Kisah Isra Mi'raj adalah salah satu mukjizat terbesar yang dialami oleh Nabi Muhammad SAW. Peristiwa ini diabadikan dalam Al-Qur'an, khususnya dalam surat Al-Isra (atau Bani Israil). Sepuluh ayat pertama dari surat ini menjadi landasan utama yang menggambarkan keagungan Allah SWT dan perjalanan agung tersebut.
Maha Suci (Allah) yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.
Setelah pembukaan mengenai Isra, ayat selanjutnya berbicara tentang pemberian kitab Taurat kepada Nabi Musa AS, dan peringatan kepada Bani Israil mengenai akhlak mereka. Allah SWT mengingatkan bahwa Dia menjadikan Bani Israil pemimpin di muka bumi (untuk periode tertentu) dan memberi mereka kelebihan. Namun, mereka tidak bersyukur dan melakukan kezaliman.
Peringatan keras disampaikan dalam ayat 3, bahwa jika Bani Israil kembali berbuat kerusakan setelah dibebaskan dari perbudakan Firaun, maka keturunan mereka akan dibalas dengan kehinaan dan kehancuran. Ini adalah janji ilahi mengenai konsekuensi dari pembangkangan dan penolakan terhadap kebenaran.
Ayat 4 hingga 6 merinci dua kali kehancuran yang akan menimpa Bani Israil di bumi Palestina. Kali pertama, mereka melakukan kejahatan besar, dan Allah mengirimkan hamba-hamba-Nya yang kuat untuk menghancurkan rumah-rumah mereka, menandai janji pembalasan tersebut.
Kemudian, Allah memberikan kesempatan kedua untuk penebusan, dengan mengutus mereka kembali dan memberi mereka harta serta anak-anak yang banyak. Namun, jika mereka berbuat baik, mereka akan berbuat baik untuk diri mereka sendiri. Jika mereka berbuat jahat, kejahatan itu akan kembali menimpa mereka.
Ayat 7 menegaskan konsekuensi kedua jika mereka kembali berbuat kerusakan: wajah-wajah mereka akan dihina dan mereka akan dihancurkan seperti kehancuran yang pertama kali mereka alami, serta dihancurkan sehancur-hancurnya. Ini menunjukkan betapa seriusnya pelanggaran janji suci.
Namun, rahmat Allah tetap terbuka. Ayat 8 menyatakan bahwa jika mereka bertobat, Allah akan mengasihi mereka. Meskipun demikian, ayat ini juga memberikan catatan bahwa jika mereka mengulang lagi, Allah akan menempatkan mereka dalam api neraka. Ayat ini sekaligus menjadi penutup bagi narasi tentang Bani Israil dalam sepuluh ayat pertama ini.
Setelah membahas sejarah dan siklus kaum terdahulu, ayat 9 dan 10 mengalihkan fokus kepada Al-Qur'an yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW.
Sesungguhnya Al-Qur'an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus dan memberikan kabar gembira kepada orang-orang mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa mereka akan mendapatkan pahala yang besar.
Ayat 9 secara eksplisit menyatakan bahwa Al-Qur'an adalah petunjuk yang mengarahkan manusia pada jalan yang paling benar (aqwam). Jalan ini bukan sekadar tata krama, tetapi jalan akidah, syariat, dan akhlak yang sempurna.
Ayat 10 menutup rentetan ayat ini dengan janji manis bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Mereka dijanjikan pahala yang besar. Ini adalah kontras tajam dengan nasib Bani Israil yang disebutkan sebelumnya; bagi umat Nabi Muhammad SAW, petunjuk yang jelas telah disediakan untuk meraih kebahagiaan abadi.
Sepuluh ayat pertama QS. Al-Isra ini secara ringkas mengisahkan mukjizat perjalanan suci, menyoroti prinsip keadilan ilahi yang berlaku universal terhadap semua umat, dan diakhiri dengan penegasan bahwa Al-Qur'an adalah panduan final dan terbaik bagi kemanusiaan menuju kebenaran dan surga.