Surat Al Hijr, yang merupakan surat ke-15 dalam Al-Qur'an, menyimpan banyak pelajaran berharga mengenai tauhid, kisah para nabi, dan sifat-sifat Allah SWT. Di antara ayat-ayat yang penuh ketenangan dan harapan tersebut, ayat ke-50 menonjol sebagai penyejuk hati. Ayat ini merupakan perintah langsung dari Allah SWT kepada Rasulullah Muhammad SAW untuk menyampaikan kabar gembira kepada seluruh umat manusia.
Perintah dalam Al Hijr ayat 50 ini mengandung dua pilar utama sifat ilahi yang sangat penting bagi seorang mukmin: Al-Ghafur (Maha Pengampun) dan Ar-Rahim (Maha Penyayang).
Aspek "Al-Ghafur" menegaskan bahwa meskipun manusia seringkali terjerumus dalam kesalahan dan dosa—sebagaimana digambarkan dalam konteks ayat-ayat sebelumnya yang membahas peringatan keras terhadap kaum yang mendustakan—rahmat ampunan Allah jauh lebih luas daripada kedalaman kesalahan mereka. Ini adalah janji bahwa pintu taubat selalu terbuka. Pengampunan Ilahi bukan hanya berarti menghapus dosa, tetapi juga membersihkan catatan amal sehingga seorang hamba bisa kembali memulai lembaran baru tanpa beban masa lalu yang menghantuinya. Ayat ini memberikan harapan optimis bahwa tidak ada dosa yang terlalu besar untuk diampuni, selama hamba tersebut benar-benar kembali kepada-Nya dengan penyesalan yang tulus.
Jika Al-Ghafur berfokus pada penghapusan hal negatif (dosa), Ar-Rahim berfokus pada pemberian kebaikan positif (rahmat). Kasih sayang Allah mencakup seluruh eksistensi, mulai dari pemberian nikmat untuk kehidupan di dunia—napas, rezeki, kesehatan—hingga persiapan pahala dan surga di akhirat. Dalam konteks ayat ini, kasih sayang tersebut terwujud dalam bentuk kemudahan untuk diterima kembali oleh Sang Pencipta. Allah tidak hanya memaafkan, tetapi juga menyayangi orang yang bertaubat, memberikan kemudahan dalam ibadah, dan melimpahkan berkah.
Fungsi utama dari penyampaian pesan dalam Al Hijr ayat 50 ini adalah menstabilkan kondisi spiritual umat. Di satu sisi, Al-Qur'an keras dalam memberikan peringatan (seperti yang terjadi pada kaum Luth atau Tsamud), namun di sisi lain, Allah senantiasa membuka jendela harapan.
Bagi seorang Muslim yang sedang berjuang melawan hawa nafsunya, ayat ini berfungsi sebagai jangkar. Ia mengingatkan bahwa tujuan dakwah dan ajaran Islam bukanlah untuk menakut-nakuti secara permanen, melainkan untuk menarik hamba kembali ke pelukan kasih sayang Tuhan. Rasa takut akan siksa (yang mendorong menjauhi maksiat) harus selalu diseimbangkan dengan rasa cinta dan harapan akan ampunan (yang mendorong untuk bertaubat dan berbuat baik).
Ayat ini mengajarkan pentingnya perspektif. Ketika kita melihat betapa luasnya pengampunan Allah, kita didorong untuk lebih berani menghadapi tantangan hidup, karena kita tahu bahwa kegagalan dalam amal atau kesalahan moral bukanlah akhir dari segalanya. Selama nafas masih ada, kesempatan untuk meraih ampunan-Nya melalui sifat Al-Ghafur dan Ar-Rahim tetap terbuka lebar.
Ayat 50 datang setelah ayat-ayat yang berbicara tentang penolakan keras kaum kafir Mekkah terhadap kerasulan Nabi Muhammad SAW, bahkan menyarankan agar Nabi menyingkirkan orang-orang lemah yang mengikutinya (ayat 14). Dalam konteks penolakan dan ejekan tersebut, perintah untuk mengabarkan bahwa Allah Maha Pengampun adalah bentuk ketegasan sekaligus kasih sayang. Allah tidak meninggalkan hamba-hamba-Nya yang beriman meskipun mereka direndahkan oleh kaum musyrikin. Justru kepada merekalah janji kebaikan dan ampunan ini ditujukan. Ini memperkuat mental para sahabat Nabi, meyakinkan mereka bahwa meski dunia menolak, Sang Pencipta alam semesta tidak pernah menolak mereka.