Surah Az-Zalzalah (Kegempaan) adalah surah ke-99 dalam Al-Qur'an yang secara spesifik membahas salah satu peristiwa paling dramatis dalam sejarah kosmos: kegempaan bumi pada Hari Kiamat. Ayat 1 hingga 6 memberikan gambaran yang sangat jelas dan mengerikan mengenai momen tersebut, sekaligus menjadi pengingat akan pertanggungjawaban mutlak yang akan dihadapi setiap manusia.
Ayat pertama dan kedua langsung menyajikan gambaran visual yang memukau. "Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat" (Ayat 1) bukanlah guncangan biasa yang sering kita alami. Para mufassir sepakat bahwa ini merujuk pada getaran akhir yang menandai kehancuran total alam semesta dan permulaan Hari Kebangkitan. Keterangan ini diperkuat dengan ayat kedua, "bumi telah mengeluarkan isi beratnya."
Apa isi berat bumi itu? Dalam konteks tafsir, ini bisa berarti dua hal utama. Pertama, bumi memuntahkan semua benda terpendam di dalamnya—harta karun, mayat-mayat yang telah lama dikubur, dan segala rahasia material yang selama ini tersembunyi di perut bumi. Ini adalah simbol dari pengungkapan total atas segala hal yang bersifat fisik dan tersembunyi di permukaan planet ini.
Di tengah kekacauan kosmik tersebut, reaksi manusia digambarkan dengan sangat manusiawi. Mereka terkejut, kebingungan, dan bertanya-tanya, "Ada apa dengan bumi ini?" (Ayat 3). Pertanyaan ini muncul bukan karena mereka tidak tahu akan kiamat, tetapi karena skala dan dahsyatnya peristiwa tersebut jauh melampaui pengalaman mereka.
Keajaiban yang sesungguhnya terletak pada ayat keempat dan kelima. Bumi, yang selama ini menjadi saksi bisu atas setiap perbuatan manusia—baik kebaikan kecil maupun dosa tersembunyi—dipaksa untuk berbicara. "Pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan demikian kepadanya." Ini menunjukkan bahwa alam semesta ini adalah sistem yang terprogram dengan sempurna oleh Allah SWT. Setiap jejak langkah, setiap perkataan, dan setiap tindakan fisik tercatat dan akan diungkapkan melalui media yang paling tidak terduga: bumi itu sendiri. Ini adalah bukti otentik bahwa tidak ada satu pun perbuatan yang terlewatkan dari catatan ilahi.
Ayat keenam berfungsi sebagai kesimpulan dari rangkaian peristiwa goncangan dan kesaksian bumi. Setelah semua disaksikan dan diungkapkan, manusia kemudian dipanggil keluar dari kubur mereka. Frasa "dalam keadaan berkelompok-kelompok" (أَشْتَاتًا) mengindikasikan bahwa mereka tidak akan berkumpul sebagai satu umat yang rapi, melainkan terpisah-pisah sesuai nasib dan amal mereka—ada yang berjalan tertatih, ada yang merangkak, dan ada yang diantar dengan kehormatan.
Tujuan akhir pemanggilan ini sangat jelas: "untuk diperlihatkan kepada mereka balasan atas perbuatan mereka." Ayat-ayat ini menegaskan prinsip keadilan ilahi. Guncangan bumi dan kesaksiannya hanyalah pendahuluan untuk momen penentuan, di mana setiap individu harus menghadapi konsekuensi langsung dari pilihan hidupnya di dunia. Surah Az-Zalzalah, khususnya enam ayat pertamanya, adalah pengingat fundamental mengenai kefanaan dunia dan kepastian hari perhitungan.
Memahami ayat-ayat ini mendorong seorang Muslim untuk selalu berhati-hati dalam setiap tindakan, menyadari bahwa bumi tempat kita berpijak kelak akan menjadi saksi utama pertanggungjawaban kita di hadapan Sang Pencipta.