وَقُلْ جَآءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُ ۚ إِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوقًا
"Dan katakanlah, 'Kebenaran (Al-Haqq) telah datang, dan kebatilan (Al-Baathil) telah lenyap.' Sungguh, kebatilan itu pasti lenyap."
Surah Al-Isra, yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surah Makkiyah yang kaya akan hikmah dan peringatan. Ayat 81 menempati posisi strategis di tengah narasi tentang bagaimana Islam harus berinteraksi dengan realitas kebatilan yang ada di dunia. Ayat ini, yang singkat namun padat makna, seringkali dikutip sebagai deklarasi universal tentang kemenangan prinsip Ilahi atas segala bentuk kesesatan.
Ketika ayat ini diturunkan, kaum Quraisy dan para penentang risalah Nabi Muhammad SAW terus menerus menyebarkan keraguan dan kepalsuan untuk menantang ajaran tauhid. Ayat ini bukan sekadar respons emosional, melainkan sebuah ketetapan tegas bahwa fondasi kebenaran (Al-Haqq) yang dibawa oleh Islam bersifat abadi, sedangkan kebatilan (Al-Baathil) hanyalah fenomena sementara yang ditakdirkan untuk musnah.
Kata 'Al-Haqq' dalam konteks Islam merujuk pada segala sesuatu yang sesuai dengan realitas hakiki, yang tidak mengandung keraguan, dan yang ditetapkan oleh Allah SWT. Ini mencakup tauhid, wahyu Al-Qur'an, risalah Nabi Muhammad SAW, serta semua janji dan ancaman Allah. Ketika Nabi diperintahkan untuk 'mengatakan' kedatangan Al-Haqq, ini adalah penegasan bahwa kebenaran Ilahi telah hadir secara definitif di tengah masyarakat.
Kebenaran ini memiliki sifat permanen dan mutlak. Kehadirannya tidak bergantung pada penerimaan manusia; ia eksis terlepas dari apakah manusia menyambutnya atau menolaknya. Ayat ini memberikan semangat kepada kaum mukminin bahwa perjuangan mereka didasarkan pada sesuatu yang pasti menang di akhir perjalanannya.
Sebaliknya, 'Al-Baathil' adalah segala bentuk kesesatan, kebohongan, syirik, dan penyimpangan dari jalan lurus. Kebatilan dicirikan oleh ketidakpastian, ilusi, dan kurangnya dasar yang kokoh. Dalam ayat ini, Allah menegaskan sifat intrinsik kebatilan: 'Innal baathila kaana zahuuqaa' (Sungguh, kebatilan itu pasti lenyap).
Kata 'zahuuqaa' (lenyap atau musnah) menunjukkan bahwa kebatilan tidak hanya akan kalah, tetapi ia memiliki potensi untuk menghilang secara total ketika berhadapan dengan cahaya kebenaran. Ini memberikan perspektif bahwa segala upaya untuk mempertahankan kebohongan atau kesesatan pada akhirnya akan sia-sia dan berakhir tanpa bekas.
Perintah untuk "mengatakan" kebenaran tidak hanya berlaku untuk pertempuran ideologis skala besar antara Islam dan kekafiran. Ayat ini memiliki aplikasi yang sangat pribadi dalam kehidupan seorang Muslim sehari-hari.
Pertama, Keberanian dalam Berpendirian. Seorang mukmin harus berani menyatakan kebenaran, meskipun mayoritas menentangnya. Ini membutuhkan keteguhan hati yang hanya bisa didapatkan dari keyakinan bahwa yang ia pegang adalah Al-Haqq. Ketakutan akan cemoohan atau penolakan menjadi kecil jika kita yakin bahwa kebatilanlah yang sebenarnya rapuh.
Kedua, Optimisme dan Kesabaran. Mengingat bahwa kebatilan pasti lenyap, ayat ini menanamkan optimisme jangka panjang. Dalam menghadapi ujian, kesulitan, atau dominasi sementara dari pihak yang salah, seorang Muslim diingatkan untuk bersabar. Kejatuhan kebatilan adalah keniscayaan ilahi, bukan sekadar harapan.
Ketiga, Membersihkan Diri dari Kebatilan. Ayat ini juga merupakan seruan untuk membersihkan hati dan amal perbuatan kita sendiri dari segala bentuk kebatilan, baik itu dalam ibadah yang dicampuri bid'ah, atau dalam muamalah yang didasari tipu daya. Kita harus memastikan bahwa pondasi hidup kita tegak di atas kebenaran yang abadi.
Meskipun terkadang di dunia tampak bahwa kebatilan merajalela dan kebenaran tertindas sementara waktu, janji dalam Surah Al-Isra ayat 81 menjamin bahwa kemenangan final dan mutlak adalah milik Al-Haqq. Kehancuran total 'Al-Baathil' akan disempurnakan kelak di hari kiamat, di mana tidak ada lagi ruang bagi ilusi atau kepalsuan.
Oleh karena itu, ayat ini berfungsi sebagai peneguhan doktrin eskatologis Islam: bahwa keadilan sejati hanya akan tegak sempurna di hadapan Allah SWT. Tugas kita di dunia adalah menjadi agen yang menyuarakan dan mewujudkan 'Al-Haqq' hingga saat janji pemusnahan total 'Al-Baathil' itu benar-benar terwujud sesuai kehendak-Nya.