Masjidil Aqsa, sering disebut sebagai Al-Haram Asy-Syarif, adalah salah satu situs paling suci dalam Islam, terletak di jantung Kota Tua Yerusalem. Bagi umat Muslim di seluruh dunia, melakukan perjalanan ke Masjidil Aqsa bukan sekadar wisata sejarah, melainkan sebuah ziarah (riyhlah) yang sarat makna spiritual. Tempat ini merupakan kiblat pertama umat Islam dan menjadi lokasi Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW.
Merencanakan kunjungan ke Al-Aqsa membutuhkan persiapan yang matang, baik dari segi logistik maupun mental. Perjalanan ini sering kali melibatkan melintasi batas-batas geografis dan politik yang kompleks. Namun, setiap tantangan di jalan akan terbayar lunas begitu kaki menjejak di kompleks suci tersebut, merasakan aura ketenangan yang telah ada selama ribuan tahun.
Setibanya di Yerusalem, atmosfer kota terasa berbeda. Berjalan kaki di antara lorong-lorong sempit Kota Tua, Anda akan menemukan perpaduan sejarah tiga agama besar. Namun, fokus utama tetaplah Al-Aqsa. Kompleks masjid ini sangat luas, mencakup Masjid Al-Qibli (masjid utama) dan Kubah Batu (Dome of the Rock) yang ikonik dengan kubah emasnya yang berkilauan.
Mengunjungi Al-Aqsa adalah kesempatan langka untuk beribadah di tempat yang keutamaannya sebanding dengan shalat di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa shalat di Masjidil Aqsa lebih utama seribu kali lipat dibandingkan shalat di tempat lain, kecuali di dua masjid suci lainnya. Pengalaman shalat di bawah bayangan Kubah Batu atau di area Musala Marwani memberikan kedamaian batin yang sulit ditemukan di tempat lain.
Perjalanan ke Masjidil Aqsa menuntut kesiapan khusus. Tidak seperti mengunjungi destinasi wisata biasa, ada protokol ketat yang harus dipatuhi, terutama menyangkut etika berpakaian dan jam operasional yang sering berubah karena situasi keamanan.
Berikut adalah beberapa aspek penting dalam persiapan perjalanan:
Bagi banyak peziarah, momen paling mengharukan adalah ketika mereka mengingat peristiwa Isra’ Mi’raj. Dari Al-Aqsa inilah Nabi Muhammad SAW diperjalankan Allah SWT ke langit ketujuh. Berdiam diri di area Al-Buraq Wall, yang diyakini sebagai tempat Nabi Muhammad SAW menambatkan Buraq, memberikan koneksi emosional yang kuat dengan sejarah Islam.
Selain Kubah Batu dan Masjid Al-Qibli, area sekitar masjid menyimpan banyak peninggalan penting seperti Sumur Arwah (Well of the Souls) dan berbagai gerbang bersejarah. Setiap sudutnya adalah saksi bisu dari pergantian zaman dan pusat peradaban. Melihat secara langsung struktur kuno dan membaca sejarahnya dari berbagai sumber memberikan perspektif baru tentang ketahanan iman.
Perjalanan ke Masjidil Aqsa lebih dari sekadar melihat monumen; ini adalah perjalanan refleksi diri, memperkuat kembali komitmen spiritual, dan merasakan persatuan ummah di salah satu tempat paling bersejarah di muka bumi. Meskipun tantangan logistik dan politik selalu ada, niat murni untuk beribadah dan berziarah akan senantiasa menjadi pemandu utama dalam mewujudkan impian kunjungan ini. Pengalaman ini akan meninggalkan jejak abadi dalam hati setiap Muslim yang berkesempatan mengunjunginya.
Semoga Allah SWT memudahkan setiap langkah menuju Baitul Maqdis.