Al-Qur'an adalah sumber petunjuk utama bagi umat Islam, memuat berbagai hikmah, hukum, dan pengingat tentang kebesaran serta kekuasaan Allah SWT. Salah satu ayat yang seringkali memberikan perenungan mendalam mengenai alam semesta dan makhluk di dalamnya adalah Surah Al-Isra (Bani Israil) ayat 44. Ayat ini menegaskan bahwa seluruh ciptaan, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat, secara hakikatnya bertasbih (menyucikan) kepada Allah, meskipun manusia seringkali tidak memahami cara penyucian tersebut.
وَاِنْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَانَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا
"Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Isra: 44)Ayat 44 dari Surah Al-Isra ini menyajikan konsep tauhid universal. Ia menyatakan sebuah fakta fundamental dalam kosmologi Islam: semua yang ada—mulai dari bintang di langit, planet, pepohonan, hewan, hingga benda mati—secara aktif dan konstan sedang memuji (bertasbih) kepada Allah. Tasbih di sini berarti pengakuan akan kesempurnaan Allah dan penyucian-Nya dari segala kekurangan.
Pernyataan "tetapi kamu tidak memahami tasbih mereka" adalah poin penting yang memerlukan perenungan. Manusia, dengan keterbatasan indra dan akalnya, hanya dapat menangkap sebagian kecil dari realitas. Kita mendengar burung berkicau di pagi hari, atau gemuruh ombak di lautan, dan mungkin menganggapnya sebagai suara alam biasa. Namun, menurut ayat ini, di balik suara-suara tersebut tersimpan sebuah komunikasi spiritual yang tak terhingga, yaitu pujian dan pengagungan kepada Sang Pencipta.
Memahami QS. Al-Isra ayat 44 memiliki dampak besar pada cara pandang seorang Muslim terhadap alam. Pertama, ia menghilangkan pandangan bahwa alam semesta ini hanyalah kumpulan materi yang mati. Sebaliknya, alam adalah entitas yang hidup secara spiritual dan memiliki hubungan langsung dengan Allah. Ini mendorong seorang mukmin untuk memperlakukan lingkungan dengan rasa hormat dan kesadaran bahwa ia tidak sendirian di antara makhluk-makhluk yang juga beribadah.
Kedua, ayat ini menumbuhkan kerendahan hati (tawadhu). Ketika kita menyadari bahwa seluruh jagat raya sedang sibuk memuji Allah, keangkuhan manusia akan berkurang. Aktivitas ibadah manusia menjadi bagian dari simfoni pujian yang jauh lebih besar dan berkelanjutan yang dilakukan oleh miliaran ciptaan lainnya.
Ayat ini ditutup dengan dua nama indah Allah: Al-Haliim (Maha Penyantun) dan Al-Ghafuur (Maha Pengampun). Mengapa penyebutan sifat ini diletakkan setelah penegasan tentang tasbih seluruh makhluk?
Para mufassir menjelaskan bahwa sifat ini relevan karena meskipun seluruh makhluk bertasbih dengan sempurna, manusia seringkali lalai, bahkan terkadang lupa atau enggan untuk ikut serta dalam pujian tersebut. Kelalaian dan dosa manusia seharusnya mendapatkan hukuman setimpal. Namun, karena Allah adalah Al-Haliim, Dia menahan siksaan-Nya dan memberikan waktu bagi manusia untuk bertaubat. Karena Dia Al-Ghafuur, Dia siap mengampuni setiap kekurangan dalam ibadah dan kelalaian kita. Dengan kata lain, keagungan Allah yang tampak melalui alam semesta seharusnya mendorong kita untuk lebih mendekat, bukan justru menjauh karena merasa kecil.
Karena kita tidak dapat mendengarkan tasbih mereka secara harfiah, respons terbaik kita adalah meneladani semangat mereka. Jika alam tidak pernah berhenti memuji Allah, maka seorang Muslim harus menjadikan dzikir dan syukur sebagai bagian integral dari kehidupan sehari-hari. Setiap tarikan napas, setiap pemandangan indah, setiap kejadian yang membawa pelajaran harus dikonversi menjadi bentuk pujian kepada Allah.
Memahami QS. Al-Isra ayat 44 adalah undangan untuk melihat dunia dengan mata spiritual, menyadari bahwa kita hidup dalam majelis dzikir terbesar yang tak pernah sepi, di mana setiap partikel alam raya menjadi saksi atas keesaan dan kebesaran-Nya. Kesadaran ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas iman, memunculkan rasa syukur yang mendalam, dan mendorong kita untuk terus memohon ampunan-Nya.