secara umum.
Kondisi Medis dan Hormonal
Di balik volume ejakulasi yang rendah, seringkali terdapat kondisi medis tertentu yang memerlukan perhatian profesional:
Gangguan Hormon: Kadar testosteron yang rendah (hipogonadisme) dapat mengurangi produksi sperma dan cairan seminal. Hormon lain seperti FSH (Follicle-Stimulating Hormone) dan LH (Luteinizing Hormone) juga penting dalam regulasi ini.
Penyumbatan Saluran Ejakulasi: Saluran yang membawa sperma dari testis ke uretra (seperti vas deferens atau epididimis) bisa tersumbat. Penyumbatan ini mungkin disebabkan oleh infeksi sebelumnya, cedera, atau kondisi bawaan. Meskipun sperma diproduksi, jalannya menuju luar terhambat, menyebabkan ejakulasi terlihat sedikit.
Masalah pada Kelenjar Aksesori: Cairan semen sebagian besar diproduksi oleh vesikula seminalis dan kelenjar prostat. Disfungsi atau peradangan pada salah satu kelenjar ini (misalnya prostatitis atau vesikulitis) dapat mengurangi volume total cairan yang dikeluarkan.
Ejakulasi Retrograde: Ini adalah kondisi di mana semen bukannya keluar melalui penis, malah mengalir mundur ke dalam kandung kemih saat orgasme. Meskipun ejakulasi terjadi, volume yang keluar terasa sangat sedikit atau bahkan tidak ada sama sekali (disebut ejakulasi kering). Kondisi ini sering terkait dengan diabetes yang tidak terkontrol, operasi prostat, atau efek samping obat-obatan tertentu.
Pengaruh Obat-obatan dan Prosedur Medis
Beberapa jenis obat dapat menjadi penyebab sperma keluar sedikit sebagai efek samping yang tidak diinginkan. Obat yang paling sering dikaitkan adalah obat yang memengaruhi sistem saraf atau tekanan darah, seperti:
Beberapa jenis antidepresan, terutama SSRI (Selective Serotonin Reuptake Inhibitors).
Obat-obatan untuk hipertensi (penghambat alfa).
Selain obat, riwayat operasi pada area panggul atau testis, termasuk operasi hernia atau pengangkatan prostat (prostatektomi), juga dapat memengaruhi fungsi saraf dan otot yang terlibat dalam ejakulasi.
Kapan Harus Menghubungi Dokter?
Jika Anda secara konsisten mengalami volume ejakulasi yang sangat rendah, terutama jika disertai dengan kesulitan mencapai ereksi, rasa sakit saat ejakulasi, atau jika Anda dan pasangan sedang berusaha untuk hamil, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi atau andrologi. Dokter akan melakukan evaluasi menyeluruh, yang mungkin meliputi analisis sperma (untuk mengukur jumlah sperma), tes hormon, dan pemeriksaan fisik.
Penanganan untuk penyebab sperma keluar sedikit sangat bergantung pada akar masalahnya. Jika disebabkan oleh gaya hidup, perubahan diet dan hidrasi bisa membantu. Jika disebabkan oleh infeksi atau penyumbatan, pengobatan spesifik diperlukan. Pada kasus ejakulasi retrograde, terkadang obat dapat diresepkan untuk membantu menutup katup kandung kemih selama ejakulasi.