Surah Az-Zalzalah, yang berarti "Kegoncangan," adalah salah satu surah pendek namun memiliki makna yang sangat mendalam dalam Al-Qur'an. Surah ini terletak di Juz ke-30 dan terdiri dari delapan ayat. Fokus utama surah ini adalah menggambarkan peristiwa dahsyat yang akan terjadi pada Hari Kiamat, sebuah hari di mana seluruh semesta akan mengalami guncangan luar biasa.
Ayat pertama dan kedua dari surah ini langsung membawa kita pada deskripsi momen paling dramatis dalam sejarah alam semesta: saat bumi mengeluarkan semua beban dan rahasianya. Memahami kedua ayat ini adalah kunci untuk merenungkan kebesaran Allah SWT dan kepastian adanya hari pertanggungjawaban.
Berikut adalah teks asli Arab beserta terjemahannya untuk dua ayat pertama Surah Az-Zalzalah:
Ayat pertama, "Idzaa zulzilatil ardhu zilzaalahaa," menggunakan kata kerja "zulzilat" yang menunjukkan suatu goncangan yang sangat keras dan menyeluruh. Kata "zilzaalahaa" (guncangan yang dahsyat) menekankan intensitas peristiwa tersebut. Ini bukanlah gempa bumi biasa yang kita alami di dunia, melainkan guncangan fundamental yang menandai berakhirnya kehidupan duniawi dan dimulainya Hari Kebangkitan. Guncangan ini akan meruntuhkan gunung-gunung hingga menjadi debu dan meratakan segala bangunan yang ada.
Ayat kedua, "Wa akhrajatil ardhu atsqaalahaa," menjelaskan dampak langsung dari guncangan tersebut. Bumi akan mengeluarkan semua "atsqaalahaa" (berat-beratnya atau isi perutnya). Para mufassir menafsirkan ini dalam beberapa cara. Salah satunya adalah bumi akan memuntahkan segala sesuatu yang terpendam di dalamnya, baik itu mayat-mayat manusia yang telah mati sejak awal penciptaan hingga akhir zaman, maupun harta karun tersembunyi.
Pada momen ini, bumi bersaksi atas segala perbuatan yang pernah dilakukan di permukaannya. Tidak ada satu pun kejahatan, kebaikan, niat tersembunyi, atau rahasia yang bisa disembunyikan lagi. Semua akan terungkap dan menjadi bukti di hadapan Allah SWT. Renungan ini seharusnya mendorong kita untuk selalu sadar bahwa setiap tindakan kita dicatat dan akan dimintai pertanggungjawaban.
Deskripsi kengerian hari itu seharusnya tidak membuat kita putus asa, melainkan menjadi motivasi untuk berintrospeksi. Surah Az-Zalzalah mengingatkan kita akan kefanaan dunia dan kekekalan akhirat. Ketika bumi yang selama ini menjadi pijakan kita dengan kokoh tiba-tiba bergoncang hebat, semua urusan duniawi—harta, jabatan, kekuasaan—menjadi tidak berarti sama sekali.
Kepanikan yang dialami manusia pada hari itu digambarkan pada ayat selanjutnya: "Dan manusia berkata, 'Mengapa bumi ini menjadi begini?'" (QS. Az-Zalzalah: 3). Pertanyaan retoris ini muncul karena realitas yang mereka saksikan sangat berbeda dengan apa yang mereka alami selama hidup di dunia.
Oleh karena itu, persiapan terbaik menghadapi guncangan hari kiamat adalah dengan mempersiapkan amal saleh saat ini. Ketika bumi mengeluarkan segala isinya, termasuk mayat-mayat yang dibangkitkan, kesadaran akan persaksian bumi ini harus mendorong kita untuk hidup dengan integritas dan keikhlasan. Ayat 1 dan 2 Az-Zalzalah adalah pengingat visual yang kuat tentang batas akhir dari kehidupan yang fana ini.
Mempelajari dan merenungkan QS. Al-Zalzalah ayat 1 dan 2 memberikan perspektif yang jelas mengenai hari akhir. Ini adalah pengingat universal bahwa setiap permukaan yang kita injak dan setiap materi yang kita miliki suatu saat akan menjadi saksi atas segala perbuatan kita. Dengan kesadaran ini, seorang mukmin berusaha untuk selalu berada dalam ketaatan, mengharapkan rahmat Allah SWT di hari yang dahsyat tersebut.