Salah satu topik teologis yang sering menjadi bahan diskusi hangat dalam diskursus Islam adalah masalah sifat Allah, khususnya terkait dengan sifat Istiwa (bersemayam di atas Arsy). Di antara para ulama besar yang menjadi pilar utama pemahaman Sunni, Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki, memegang posisi sentral. Perkataannya mengenai Istiwa menjadi rujukan penting bagi banyak generasi.
Imam Malik (w. 179 H) dikenal sebagai figur yang sangat berhati-hati dalam membahas persoalan ghayb (hal-hal gaib) yang tidak dapat dijangkau oleh akal manusia semata. Ketika pertanyaan mengenai bagaimana Allah Istiwa datang kepadanya, jawaban beliau menjadi sangat terkenal dan sering dikutip. Beliau tidak berusaha menjelaskan hakikat atau cara (kaifiyyah) Istiwa tersebut, melainkan menegaskan prinsip dasar Ahlus Sunnah wal Jama'ah.
Pernyataan Klasik Imam Malik
Kisah yang paling masyhur mengenai respons Imam Malik datang dari pertanyaan seorang penanya yang datang kepadanya. Penanya tersebut meminta penjelasan tentang firman Allah dalam Al-Qur'an: "Ar-Rahman 'alal Arsy istawa" (Tuhan Yang Maha Pengasih bersemayam di atas Arsy).
"Istiwa itu diketahui maknanya, namun kaifiyyah (bagaimana caranya) itu tidak diketahui, beriman kepadanya (Istiwa) adalah wajib, dan mempertanyakan kaifiyyah-nya adalah bid'ah (sesat)."
Pernyataan ini mengandung tiga pilar pemikiran yang menjadi ciri khas pendekatan Salaf (pendahulu yang shalih) terhadap sifat-sifat Allah:
- Istimam (Pengakuan Makna): Imam Malik menegaskan bahwa makna literal dari kata Istiwa (yaitu meninggi atau bersemayam) harus diakui sesuai dengan konteks bahasa Arab yang mulia.
- Penolakan terhadap Takyeef (Penentuan Cara): Beliau menolak keras upaya untuk menjelaskan bagaimana Istiwa itu terjadi. Bagi beliau, Allah itu Maha Tinggi dan berbeda dengan ciptaan-Nya, sehingga cara keberadaan-Nya tidak dapat dijangkau oleh pemahaman manusia.
- Tahreem al-Tas'aulu (Pengharaman Mempertanyakan Cara): Bertanya tentang kaifiyyah dianggap sebagai inovasi yang tidak ada dasarnya dari Nabi Muhammad SAW atau para Sahabat.
Implikasi Filosofis dari Jawaban Imam Malik
Jawaban Imam Malik bukan sekadar penolakan teknis, melainkan sebuah pernyataan filosofis yang mendalam mengenai batas-batas akal manusia dalam memahami Zat Ilahi. Beliau mengajarkan bahwa iman yang sejati harus bersandar pada wahyu (Al-Qur'an dan Sunnah) tanpa dibebani oleh spekulasi rasional yang mencoba menyamakan Allah dengan makhluk-Nya.
Jika seseorang mencoba menjelaskan bagaimana Allah bersemayam, ia pasti terjatuh pada salah satu dari dua kesalahan:
- Tashbih (Penyerupaan): Menyerupakan cara Allah dengan cara makhluk (misalnya, seolah-olah Allah duduk seperti raja di singgasananya). Ini jelas bertentangan dengan firman Allah, "Laisa ka-mitstlihi shay'un" (Tidak ada yang serupa dengan-Nya).
- Ta'thil (Pengingkaran): Karena tidak mampu menjelaskan cara yang sesuai, ia mungkin mengingkari sifat tersebut secara keseluruhan, yang berarti menolak nash Al-Qur'an.
Oleh karena itu, pendekatan Imam Malik adalah Ifadhah wa Taslimāmengalirkan teks sebagaimana adanya, dan menyerahkan hakikatnya kepada Allah SWT. Hal ini memastikan bahwa aqidah tetap murni dan terbebas dari kontaminasi pemikiran filosofis yang merusak kemurnian tauhid. Pemikiran ini kemudian dianut secara luas oleh ulama-ulama Madzhab Maliki dan menjadi bagian tak terpisahkan dari manhaj Ahlus Sunnah dalam memahami Asma' wa Sifat.
Perkataan Imam Malik tentang Istiwa adalah mercusuar bagi umat Islam untuk menjaga keseimbangan antara pengakuan terhadap dalil yang jelas dan kerendahan hati intelektual dalam menghadapi keagungan Rabbul 'Alamin.