Dalam perjalanan spiritual umat Islam, pemahaman mendalam terhadap ayat-ayat Al-Qur'an adalah kunci untuk mengokohkan keyakinan. Salah satu ayat yang seringkali menjadi landasan penting dalam bab akidah dan tauhid adalah Surah Al-Isra ayat ke-22. Ayat ini secara lugas dan tegas menyatakan konsekuensi dari menyekutukan Allah SWT, sebuah dosa yang tidak terampuni jika dibawa hingga ajal menjemput tanpa penyesalan.
لَا تَجْعَلْ مَعَ اللَّهِ إِلَٰهًا آخَرَ فَتَقْعُدَ مَذْمُومًا مَّخْذُولًا
"Janganlah kamu jadikan bersama Allah tuhan yang lain, maka kamu akan duduk tercela dan terhina."
Ayat ini merupakan bagian dari serangkaian perintah dan larangan yang disampaikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, yang sekaligus menjadi pelajaran abadi bagi seluruh umat manusia. Larangan utama dalam ayat ini adalah **larangan keras untuk mempersekutukan Allah (syirik)**.
Ayat ini memberikan dua konsekuensi langsung bagi mereka yang melanggarnya: **tercela (madhmuuman)** dan **terhina (makhdhulan)**. Kata 'tercela' mengindikasikan celaan dari sisi perbuatan; perbuatan syirik adalah perbuatan yang buruk dan tercela di mata Allah dan manusia yang berakal sehat. Sementara itu, 'terhina' mengacu pada kehinaan spiritual dan penelantaran di hari perhitungan kelak. Seseorang yang menyekutukan Allah, meskipun ia mungkin dipuja di dunia, pada hakikatnya telah menjatuhkan dirinya pada posisi paling rendah dan hina di sisi Tuhan semesta alam.
Penting untuk disadari bahwa penekanan ayat ini pada tauhid (mengesakan Allah) menunjukkan betapa fundamentalnya konsep ini dalam Islam. Seluruh ajaran, syariat, dan perintah lainnya dibangun di atas fondasi tauhid yang kokoh. Tanpa tauhid yang murni, amal ibadah lain, sekaya apapun bentuknya, akan kehilangan nilainya di sisi Allah.
Bayangkan sebuah bangunan megah yang didirikan di atas fondasi yang rapuh. Bangunan itu terlihat kokoh dari luar, namun sekali guncangan kecil datang, ia akan roboh seketika. Syirik adalah fondasi rapuh tersebut. Jika seseorang menjadikan makhluk ciptaan—baik itu berhala, hawa nafsu, harta benda, atau bahkan orang saleh—sebagai sekutu bagi Allah dalam hak pengabdian, maka ia telah merusak seluruh bangunan amalnya.
Visualisasi dari 'tercela dan terhina' ini sangat kuat. Di dunia, mereka yang berbuat syirik mungkin mendapatkan pujian dari sesamanya yang juga sesat, namun di hadapan Allah, mereka berada dalam posisi yang sangat lemah. Tidak ada lagi penolong, tidak ada lagi pembela. Mereka ditinggalkan sendiri menghadapi pertanggungjawaban atas kesyirikannya.
Memahami QS Al-Isra ayat 22 bukan hanya sebatas menghafal terjemahannya, tetapi harus termanifestasi dalam setiap aspek kehidupan. Tauhid harus menjadi filter utama dalam mengambil keputusan. Apakah perbuatan ini mengandung unsur ketergantungan kepada selain Allah? Apakah niat kita murni hanya untuk mencari keridhaan-Nya?
Dalam konteks modern, syirik bisa muncul dalam bentuk yang lebih halus, sering disebut syirik khafi (halus). Misalnya, bekerja keras bukan semata-mata karena ingin menunaikan amanah dan mencari rezeki dari Allah, tetapi lebih didorong oleh keinginan besar untuk dipuji atasan atau kolega (riya'). Demikian pula dalam peribadatan, melaksanakan shalat dengan khusyuk agar dilihat orang lain adalah contoh nyata dari upaya menyekutukan Allah dalam hak ibadah.
Ayat ini mengajarkan bahwa keamanan spiritual sejati hanya datang dari ketergantungan total (tawakkal) dan pengabdian mutlak kepada Allah SWT. Dengan menjauhi segala bentuk kesyirikan, baik yang jelas maupun yang tersembunyi, seorang mukmin akan terhindar dari status tercela dan terhina di hadapan Penciptanya. Ia akan menempuh jalan yang lurus, jalan yang diridhai, dan meraih kemuliaan sejati, bukan kemuliaan semu yang ditawarkan oleh dunia.
Oleh karena itu, perenungan terhadap QS Al-Isra ayat 22 ini harus terus dihidupkan. Ia berfungsi sebagai alarm spiritual agar hati selalu kembali membersihkan diri dari segala bentuk najis akidah, memastikan bahwa ibadah kita benar-benar terpersembahkan hanya kepada Rabbul 'Alamin.