Kesehatan reproduksi pria seringkali dinilai berdasarkan kualitas dan kuantitas spermanya. Banyak pria yang khawatir ketika menyadari bahwa volume air mani (semen) mereka tampak sedikit atau memiliki konsistensi yang lebih encer dari biasanya. Kondisi ini, yang secara medis sering disebut sebagai hipospermia (volume rendah) atau perubahan viskositas, bisa menjadi indikasi adanya masalah mendasar yang perlu diperhatikan, terutama jika pasangan sedang merencanakan kehamilan.
Ilustrasi visualisasi volume air mani yang berkurang.
Faktor Penyebab Sperma Sedikit (Hiperspermia)
Volume ejakulasi normal biasanya berkisar antara 1,5 hingga 5 mililiter (setara dengan sekitar sepertiga sendok teh). Ketika volume secara konsisten di bawah 1,5 ml, kondisi ini dikategorikan sebagai hipospermia. Beberapa faktor utama yang dapat menyebabkan volume ejakulasi berkurang meliputi:
1. Frekuensi Ejakulasi yang Tinggi
Ini adalah penyebab yang paling umum dan paling tidak mengkhawatirkan. Jika seorang pria berejakulasi beberapa kali dalam periode waktu yang singkat (misalnya, ejakulasi dua kali dalam beberapa jam), kelenjar penghasil cairan seminal tidak memiliki cukup waktu untuk memproduksi volume penuh, sehingga ejakulasi berikutnya akan lebih sedikit.
2. Sumbatan pada Saluran Reproduksi
Cairan semen terdiri dari sperma (yang hanya menyumbang sekitar 2-5%) dan cairan dari vesikula seminalis serta kelenjar prostat. Jika terjadi sumbatan (obstruksi) pada saluran ejakulasi, misalnya akibat infeksi, peradangan, atau riwayat operasi, cairan mungkin tidak dapat dikeluarkan secara maksimal, menyebabkan volume ejakulasi rendah.
3. Disfungsi Kelenjar
Kelenjar seperti vesikula seminalis dan prostat bertanggung jawab memproduksi sebagian besar cairan semen. Gangguan fungsi pada salah satu atau kedua kelenjar ini—disebabkan oleh infeksi, kondisi genetik, atau kekurangan hormon—dapat menurunkan produksi cairan.
4. Dehidrasi
Cairan semen sangat bergantung pada keseimbangan cairan dalam tubuh. Dehidrasi parah, seringkali karena asupan air yang kurang atau aktivitas fisik berat tanpa rehidrasi yang memadai, dapat mengurangi total volume cairan yang diproduksi tubuh, termasuk air mani.
5. Efek Samping Obat-obatan
Beberapa jenis obat, terutama yang digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi (seperti penghambat beta) atau masalah prostat (seperti finasteride), diketahui dapat memengaruhi volume ejakulasi sebagai efek samping.
Faktor Penyebab Sperma Encer
Selain volume, konsistensi atau kekentalan (viskositas) juga penting. Sperma yang sehat akan terlihat kental, berwarna putih keabu-abuan, dan mencair setelah 15-60 menit. Jika cairan mani terlihat sangat encer, transparan, atau mirip air, ini bisa mengindikasikan:
- Kadar Sperma Rendah (Oligospermia): Jika cairan terlalu banyak mengandung air dan sedikit sperma, tampilannya akan menjadi sangat encer. Hal ini sering terkait dengan kualitas sperma yang buruk.
- Ejakulasi Retrograde: Dalam kondisi ini, semen tidak keluar melalui uretra, melainkan mengalir kembali ke kandung kemih selama orgasme. Meskipun volume ejakulasi keluar sedikit, pria mungkin akan melihat urinnya menjadi keruh setelah buang air kecil.
- Waktu Interval Pendek: Seperti disebutkan di atas, ejakulasi yang terlalu sering membuat cairan yang dikeluarkan belum sepenuhnya matang dan tercampur dengan baik, sehingga lebih encer.
Kapan Harus Mencari Bantuan Medis?
Perubahan sesekali pada volume atau kekentalan sperma biasanya bukanlah hal yang perlu dikhawatirkan. Namun, Anda disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter spesialis andrologi atau urologi jika:
- Volume ejakulasi secara konsisten kurang dari 1,5 ml selama beberapa bulan.
- Anda mengalami nyeri saat ejakulasi atau buang air kecil.
- Semen Anda berwarna sangat merah muda, kuning, atau hijau (bisa menandakan infeksi).
- Anda dan pasangan sedang berusaha untuk hamil tanpa hasil setelah satu tahun.
Langkah Awal untuk Perbaikan
Sebelum mengunjungi dokter, beberapa perubahan gaya hidup sederhana dapat dicoba untuk melihat apakah volume dan konsistensi sperma membaik:
- Atur Jeda Ejakulasi: Beri jeda minimal 2-3 hari antara ejakulasi untuk memastikan produksi mencapai puncak.
- Tingkatkan Hidrasi: Pastikan asupan air putih harian Anda memadai.
- Pola Makan Sehat: Konsumsi makanan kaya antioksidan, zinc, dan selenium yang mendukung produksi sperma yang sehat.
- Batasi Alkohol dan Rokok: Zat-zat ini terbukti dapat mengganggu fungsi hormonal dan produksi semen.
Memahami penyebab sperma sedikit dan encer adalah langkah pertama menuju pengelolaan kesehatan reproduksi yang lebih baik. Jangan ragu mencari nasihat profesional jika kekhawatiran Anda berlanjut.