Surat Al-Isra, juga dikenal sebagai Al-Isra' wal-Mi'raj, adalah surat ke-17 dalam Al-Qur'an yang sarat dengan mukjizat dan petunjuk ilahi. Di antara ayat-ayat penting dalam surat ini, terdapat ayat ke-84 yang memberikan landasan kuat mengenai prinsip akidah dan keteguhan hati dalam berdakwah. Ayat ini berbicara tentang bagaimana seharusnya seorang Muslim menyikapi perbedaan keyakinan dan bagaimana menjalani hidup berdasarkan prinsip keimanan yang kokoh.
Memahami QS Al-Isra ayat 84 sangat krusial, terutama di tengah derasnya arus informasi dan berbagai pandangan di era modern. Ayat ini menjadi pengingat bahwa misi utama Rasulullah SAW, dan juga umatnya, adalah menyampaikan kebenaran dengan cara yang hikmah dan sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
قُلْ كُلٌّ يَعْمَلُ عَلَى شَاكِلَتِهِ فَرَبُّكُمْ أَعْلَمُ بِمَنْ هُوَ أَهْدَى سَبِيلًا
Katakanlah: "Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing." Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya. (QS. Al-Isra [17]: 84)
Ayat ini mengandung inti pesan yang sangat mendalam. Allah memerintahkan Nabi Muhammad SAW (dan umatnya) untuk menyampaikan bahwa setiap individu akan bertindak sesuai dengan karakter, kecenderungan hati, dan cara pandangnya masing-masing. Frasa "ala shakilatihi" (على شاكلته) merujuk pada sifat, kebiasaan, atau kecenderungan hati yang telah terbentuk dalam diri seseorang.
Ayat ini menegaskan konsep pertanggungjawaban individu. Seseorang tidak bisa lari dari konsekuensi perbuatannya yang didasari oleh niat dan karakternya. Ketika seseorang memilih jalan, baik itu jalan yang lurus maupun yang bengkok, ia harus siap memikul tanggung jawab atas pilihan tersebut di hadapan Allah SWT. Ini mengajarkan bahwa penilaian utama bukanlah pada bagaimana orang lain memandang kita, melainkan bagaimana kita menjalani kehidupan sesuai dengan kebenaran hakiki.
Bagian kedua ayat, "Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya," adalah penutup yang menenangkan sekaligus tegas. Meskipun manusia mungkin berbeda-beda dalam interpretasi dan tindakan, Allah SWT adalah Maha Mengetahui kebenaran yang hakiki. Tidak ada satu pun perbuatan tersembunyi yang luput dari pengetahuan-Nya. Ini adalah penegasan bahwa hasil akhir dari semua tindakan akan dinilai berdasarkan petunjuk (hidayah) yang paling benar, yaitu petunjuk dari Allah SWT.
Dalam konteks dakwah, ayat ini mengajarkan sikap yang bijaksana. Ketika berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki keyakinan atau jalan hidup yang berbeda, seorang Muslim diperintahkan untuk tidak perlu terlalu banyak berdebat atau memaksakan kehendak. Fokus utama adalah menyampaikan risalah dengan jelas dan konsisten. Setelah risalah disampaikan, biarkanlah setiap individu memilih jalannya sendiri, karena Allah-lah yang akan menilai mana jalan yang paling lurus (ahdā sabīlā). Sikap ini menumbuhkan ketenangan batin dan menghindari frustrasi dalam berdakwah.
Di zaman sekarang, di mana isu pluralisme dan perbedaan pandangan sering menjadi perdebatan sengit, QS Al-Isra ayat 84 mengingatkan kita untuk kembali pada esensi pengabdian. Kita fokus pada perbaikan diri dan konsistensi dalam mengikuti syariat Allah. Kegigihan dalam berbuat baik dan lurus di jalan Allah adalah penentu keberhasilan sejati, bukan seberapa banyak orang yang mengikuti pandangan kita.
Ayat ini mendorong seorang Muslim untuk memiliki integritas batin. Tidak perlu terpengaruh oleh tren atau tekanan sosial yang menyimpang dari prinsip akidah. Keteguhan hati untuk berada di jalur yang diridhai Allah adalah bentuk ketaatan tertinggi, dan Allah SWT Maha Tahu siapa di antara hamba-Nya yang benar-benar meniti jalan kebenaran tersebut.