Menguak Makna QS Al-Isra Ayat 72: Sumpah Pertanggungjawaban Ilahi

Amal Janji Setiap Jiwa Bertanggung Jawab

Ilustrasi: Representasi pertanggungjawaban di hadapan timbangan amal.

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra Ayat 72

وَمَن كَانَ فِي هَٰذِهِ أَعْمَىٰ فَهُوَ فِي الْآخِرَةِ أَعْمَىٰ وَأَضَلُّ سَبِيلًا
Artinya: "Dan barangsiapa yang di dunia ini buta (terhadap kebenaran), maka di akhirat ia lebih buta lagi dan lebih tersesat dari jalan (yang benar)."

Janji dan Konsekuensi yang Tegas

Al-Qur'an tidak pernah menyembunyikan kebenaran pahit mengenai konsekuensi pilihan hidup manusia. Surah Al-Isra, atau Bani Israil, ayat ke-72, adalah salah satu ayat yang menegaskan secara lugas mengenai pertanggungjawaban akhirat yang berkaitan erat dengan kesadaran (atau kebutaan) spiritual di dunia. Ayat ini berfungsi sebagai peringatan keras sekaligus penegasan bahwa jalan spiritual bukanlah masalah pilihan semata, melainkan penentuan nasib abadi.

Kata kunci dalam ayat ini adalah "أَعْمَىٰ" (a'ma), yang berarti buta. Dalam konteks ayat ini, kebutaan yang dimaksud bukanlah kebutaan fisik, melainkan kebutaan hati atau ketidakmauan untuk melihat kebenaran yang dibawa oleh risalah kenabian. Ketika seseorang secara sadar memilih untuk menutup mata terhadap petunjuk Allah, meskipun petunjuk itu jelas terhampar di hadapannya, maka konsekuensi yang menantinya di masa depan akan jauh lebih parah.

Kebutaan Duniawi vs. Kebutaan Ukhrawi

Mengapa orang yang buta di dunia akan menjadi lebih buta di akhirat? Kebutaan di dunia adalah keadaan di mana seseorang mungkin belum menerima hidayah, atau berada di bawah pengaruh kuat syubhat dan hawa nafsu. Namun, ketika mereka dihadapkan dengan kebenaran yang mutlak (melalui para nabi dan Al-Qur'an), dan mereka tetap memilih untuk menolaknya atau tidak peduli, maka kondisi "buta" tersebut menjadi sebuah penetapan karakter.

Di akhirat, tidak ada lagi kesempatan untuk mencari kebenaran atau menerima wahyu baru. Cahaya hidayah telah padam bagi mereka. Kebutaan di akhirat adalah kondisi permanen berupa kegelapan total, baik secara indrawi maupun spiritual. Mereka tidak hanya tidak bisa melihat jalan ke surga, tetapi mereka juga terputus dari akal sehat untuk memahami keadilan keputusan Ilahi tersebut.

"Lebih Tersesat dari Jalan (yang Benar)"

Selain kebutaan, ayat ini menambahkan frasa: "وَأَضَلُّ سَبِيلًا" (wa adallu sabila), yang berarti "dan lebih sesat jalannya." Ini mengindikasikan bahwa kesesatan di akhirat bersifat absolut. Di dunia, meskipun tersesat, mungkin masih ada harapan untuk kembali ke jalan lurus. Namun, di akhirat, jalan mereka telah terputus total dari segala bentuk kebaikan atau rahmat yang mengantar pada surga.

Kesesatan ini adalah puncak dari penolakan terhadap petunjuk. Hal ini menunjukkan bahwa iman dan pengetahuan tentang kebenaran adalah komoditas yang harus dijaga dan diimplementasikan selama masih ada kesempatan. Ayat 72 Al-Isra menegaskan bahwa kebenaran bukanlah konsep abstrak yang bisa diabaikan, melainkan landasan fundamental yang menentukan arah akhir kehidupan setiap individu.

Implikasi Bagi Kehidupan Kontemporer

Dalam konteks modern, QS Al-Isra 72 relevan sebagai pengingat untuk tidak menjadi buta secara intelektual atau moral. Di tengah derasnya informasi dan godaan, umat Islam dituntut untuk selalu kritis, mencari kebenaran yang sejati, dan tidak mudah terbuai oleh pandangan duniawi yang menyesatkan. Kebutaan hari ini mungkin berupa penolakan terhadap prinsip keadilan, pengabaian tanggung jawab sosial, atau pengingkaran terhadap ayat-ayat Allah karena dianggap tidak sesuai zaman.

Ayat ini mendorong kita untuk senantiasa 'membuka mata' saat menjalani kehidupan di dunia. Sebab, apa yang kita pilih untuk kita yakini dan praktikkan saat ini, akan menentukan sejauh mana kita dapat melihat cahaya dan menemukan jalan yang benar saat kita meninggalkan dunia fana ini. Kegagalan untuk melihat kebenaran di dunia adalah kegagalan untuk menemukan keselamatan di akhirat.

🏠 Homepage