Surat Al-Isra, atau yang juga dikenal sebagai Bani Israil, adalah salah satu surat Makkiyah dalam Al-Qur'an yang sarat dengan hikmah, peringatan, dan kabar gembira bagi umat Islam. Surat ke-17 ini memiliki cakupan pembahasan yang luas, mulai dari keagungan Allah SWT, kisah perjalanan malam Nabi Muhammad SAW (Isra' Mi'raj), hingga prinsip-prinsip etika sosial dan moralitas yang fundamental.
Keagungan Allah dan Isra' Mi'raj
Pembukaan surat ini langsung menyoroti kemahabesaran Allah SWT, dengan menegaskan bahwa Dialah yang telah memperjalankan hamba-Nya (Nabi Muhammad SAW) dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa pada malam hari. Peristiwa Isra' Mi'raj ini bukan sekadar perjalanan fisik, tetapi juga penegasan status kenabian dan penguatan iman di tengah tantangan kaum Quraisy. Ayat pertama surat ini merupakan dalil utama mengenai keajaiban tersebut.
Setelah menegaskan kebenaran kisah tersebut, surat Al-Isra mengalirkan pembahasan tentang pentingnya memahami ayat-ayat Allah dan bersyukur. Konteks Makkiyah dari surat ini menunjukkan bahwa tujuan utamanya adalah menancapkan tauhid dan mempersiapkan hati kaum mukminin untuk menghadapi kesulitan dalam penyebaran risalah.
Peringatan Mengenai Kesombongan dan Kekufuran
Surat Al-Isra juga mengandung kisah teladan tentang umat-umat terdahulu yang dihancurkan karena kesombongan dan penolakan terhadap petunjuk Ilahi. Allah SWT mengingatkan manusia bahwa kekuasaan dan kekayaan yang dimiliki hanyalah titipan sementara. Ayat-ayat ini berfungsi sebagai cermin bagi mereka yang merasa diri superior dan melupakan akhirat.
Prinsip Etika Sosial dalam Al-Isra
Salah satu fokus utama Al-Isra yang sangat relevan hingga kini adalah ajaran moral dan etika sosial. Surat ini merangkum sepuluh perintah dasar yang sering disebut sebagai "Sepuluh Perintah Tuhan" dalam beberapa tafsir, yang mencakup larangan syirik, berbuat baik kepada kedua orang tua, menjaga hak anak yatim, menepati janji, dan berlaku adil dalam segala urusan.
Perlakuan terhadap orang tua mendapatkan penekanan khusus. Allah berfirman, "Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya." Penekanan ini menunjukkan bahwa hubungan vertikal dengan Allah harus selaras dengan hubungan horizontal terhadap sesama manusia, dimulai dari unit terkecil, yaitu keluarga.
Larangan Perbuatan Keji dan Korupsi
Selain perintah positif, Al-Isra memberikan larangan tegas terhadap perbuatan-perbuatan yang merusak tatanan sosial dan moral. Di antaranya adalah larangan membunuh anak karena kemiskinan (sebuah praktik yang umum di masa Jahiliyah), larangan mendekati zina, dan larangan berlaku curang dalam takaran dan timbangan. Ayat tentang larangan mendekati zina menyoroti pentingnya menjaga kesucian diri, yang merupakan fondasi masyarakat yang sehat.
Larangan mencuri juga diperkuat dengan penekanan bahwa harta benda orang lain adalah hak yang harus dijaga. Lebih lanjut, Surat Al-Isra mengajarkan tentang moderasi dalam berinfak; jangan terlalu pelit hingga menelantarkan kebutuhan, namun jangan pula berlebihan hingga menjadi pemboros.
Keadilan dan Tanggung Jawab Individual
Surat Al-Isra menegaskan prinsip akuntabilitas individual. Setiap jiwa memikul tanggung jawabnya sendiri. Tidak ada jiwa yang memikul dosa jiwa yang lain. Prinsip ini sangat penting untuk mencegah mentalitas saling menyalahkan dan mendorong setiap individu untuk memperbaiki dirinya sendiri.
Juga disinggung mengenai konsep penguasaan ilmu pengetahuan. Allah SWT berfirman, "Katakanlah: 'Sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, niscaya habis sebelum kata-kata Tuhanku itu habis, biarpun Kami datangkan bahan sebanyak itu pulanya.'" Pesan ini adalah dorongan untuk terus belajar dan menyadari keterbatasan ilmu manusia dibandingkan keluasan ilmu Allah.
Penutup dan Hikmah Akhir
Secara keseluruhan, Surat Al-Isra adalah konstitusi etika yang komprehensif. Ia mengikat antara pengalaman spiritual tertinggi (Isra' Mi'raj) dengan tuntutan praktik kehidupan sehari-hari. Pembacaan dan perenungan surat ini seharusnya memotivasi seorang Muslim untuk hidup selaras dengan kehendak Ilahi, baik dalam hubungan personal, keluarga, maupun sosial. Keberanian Nabi dalam perjalanan malam adalah simbol keberanian spiritual, sementara perintah-perintah etis adalah peta jalan untuk membangun peradaban yang adil berdasarkan wahyu.