Memahami HIV (Human Immunodeficiency Virus) dan AIDS (Acquired Immunodeficiency Syndrome) adalah langkah penting dalam pencegahan, penanganan, dan penghapusan stigma. Berikut adalah kumpulan pertanyaan umum yang sering diajukan, dirancang untuk memberikan informasi yang jelas dan akurat.
HIV adalah virus yang menyerang sistem kekebalan tubuh, khususnya sel CD4. AIDS adalah stadium lanjut dari infeksi HIV, di mana sistem kekebalan tubuh sudah sangat rusak dan tubuh rentan terhadap infeksi oportunistik dan kanker tertentu. Seseorang yang hidup dengan HIV (ODHA) belum tentu mengidap AIDS, terutama jika mendapatkan pengobatan yang efektif.
HIV ditularkan melalui pertukaran cairan tubuh tertentu: darah, air mani (semen), cairan pra-ejakulasi, cairan vagina, dan ASI. Cara penularan utamanya adalah melalui hubungan seksual tanpa kondom, berbagi jarum suntik, atau dari ibu hamil ke bayinya saat melahirkan atau menyusui.
Tidak. HIV tidak menular melalui sentuhan biasa, berpelukan, berbagi makanan, menggunakan peralatan makan yang sama, berenang bersama, batuk, bersin, air mata, keringat, atau gigitan nyamuk. Virus ini sangat rapuh di luar tubuh manusia.
Ya, tes HIV tersedia luas. Tes ini biasanya mendeteksi antibodi terhadap HIV atau antigen virus itu sendiri. Ada tes cepat (hasil dalam hitungan menit) dan tes laboratorium standar. Penting untuk diingat adanya "periode jendela," yaitu waktu antara infeksi dan saat tes bisa mendeteksi virus. Konsultasikan dengan tenaga medis mengenai waktu terbaik untuk melakukan tes setelah potensi paparan.
Saat ini, HIV belum dapat disembuhkan secara total. Namun, dengan pengobatan Antiretroviral Therapy (ART) yang teratur dan sesuai anjuran dokter, virus dapat ditekan hingga tingkat yang sangat rendah (undetectable). Ketika virus tidak terdeteksi, ODHA tidak dapat menularkan virus melalui hubungan seksual (Undetectable = Untransmittable atau U=U).
ART adalah kombinasi obat yang diminum setiap hari untuk menghentikan replikasi HIV di dalam tubuh. Pengobatan ini sangat penting karena mencegah kerusakan lebih lanjut pada sistem kekebalan tubuh, memungkinkan ODHA hidup sehat dengan harapan hidup hampir sama dengan orang tanpa HIV, dan secara signifikan mengurangi risiko penularan ke orang lain.
Segera cari bantuan medis untuk mempertimbangkan Post-Exposure Prophylaxis (PEP). PEP adalah pengobatan darurat yang harus dimulai dalam waktu 72 jam (idealnya secepat mungkin) setelah potensi paparan untuk mencegah virus menetap di tubuh. Selain itu, lakukan konseling dan tes rutin.
Ya, penggunaan kondom yang benar dan konsisten adalah metode pencegahan penularan HIV melalui hubungan seksual yang paling efektif. Kondom menciptakan penghalang fisik yang mencegah pertukaran cairan tubuh pembawa virus.
Stigma dan diskriminasi timbul dari kurangnya pemahaman. Cara terbaik adalah dengan meningkatkan edukasi publik tentang cara penularan yang benar (bahwa HIV tidak menular melalui kontak sosial biasa) dan menegaskan bahwa ODHA yang menjalani pengobatan teratur memiliki hak yang sama dan tidak berisiko menularkan virus dalam interaksi sehari-hari. Dukungan, empati, dan kerahasiaan adalah kunci.
Ada. PrEP (Pre-Exposure Prophylaxis) adalah penggunaan obat ARV oleh orang yang belum terinfeksi HIV tetapi memiliki risiko tinggi tertular. Jika diminum secara teratur sesuai anjuran, PrEP sangat efektif dalam mencegah penularan HIV melalui seks. PrEP harus didiskusikan dengan penyedia layanan kesehatan.
Informasi yang akurat adalah senjata terkuat kita melawan HIV/AIDS. Jangan ragu untuk mencari layanan kesehatan terdekat untuk tes, konseling, dan pengobatan.