Proses pengeluaran sperma, atau ejakulasi, adalah peristiwa fisiologis kompleks yang melibatkan koordinasi sistem saraf, otot, dan kelenjar reproduksi pria. Cairan yang dikeluarkan pria, yang sering disebut semen, bukanlah sekadar sperma, tetapi campuran cairan pelindung dan nutrisi yang diproduksi oleh berbagai organ. Memahami proses ini penting untuk pengetahuan dasar mengenai kesehatan reproduksi pria.
Produksi komponen utama semen dimulai di testis, di mana miliaran sel sperma diproduksi melalui proses spermatogenesis. Setelah matang, sperma disimpan di epididimis. Namun, sperma hanya menyusun persentase kecil dari volume ejakulat. Sebagian besar volume semen berasal dari cairan yang disekresikan oleh tiga kelompok kelenjar utama.
Kelenjar vesikula seminalis adalah penyumbang volume terbesar, menyediakan sekitar 60 hingga 70% dari total volume semen. Cairan ini kaya akan fruktosa, gula sederhana yang berfungsi sebagai sumber energi utama bagi sperma saat bergerak. Selanjutnya, prostat menyumbang sekitar 20 hingga 30% volume. Cairan prostat bersifat sedikit asam dan mengandung enzim seperti PSA (Prostate-Specific Antigen) yang membantu mencairkan semen setelah ejakulasi, memungkinkan sperma bergerak lebih bebas.
Terakhir, kelenjar bulbourethral (Cowper's gland) menghasilkan cairan pra-ejakulasi dalam jumlah kecil sesaat sebelum ejakulasi penuh. Cairan ini berfungsi untuk melumasi uretra dan menetralkan sisa keasaman urin yang mungkin masih ada, menciptakan lingkungan yang lebih optimal bagi sperma.
Pengeluaran sperma terjadi dalam dua fase refleks yang dikendalikan oleh sistem saraf otonom: emisi dan ekspulsi. Kedua fase ini terjadi sangat cepat dan biasanya dipicu oleh rangsangan seksual yang mencapai ambang batas tertentu.
Fase Emisi: Ini adalah fase internal di mana semua komponen semen (sperma dari epididimis, cairan dari vesikula seminalis, dan cairan prostat) dikumpulkan dan didorong ke dalam uretra posterior (bagian uretra yang dekat dengan prostat). Kontraksi otot polos pada organ-organ ini memastikan semua cairan tercampur secara homogen di pangkal uretra, memicu dorongan refleks ejakulasi berikutnya.
Fase Ekspulsi (Ejakulasi Sebenarnya): Fase ini ditandai dengan serangkaian kontraksi ritmis dan kuat dari otot-otot dasar panggul, terutama otot bulbospongiosus dan iskiokavernosus. Kontraksi otot-otot ini bekerja seperti pompa yang secara berulang meningkatkan tekanan di dalam uretra, memaksa semen keluar melalui lubang uretra eksternal (meatus). Kontraksi ini terjadi dengan interval yang teratur, biasanya setiap 0,8 detik pada awalnya, sebelum kecepatan kontraksi melambat hingga proses berakhir.
Secara klinis, volume ejakulat yang dianggap normal berkisar antara 1,5 hingga 5 mililiter (sekitar satu sendok teh). Volume ini dapat bervariasi tergantung pada periode refrakter (waktu sejak ejakulasi terakhir), tingkat gairah, dan hidrasi. Warna cairan biasanya putih keruh atau keabu-abuan karena kandungan protein dan mineral dari cairan kelenjar.
Kesehatan dan kesuburan pria sangat bergantung pada kualitas cairan yang dikeluarkan. Analisis semen akan memeriksa konsentrasi sperma (jumlah sperma per mililiter), motilitas (kemampuan sperma untuk berenang), dan morfologi (bentuk sperma). Jika terjadi penurunan volume secara signifikan atau perubahan warna yang persisten, ini dapat menjadi indikasi adanya masalah pada salah satu kelenjar penghasil cairan atau adanya sumbatan. Oleh karena itu, pengeluaran sperma adalah indikator vital dari fungsi sistem reproduksi pria secara keseluruhan.