Ilustrasi visual dari penggalan ayat QS Al Anfal.
Surah Al-Anfal, yang berarti "Harta Rampasan Perang", adalah surah Madaniyah yang diturunkan setelah hijrahnya Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wa sallam ke Madinah. Surah ini kaya akan ajaran mengenai perang, perdamaian, kepemimpinan, dan manajemen umat. Di antara ayat-ayatnya yang penuh hikmah, terdapat sebuah ayat yang sangat menyentuh hati dan memberikan panduan mendalam bagi setiap Muslim. Ayat tersebut adalah QS Al Anfal ayat 8.
اَللهُ لَطِيْفٌۢ بِعِبَادِهٖ يَرْزُقُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۖ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيْزُ
"Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia memberi rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dia Maha Kuat lagi Maha Perkasa."
QS Al Anfal ayat 8 seringkali dibaca dalam konteks pembahasan mengenai bagaimana Allah Subhanahu wa Ta'ala berkuasa atas segala sesuatu dan bagaimana rezeki datang dari-Nya. Namun, ayat ini memiliki makna yang jauh lebih luas dan mendalam, terutama jika dikaitkan dengan keseluruhan surah Al-Anfal dan konteks turunnya. Ayat ini menegaskan dua sifat utama Allah: Al-Latif (Maha Lembut) dan Al-Qawiyyu Al-Aziz (Maha Kuat lagi Maha Perkasa).
Sifat Allah sebagai Al-Latif menunjukkan kelembutan dan kasih sayang-Nya yang tak terbatas kepada hamba-Nya. Kelembutan ini termanifestasi dalam berbagai bentuk, mulai dari kemudahan yang diberikan dalam menjalankan syariat, pengampunan atas dosa-dosa, hingga rezeki yang mengalir dalam berbagai cara yang mungkin tidak terduga. Allah memberikan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki, bukan berdasarkan kelayakan semata, melainkan berdasarkan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Rezeki ini tidak hanya terbatas pada materi, tetapi juga mencakup ilmu, kesehatan, keturunan, dan taufik (pertolongan) untuk berbuat kebaikan.
Di sisi lain, ayat ini juga mengingatkan kita akan kekuasaan dan keperkasaan Allah (Al-Qawiyyu Al-Aziz). Kekuatan-Nya tidak terbantahkan dan keperkasaan-Nya tidak dapat ditandingi. Sifat ini memberikan ketenangan dan keyakinan bagi orang-orang beriman, terutama di tengah ujian dan perjuangan. Mengetahui bahwa Allah Maha Kuat memberikan kekuatan spiritual untuk menghadapi segala tantangan, karena pada akhirnya segalanya berada dalam genggaman-Nya.
Dalam konteks Surah Al-Anfal, ayat 8 ini menjadi penyejuk di tengah pembahasan mengenai peperangan dan pengelolaan harta rampasan. Setelah Allah memerintahkan untuk berlaku adil dan taat kepada-Nya serta Rasul-Nya, dan sebelum menjelaskan lebih detail mengenai pembagian ghanimah (harta rampasan perang), ayat ini hadir sebagai pengingat bahwa segala sesuatu adalah dari Allah. Kemenangan yang diraih bukanlah semata-mata karena kekuatan manusia, tetapi karena pertolongan dan kelembutan Allah yang memungkinkan kemenangan itu terjadi.
Bagi para sahabat yang baru saja mengalami pertempuran dahsyat seperti Perang Badar, ayat ini menjadi sumber kekuatan. Mereka memahami bahwa kemenangan mereka bukan karena jumlah pasukan yang lebih besar, melainkan karena pertolongan Allah yang Maha Lembut dan Maha Kuat. Kelembutan-Nya memungkinkan mereka untuk bertahan dan bertempur, sementara Kekuatan-Nya menjadikan musuh tunduk.
Lebih jauh lagi, ayat ini mengajarkan pentingnya tawakal (berserah diri) kepada Allah dalam setiap usaha. Kita dianjurkan untuk berusaha semaksimal mungkin, namun hasil akhirnya diserahkan sepenuhnya kepada Allah. Kita tidak boleh sombong atas keberhasilan yang diraih, karena keberhasilan itu adalah karunia dari-Nya. Sebaliknya, ketika menghadapi kegagalan atau kesulitan, kita tidak boleh berputus asa, karena Allah Maha Lembut dan Maha Pengasih. Dia akan memberikan jalan keluar dan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.
Mengaplikasikan makna QS Al Anfal ayat 8 dalam kehidupan sehari-hari berarti:
QS Al Anfal ayat 8 bukanlah sekadar ayat yang dibaca dan dihafal, melainkan sebuah petunjuk hidup yang harus meresap dalam setiap sendi kehidupan seorang Muslim. Dengan memahami dan mengamalkan maknanya, kita akan senantiasa berada dalam lindungan dan kasih sayang Allah, serta mendapatkan kekuatan untuk menjalani kehidupan ini dengan penuh keyakinan dan keberkahan.