Panduan Etika Jalan: Memahami Q.S. Al-Isra Ayat 37

Jalan Kebenaran (Al-Isra: 37)

Pengantar Pentingnya Akhlak dalam Islam

Islam adalah agama yang komprehensif, tidak hanya mengatur ritual ibadah vertikal antara manusia dan Tuhannya, tetapi juga mengatur hubungan horizontal antar sesama manusia dan lingkungan sekitar. Salah satu pilar utama dalam ajaran Islam adalah penekanan kuat terhadap akhlak mulia dan etika sosial. Etika ini seringkali dipaparkan secara eksplisit dalam Al-Qur'an, memberikan pedoman nyata bagi setiap Muslim dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Di antara ayat-ayat yang memberikan arahan jelas mengenai perilaku sehari-hari adalah Q.S. Al-Isra ayat 37. Ayat ini seringkali dikutip dalam konteks peringatan keras terhadap kesombongan, keangkuhan, dan berjalan di muka bumi dengan cara yang tidak patut. Memahami ayat ini berarti memahami batasan-batasan perilaku yang diajarkan untuk menjaga kemuliaan diri dan kehormatan sesama.

Teks dan Terjemahan Q.S. Al-Isra Ayat 37

Ayat ini sangat lugas dalam menyampaikan larangan tegas terhadap sifat-sifat yang merusak hubungan sosial dan spiritual seseorang:

وَلَا تَمْشِ فِي الْأَرْضِ مَرَحًا ۖ إِنَّكَ لَن تَخْرِقَ الْأَرْضَ وَلَن تَبْلُغَ الْجِبَالَ طُولًا
"Dan janganlah kamu berjalan di muka bumi ini dengan sombong, karena sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi dan kamu sekali-kali tidak akan mencapai gunung-gunung (tingginya)." (Al-Isra: 37)

Ayat ini mengandung dua larangan utama yang saling berkaitan, yaitu larangan berjalan dengan kesombongan (marahan) dan penegasan bahwa kesombongan tersebut sia-sia karena keterbatasan manusia.

Analisis Mendalam: Larangan Berjalan dengan Sombong (Marahan)

Kata kunci dalam ayat ini adalah "marahan" (مَرَحًا). Makna aslinya merujuk pada kegembiraan yang berlebihan, keangkuhan, atau berjalan dengan langkah yang menunjukkan rasa superioritas dan kesombongan. Dalam konteks sosial, ini diterjemahkan sebagai sikap meremehkan orang lain, memandang rendah lingkungan sekitar, dan merasa diri paling benar atau paling hebat.

Sikap sombong adalah penyakit hati yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Sombong adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia. Ketika seseorang berjalan dengan gaya "marahan," ia seolah-olah sedang memproklamirkan kekuasaannya yang tidak ia miliki. Islam menuntut kerendahan hati (tawadhu') sebagai lawan dari kesombongan.

Hikmah di Balik Larangan

Allah SWT memberikan penegasan logis mengapa kesombongan itu tidak pantas: "Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan dapat menembus bumi dan kamu sekali-kali tidak akan mencapai gunung-gunung (tingginya)."

  1. Keterbatasan Fisik: Meskipun manusia modern mampu membuat gedung pencakar langit dan menggali terowongan dalam, kekuatan fisik manusia sangat terbatas dibandingkan dengan keagungan ciptaan Allah (bumi dan gunung). Kesombongan menunjukkan ketidaksadaran akan kerapuhan diri.
  2. Keterbatasan Eksistensi: Ayat ini mengingatkan manusia bahwa pada akhirnya, jasad manusia akan kembali ke bumi. Keangkuhan duniawi hanyalah sementara.
  3. Penghargaan Terhadap Diri: Dengan melarang kesombongan, ayat ini mengajarkan bahwa nilai sejati seseorang tidak terletak pada penampilannya atau cara dia berjalan, melainkan pada ketakwaannya dan akhlaknya.

Implikasi Akhlak dalam Kehidupan Sehari-hari

Ayat Al-Isra ayat 37 memiliki dampak besar pada interaksi sosial. Seorang Muslim diajarkan untuk selalu bersikap moderat dalam semua tindakannya, termasuk cara berjalan dan berbicara. Sikap tawadhu’ tercermin dalam:

Menghindari "berjalan dengan marahan" berarti menginternalisasi kesadaran bahwa segala kemampuan dan pencapaian adalah berkat izin Allah. Kesadaran ini secara otomatis akan menyingkirkan benih-benih keangkuhan dari hati.

Penutup: Menjaga Langkah Kaki

Q.S. Al-Isra ayat 37 adalah pengingat abadi bahwa kesombongan adalah penghalang terbesar menuju kebaikan sejati. Ketika kita melangkah di bumi, kita harus menyadari bahwa kita adalah makhluk yang lemah yang berjalan di atas ciptaan Tuhan yang maha luas. Dengan menjaga kerendahan hati, kita tidak hanya mematuhi perintah Ilahi, tetapi juga membuka pintu bagi kedamaian batin dan penerimaan dari sesama manusia. Langkah yang benar adalah langkah yang dibalut oleh kesadaran akan kebesaran Allah dan keterbatasan diri.

🏠 Homepage