Surat Al-Isra, atau dikenal juga sebagai Bani Israil, adalah surat ke-17 dalam urutan mushaf Al-Qur'an. Ayat ke-106 ini ditempatkan setelah rangkaian ayat yang membahas keesaan Allah SWT, kebenaran risalah Nabi Muhammad SAW, dan tantangan terhadap mereka yang meragukan mukjizat Al-Qur'an. Ayat 106 menjadi penutup yang kuat dalam pembahasan tersebut, menegaskan status Al-Qur'an sebagai wahyu ilahi yang memiliki fungsi spesifik bagi manusia.
Ayat ini secara eksplisit menyatakan dua peran utama Al-Qur'an bagi mukminin: sebagai 'syifa' (penyembuh) dan 'rahmah' (rahmat). Kata "syifa" tidak terbatas hanya pada penyembuhan penyakit fisik, meskipun itu termasuk di dalamnya. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa penyembuhan yang dimaksud mencakup penyembuhan penyakit hati, keraguan, kebingungan moral, dan kegelisahan spiritual. Al-Qur'an menawarkan solusi definitif terhadap penyakit-penyakit non-fisik yang seringkali lebih berbahaya daripada penyakit jasmani.
Fungsi penyembuhan Al-Qur'an terwujud ketika seorang hamba membaca, merenungi, dan mengamalkan ajarannya. Dalam konteks zaman modern, di mana tekanan mental dan spiritual semakin tinggi, Al-Qur'an berfungsi sebagai obat penenang jiwa. Ketika seseorang merasa tersesat atau menghadapi krisis eksistensial, petunjuk dari ayat-ayat suci memberikan fondasi yang kokoh. Kepercayaan penuh bahwa Al-Qur'an adalah kalamullah—firman Allah—adalah langkah awal menuju penyembuhan spiritual. Kepercayaan ini membebaskan jiwa dari ketergantungan berlebihan pada hal-hal duniawi yang fana.
Secara historis, banyak riwayat sahabat yang sembuh dari penyakit setelah membaca atau mendengarkan lantunan ayat suci. Meskipun tidak semua penyakit fisik langsung hilang, keyakinan yang ditanamkan oleh ayat-ayat tersebut seringkali memberikan kekuatan adaptif dan ketenangan yang mempercepat proses penyembuhan alami tubuh. Intinya, Al-Qur'an menyembuhkan akar masalah, yaitu rusaknya hubungan antara manusia dengan Penciptanya.
Peran kedua adalah sebagai rahmat. Rahmat berarti kasih sayang, kemudahan, dan karunia. Al-Qur'an adalah rahmat karena ia datang bukan untuk mempersulit, melainkan untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya (seperti yang disinggung dalam ayat sebelumnya di Al-Isra). Rahmat ini termanifestasi dalam bentuk hukum-hukum yang adil, kisah-kisah yang memberikan pelajaran, janji pahala bagi yang taat, dan peringatan yang lembut bagi yang lalai.
Bagi orang yang beriman, setiap ayat yang diturunkan adalah karunia yang harus disyukuri. Mereka menyadari bahwa mendapatkan petunjuk yang jelas mengenai hakikat hidup dan tujuan akhirat adalah nikmat terbesar yang melampaui semua kenikmatan materi.
Ayat ini memberikan kontras tajam: sementara bagi orang beriman ia adalah penyembuh dan rahmat, bagi orang yang zalim—mereka yang menolak kebenaran, menyembunyikan ayat, atau melampaui batas—Al-Qur'an justru hanya menambah kerugian (*khosaran*). Kerugian ini bukan disebabkan oleh Al-Qur'an itu sendiri, melainkan oleh penolakan dan kesombongan mereka terhadap kebenaran yang disajikan.
Ketika seseorang menolak petunjuk yang jelas, ia semakin terjerumus dalam kesesatan, kesombongan, dan penindasan (kezaliman). Al-Qur'an, yang seharusnya menjadi mercusuar, justru menjadi bukti atas keengganan mereka untuk menerima kebenaran. Semakin sering mereka mendengar ayat-ayat ilahi tanpa mau tunduk, semakin bertambah pula penutupan hati mereka, sehingga kerugian spiritual dan akherat mereka semakin besar. Oleh karena itu, mempelajari dan memahami QS Al-Isra ayat 106 mengingatkan kita untuk senantiasa mendekati Al-Qur'an dengan hati yang terbuka, mengharapkan penyembuhan dan rahmat-Nya, bukan justru memperberat timbangan penolakan kita.