Kualitas sperma merupakan faktor krusial dalam menentukan keberhasilan pembuahan dan kehamilan. Jika seorang pria mengalami masalah kesuburan, seringkali penyebabnya terkait dengan kerusakan pada sperma, baik dari segi jumlah, motilitas (kemampuan bergerak), maupun morfologi (bentuk). Memahami penyebab sperma rusak sangat penting untuk mengambil langkah pencegahan dan pengobatan yang tepat.
Gaya hidup sehari-hari memiliki dampak langsung dan signifikan terhadap produksi serta kesehatan sperma. Beberapa kebiasaan buruk dapat merusak integritas genetik dan fisik sel sperma.
Asupan nutrisi yang buruk dapat menyebabkan stres oksidatif, yang merupakan musuh utama kesehatan sperma. Makanan tinggi lemak jenuh, gula olahan, dan minim antioksidan membuat sel sperma rentan terhadap kerusakan radikal bebas. Kekurangan vitamin seperti Zinc, Selenium, Vitamin C, dan Vitamin E terbukti berkorelasi dengan penurunan kualitas sperma.
Testis, tempat sperma diproduksi, harus dijaga pada suhu yang sedikit lebih rendah dari suhu tubuh normal. Aktivitas yang meningkatkan suhu skrotum dapat mengganggu spermatogenesis. Ini termasuk penggunaan laptop di pangkuan dalam waktu lama, mandi air panas (hot tub), sauna, atau mengenakan pakaian dalam yang terlalu ketat.
Kelebihan berat badan menyebabkan perubahan hormonal. Jaringan lemak menghasilkan enzim yang mengubah testosteron menjadi estrogen, sehingga menurunkan kadar hormon pria. Selain itu, obesitas seringkali meningkatkan suhu di area skrotum, memperburuk kondisi sperma.
Selain gaya hidup, ada beberapa kondisi medis dan paparan lingkungan yang menjadi penyebab utama sperma menjadi rusak.
Varikokel adalah pembengkakan pembuluh darah di dalam skrotum. Kondisi ini sering digambarkan sebagai "varises pada testis". Varikokel menyebabkan penumpukan darah, yang meningkatkan suhu di area testis. Ini adalah salah satu penyebab paling umum dari infertilitas pria yang dapat diobati.
Infeksi seperti gondongan (mumps) yang menyerang testis setelah masa pubertas dapat menyebabkan kerusakan permanen. PMS seperti klamidia dan gonore, jika tidak diobati, dapat menyebabkan peradangan dan penyumbatan pada saluran epididimis, yang mengganggu perjalanan dan kualitas sperma.
Beberapa zat kimia di lingkungan kerja atau rumah dapat bertindak sebagai pengganggu endokrin. Contohnya termasuk pestisida, logam berat (seperti timbal dan kadmium), ftalat (ditemukan pada plastik tertentu), dan bisphenol A (BPA). Paparan kronis terhadap zat ini telah terbukti mengganggu perkembangan sperma.
Keseimbangan hormon sangat penting untuk produksi sperma yang sehat. Masalah pada kelenjar hipofisis, hipotalamus, atau masalah pada testis itu sendiri dapat menyebabkan produksi sperma yang sangat rendah atau bahkan nol.
Kabar baiknya, produksi sperma adalah proses berkelanjutan yang memakan waktu sekitar 72 hingga 90 hari. Oleh karena itu, perubahan positif pada gaya hidup dapat mulai menunjukkan perbaikan dalam beberapa bulan.
Jika Anda atau pasangan Anda sedang menghadapi tantangan kesuburan, berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau urologi sangat dianjurkan untuk mendapatkan diagnosis penyebab sperma rusak yang spesifik dan rencana penanganan yang sesuai.