Surah Al-Hijr, yang merupakan surah ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak pelajaran penting mengenai keesaan Allah, kisah para nabi, dan peringatan bagi umat manusia. Di antara ayat-ayatnya yang penuh hikmah, terdapat satu ayat yang sering kali menjadi sorotan karena sifatnya yang tegas dan berisi peringatan keras, yaitu **Al-Hijr ayat 90**.
Ayat ini secara spesifik ditujukan kepada mereka yang berpaling dari ajaran tauhid dan cenderung melakukan perbuatan tercela, seperti menyekutukan Allah (syirik) atau melanggar batas-batas syariat yang telah ditetapkan.
Teks dan Terjemahan Al-Hijr Ayat 90
Untuk memahami kedalaman maknanya, mari kita lihat teks aslinya beserta terjemahannya:
Konteks Ayat: Sebuah Peringatan Terstruktur
Ayat 90 ini tidak berdiri sendiri. Ia merupakan penutup dari serangkaian ayat yang membahas tentang kegigihan kaum terdahulu dalam menolak seruan para rasul. Sebelum ayat ini, Allah SWT menceritakan bagaimana setiap umat yang menerima rasul selalu diingatkan dengan bukti-bukti yang nyata (al-bayyināt), yaitu mukjizat dan ajaran yang terang benderang.
Allah mengutus rasul seperti Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad ﷺ, masing-masing dengan bukti yang membedakan antara kebenaran dan kebatilan. Namun, respons yang sering terjadi adalah penolakan keras, pengingkaran, dan bahkan permusuhan.
Ayat 90 menjadi sebuah pertanyaan retoris yang sangat menggigit. Ketika kebenaran telah disajikan dengan bukti yang tak terbantahkan, mengapa mereka tetap memilih jalan dosa? Pertanyaan ini memaksa pembaca untuk merenungkan konsekuensi dari penolakan tersebut.
Makna "Orang-Orang yang Berbuat Dosa" (Al-Mujrimīn)
Istilah al-mujrimīn (orang-orang yang berbuat dosa) dalam konteks ini mencakup spektrum kesalahan yang luas, namun penekanannya adalah pada dosa besar yang mengancam pondasi keimanan, yaitu kekafiran dan kesyirikan. Mereka adalah orang-orang yang:
- Menolak petunjuk yang dibawa oleh para rasul.
- Lebih memilih mengikuti hawa nafsu dan kesenangan duniawi yang fana.
- Menganggap remeh peringatan tentang hari pembalasan.
Kesudahan mereka digambarkan secara implisit: kehancuran dan azab yang setimpal. Ayat ini mengingatkan bahwa Allah tidak pernah menyiksa suatu kaum tanpa memberikan peringatan terlebih dahulu. Kehadiran al-bayyināt (bukti-bukti nyata) menjadi landasan keadilan ilahi.
Relevansi Al-Hijr Ayat 90 untuk Umat Kontemporer
Meskipun konteks historis ayat ini merujuk pada umat-umat terdahulu, relevansinya sangat kuat bagi umat Islam saat ini. Di era informasi yang serba cepat, ajaran Islam yang murni sering kali dicampuradukkan atau bahkan ditolak atas nama modernitas atau pemikiran rasional semata.
Al-Hijr ayat 90 berfungsi sebagai cermin: Jika para pendahulu dihukum karena menolak kebenaran yang datang melalui lisan para rasul, bagaimana nasib kita yang memiliki Al-Qur'an—kitab suci yang utuh dan terjamin kebenarannya—namun terkadang masih mengabaikannya?
Pertanyaan, "Maka bagaimanakah (kesudahan) orang-orang yang berbuat dosa itu?" harus dijawab dengan introspeksi diri. Kesudahan itu adalah neraka dan kehinaan, sebagaimana yang telah dialami oleh kaum 'Ad, Tsamud, dan Fir'aun, yang kesombongan mereka membuat mereka menutup mata dari bukti-bukti Allah.
Pentingnya Ketaatan Setelah Mendapat Petunjuk
Pesan inti dari Al-Hijr ayat 90 adalah urgensi untuk segera bertindak setelah kebenaran itu tampak jelas. Tidak ada lagi alasan untuk menunda keimanan atau melakukan perbaikan (tawbat). Ketika bukti-bukti ketuhanan terhampar di alam semesta, melalui fenomena alam, melalui mukjizat nabi, dan melalui ayat-ayat Al-Qur'an, maka penundaan adalah bentuk perbuatan dosa itu sendiri.
Oleh karena itu, ayat ini menutup pembahasan dengan memberikan penekanan bahwa pintu maaf masih terbuka bagi yang mau kembali, namun bagi yang terus-menerus berbuat dosa dengan kesadaran penuh setelah melihat petunjuk, maka kesudahan mereka telah diperingatkan dengan sangat jelas.