Kewajiban Shalat di Waktu yang Telah Ditentukan: Tafsir QS Al-Isra Ayat 78

Teks dan Terjemahan QS Al-Isra Ayat 78

Salah satu pilar ibadah yang paling mendasar dalam Islam adalah pelaksanaan salat lima waktu. Kewajiban ini ditekankan dengan sangat jelas dalam Al-Qur'an, termasuk dalam Surah Al-Isra, ayat ke-78. Ayat ini bukan hanya perintah, tetapi juga penegasan tentang ritme kehidupan seorang Muslim yang terikat pada waktu-waktu yang telah ditetapkan oleh Allah SWT.

وَأَقِمِ الصَّلَاةَ لِدُلُوكِ الشَّمْسِ إِلَىٰ غَسَقِ اللَّيْلِ وَقُرْآنَ الْفَجْرِ ۖ إِنَّ قُرْآنَ الْفَجْرِ كَانَ مَشْهُودًا

Artinya: "Dirikanlah shalat sejak matahari tergelincir sampai gelap malam, dan (dirikanlah pula shalat) Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al-Isra: 78)

Makna Mendalam Ayat

Ayat 78 Surah Al-Isra ini secara lugas menggariskan periode waktu utama untuk melaksanakan salat wajib sehari semalam. Pembagian waktu yang disoroti dalam ayat ini sangat presisi dan mencakup empat dari lima waktu salat utama:

1. Shalat sejak Matahari Tergelincir (Zawal)

Frasa "lidu'luki asy-syamsi" merujuk pada waktu matahari mulai condong ke barat setelah mencapai puncaknya (Dzuhur). Ini menandai dimulainya waktu salat Dzuhur. Dari titik ini, waktu salat akan terus berjalan hingga kegelapan malam.

2. Sampai Kegelapan Malam (Ghasaqul Lail)

"Ila ghasaqil laili" (hingga gelap malam) adalah batas akhir untuk melaksanakan salat Ashar dan Maghrib. Para mufassir umumnya menafsirkan 'ghasaqul lail' sebagai permulaan masuknya waktu Isya, yaitu ketika malam benar-benar gelap. Ini mencakup waktu pelaksanaan salat Ashar, Maghrib, dan Isya secara berkesinambungan.

3. Salat Subuh (Qur'anal Fajr)

Ayat ini secara eksplisit menyebutkan "wa qur'anal fajr" (dan Al-Qur'an waktu Subuh). Salat Subuh memiliki posisi yang istimewa. Meskipun waktu pelaksanaannya adalah sebelum matahari terbit, ia disebutkan secara terpisah, menunjukkan urgensinya.

Keistimewaan Salat Subuh yang Disaksikan

Bagian penutup ayat ini memberikan penekanan kuat: "Inna qur'anal fajri kana masyhudah" (Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan). Terdapat dua interpretasi utama mengenai "disaksikan" ini:

  1. Disaksikan Malaikat Siang dan Malam: Para ulama sepakat bahwa salat Subuh dihadiri oleh pergantian shift malaikat penjaga (malaikat siang dan malaikat malam). Mereka berkumpul bersama pada waktu ini untuk menyaksikan pelaksanaan ibadah tersebut. Kesaksian ini memberikan nilai spiritual yang sangat tinggi bagi pelakunya.
  2. Disaksikan Kehadiran Hati yang Khusyuk: Sebagian lainnya menafsirkan bahwa Subuh adalah waktu di mana jiwa manusia berada dalam kondisi paling ringan dan paling dekat dengan ketenangan, sehingga kekhusyukan dalam salat Subuh lebih mudah tercapai dan menjadi saksi atas kejujuran iman seseorang.

Implikasi Gaya Hidup Muslim

QS Al-Isra 78 mengajarkan disiplin waktu yang ketat. Islam bukan hanya mengatur aspek ritual, tetapi juga membentuk pola hidup yang teratur. Kewajiban mendirikan salat pada waktu yang spesifik ini memaksa seorang Muslim untuk mengatur jadwal harian mereka di sekitar ibadah pokok ini. Kepatuhan pada waktu salat adalah cerminan kepatuhan total seorang hamba kepada Rabbnya.

Bagi seorang Muslim yang hidup di tengah kesibukan dunia modern, menghormati waktu Dzuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh adalah tantangan sekaligus kesempatan untuk menanamkan ketenangan dan fokus di tengah hiruk pikuk aktivitas. Ayat ini berfungsi sebagai pengingat abadi bahwa waktu adalah amanah ilahi yang tidak boleh diabaikan atau ditunda tanpa alasan syar'i.

Dengan memahami dan mengamalkan petunjuk dalam QS Al-Isra ayat 78, seorang Muslim menata kembali orientasi hidupnya, menjadikan ketaatan pada waktu shalat sebagai kompas utama dalam menjalani hari, dari tergelincir Matahari hingga kegelapan malam, dan menyambut fajar dengan kesegaran iman.

🏠 Homepage