Kandungan QS. Al-Maidah Ayat 2 dan 3: Prinsip Tolong Menolong Umat Islam

Surat Al-Maidah (Al-Hidangan) adalah salah satu surat Madaniyah yang kaya akan ajaran hukum, etika sosial, dan prinsip-prinsip fundamental dalam kehidupan seorang Muslim. Khususnya pada ayat 2 dan 3, Allah SWT memberikan panduan tegas mengenai bagaimana seharusnya hubungan sosial antarumat manusia, terutama dalam konteks kebaikan dan keadilan.

Ilustrasi Saling Membantu Diagram dua tangan saling menggenggam di bawah panah ke atas, melambangkan kerjasama dan kebaikan.

Teks dan Terjemahan QS. Al-Maidah Ayat 2

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Terjemahan Ayat 2: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi'ar-syi'ar Allah, dan jangan pula melanggar kehormatan bulan Haram, jangan pula mengganggu binatang-binatang korban (yang dibawa ke Baitullah), dan jangan pula mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari karunia dan keridaan dari Tuhannya, dan apabila kamu telah menghalalkan ihram, maka burulah (binatang buruan). Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, karena mereka telah menghalangimu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya. Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah; sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya."

Prinsip Agung: Ta'awun (Tolong Menolong)

Ayat kedua surat Al-Maidah ini diawali dengan larangan-larangan yang berkaitan dengan ritual ibadah haji dan penghormatan terhadap Baitullah, namun puncaknya terletak pada perintah fundamental di bagian akhir: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran." Ayat ini adalah fondasi utama etika sosial Islam yang dikenal sebagai konsep Ta'awun (saling membantu).

Perintah ini bersifat universal. Allah SWT memerintahkan umat-Nya untuk saling mendukung dalam setiap aktivitas yang mengandung unsur Birr (kebaikan, kebajikan, amal saleh) dan Taqwa (kesalehan, ketakutan kepada Allah). Kebaikan di sini mencakup segala aspek kehidupan, mulai dari membantu tetangga yang membutuhkan, menasehati dengan cara yang baik, menegakkan keadilan, hingga menyebarkan ilmu yang bermanfaat.

Sebaliknya, ayat ini memberikan peringatan keras agar umat Islam menjauhi kerjasama dalam Itsm (dosa) dan 'Udwān (pelanggaran/kezaliman). Kerjasama dalam dosa berarti bersekutu dalam perbuatan maksiat, penipuan, korupsi, atau segala bentuk perbuatan yang melanggar batas-batas syariat. Menariknya, ayat ini menghubungkan larangan berbuat aniaya (yang sering kali timbul karena dendam) dengan perintah tolong-menolong dalam kebaikan. Artinya, meskipun terdapat permusuhan masa lalu (seperti penghalangan dari Masjidilharam), kebencian tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menolak berbuat baik atau, lebih buruk lagi, untuk melakukan kezaliman balasan.

Teks dan Terjemahan QS. Al-Maidah Ayat 3

الْيَوْمَ أُكْمِلَ لَكُمْ دِينُكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Terjemahan Ayat 3: "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam itu jadi agamamu. Maka barangsiapa terpaksa karena kelaparan dan bukan karena ingin membuat dosa, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Kesempurnaan Islam dan Kelonggaran di Bawah Tekanan

Ayat ketiga dari surat Al-Maidah seringkali disebut sebagai ayat penutup risalah (kesempurnaan ajaran). Frasa "Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu" menegaskan bahwa ajaran Islam, sebagai sebuah sistem kehidupan, telah lengkap dan memadai untuk membimbing manusia menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Nikmat Allah SWT telah dicurahkan secara sempurna melalui wahyu-Nya.

Namun, kesempurnaan ini tidak menghilangkan sifat rahmat dan kemudahan dalam agama. Ayat ini langsung memberikan kelonggaran (rukhsah) bagi mereka yang berada dalam kondisi darurat ekstrem. Jika seseorang terpaksa memakan makanan yang dilarang (seperti bangkai atau daging babi) karena keadaan makhmasah (kelaparan berat) dan ia tidak melakukannya dengan niat untuk berbuat dosa (yakni, bukan karena sengaja melanggar atau mencari-cari celah), maka Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.

Keterkaitan Ayat 2 dan Ayat 3

Meskipun ayat 2 dan 3 tampak membahas tema yang sedikit berbeda (etika sosial vs. kesempurnaan syariat), keduanya memiliki benang merah yang kuat dalam konteks pemahaman Islam:

  1. Landasan Syariat yang Sempurna: Kesempurnaan agama (Ayat 3) menjadi dasar bagi penetapan aturan sosial seperti larangan bersekutu dalam dosa (Ayat 2).
  2. Rahmat di Tengah Ketegasan: Ayat 2 menetapkan batasan yang tegas (jangan berbuat zalim), sementara Ayat 3 menunjukkan bahwa di balik ketegasan hukum, ada keluasan kasih sayang Allah yang mengantisipasi kondisi darurat manusiawi.

Dengan demikian, QS. Al-Maidah ayat 2 dan 3 mengajarkan umat Islam untuk hidup secara harmonis, saling mendukung dalam kebaikan, menjauhi kolaborasi dalam keburukan, sambil senantiasa mengingat bahwa agama yang mereka anut adalah agama yang sempurna namun penuh dengan rahmat bagi mereka yang berada dalam kesulitan yang tidak disengaja.

🏠 Homepage